Republik Aeng-Aeng, Wadahnya Aspirasi Nyeleneh

Republik Aeng-Aeng, Wadahnya Aspirasi Nyeleneh
Republik Aeng-Aeng menggelar aksi tertawa massal di acara Car Free Day. (voaindonesia.com)

Mayor Haristanto melawan pakem pemikiran masyarakat dengan mendirikan Republik Aeng-Aeng, wadah aspirasi yang beda dari yang lain. Dianggap sebagai “orang gila” juga nggak masalah, asal gagasan bisa tersampaikan.

Inibaru.id –  Aeng Aeng bermakna nganeh-nganehi. Unik tapi positif, edukatif, dan menghibur. Mayor menyebutnya sebagai OTB alias organisasi tanpa bentuk.

Didirikan tahun 2002, Republik Aeng-Aeng merupakan wadah bagi ide-ide kreatif Mayor Haristanto. Jenuh dengan penyampaian aspirasi yang begitu-gitu saja, setiap aspirasi yang diserukan lewat corong Republik Aeng-Aeng dibuat unik dan nyeleneh.

Jalan, mall, stadion, lapangan, pasar, dan sawah menjadi tempatnya berkarya. Ia berprinsip keluar dari pakem pemikiran orang pada umumnya. Lalu, apa saja, ya, aksi unik Republik ini?

Nah, sebagai Presiden, Mayor memprakarsai pelbagai aksi nyeleneh yang sarat akan pesan sosial. Topik yang dipilih juga nggak sembarangan, dia selalu mengamati isu yang sedang berkembang di Indonesia, “Setiap hari saya baca sampai tujuh koran agar tahu isu,” ujar Mayor seperti dikutip dari tribunnews.com (23/8/2011).

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2012/11/04/110845/670x335/dulang-suara-di-solo-rustriningsih-gandeng-mayor-haristanto.jpg

Mayor Haristanto. (Goal.com)

Contohnya aksi anak TK menolak ikut kampanye politik, warga Solo mengepel city walk, sosialisasi pemilu nyontreng di KA Prameks, pedagang Pasar Gede upacara bendera, anak Solo pesta bendera, piknik orang-orang jompo ke mal dan masih banyak lagi aksi lain.

“Di otak saya ini penuh uneg-uneg. Kalau tidak dikeluarkan, saya bisa sakit. Prinsip saya menyampaikan aspirasi adalah menghibur dan edukatif,” kata pria pria berusia 59 tahun tersebut.

Setiap kali melakukan berbagai aksi nyleneh, pria yang memiliki dua anak ini mengaku menggunakan kocek pribadi. Namun karena alasan kepuasan batin, dia nggak masalah mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu untuk membuat berbagai alat untuk aksi.

Berbagai macam aksi Mayor melalui Republik Aeng Aengnya dinantikan masyarakat dan didukung pemerintah kota Solo. Pasalnya, aksi tersebut jadi hiburan dan menyemarakkan suasana kota.

Well, Republik Aeng-Aeng unik juga, sobat Millens. Penyampaian aspirasi yang nggak terlalu serius malah makin “ngena” bukan? (MG13/E05)