Rafa dan Kepedulian terhadap Sampah Elektronik

Sebagai aksi nyata untuk menanggulangi permasalahan sampah elektronik, Rafa Jafar menginisiasi gerakan E-Waste. Kisah inspiratifnya pantas kamu simak nih.

Rafa dan Kepedulian terhadap Sampah Elektronik
Rafa Jafar dan E-Waste Dropbox yang digagasnya. (Thepicta.com)

Inibaru.id – Alat-alat elektronikmu akan kamu apakan setelah nggak terpakai?

Menurut penelitian United Nations University yang dikutip dari Liputan6.com, jumlah sampah elektronik di Asia pada 2015 sudah setara dengan 2,4 kali lipat berat Piramida Agung, lo. Jumlah ini diperkirakan akan bertambah pada 2018 ini. Padahal, sampah elektronik berbahaya karena mengandung racun, terutama dari baterai. Efek terburuknya adalah menyebabkan kerusakan sistem saraf otak dan cacat.

Sebagai salah satu aksi nyata untuk mengatasi hal tersebut, Rafa Jafar, siswa SMP Labschool, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan menginisasi gerakan E-Waste Dropbox. Dilansir dari Beritagar.id, dia menyediakan kotak hijau sebagai wadah sampah elektronik untuk kemudian didaur ulang.

Baca juga:
Hamzah Izzulhaq, Muda-muda Pintar Usaha
Peduli Lingkungan dengan Cabuti Paku di Pohon

Gerakan ini bermula dari tugas sekolahnya untuk membuat laporan saat ia duduk di bangku kelas 5 SD. Kala itu, Rafa berfokus pada isu pengunaan berlebihan alat-alat elektronik. Bersama teman-temannya, dia melakukan riset dan melakukan percobaan dengan gawainya.

Atas saran kakeknya, dia berusaha mengembangkan laporannya menjadi sebuah buku. Dia pun mencari banyak referensi dan berkomunikasi dengan para pengurus sampah elektronik. Namun, Rafa sempat kesulitan memfokuskan diri untuk menulis. Untuk mengatasinya, dia menginap beberapa kali di hotel agar bisa berkonsentrasi menyelesaikan riset.

Pada Februari 2015 terbit buku pertamanya, E-Waste: Sampah Elektronik. Lalu, pada tahun berikutnya, gerakan E-Waste Dropbox mulai dilakukan.

Sampah-sampah elektronik yang terkumpul akan dikelola dan dipisah-pisahkan oleh Rafa sebelum disalurkan ke pengelola limbah. PT Tes-Amm Indonesia akan mendaur ulang sampah-sampah tersebut menjadi barang yang bisa dipakai kembali.

Baca juga:
Hari Gini di Bengkulu Guru Dibayar Seribu Rupiah Per Hari?
Duo Mahasiswi Kita Penakluk Puncak Dunia

Meskipun dropbox baru terbatas pada beberapa lokasi, masyarakat yang ingin menyalurkan sampah elektroniknya bisa mengirimkan sampah tersebut ke sekretariat E-Waste.

“Pilihlah gawai yang tahan lama dan bisa dipakai dua hingga tiga tahun,” ujar Rafa.

Nah, Millens, yuk kita mulai menerapkan langkah sederhana ini. (AYU/SA)