Punya Kurikulum Merdeka, Ponpes Gelar Mengaji via Facebook dan Youtube

Punya Kurikulum Merdeka, Ponpes Gelar Mengaji via Facebook dan Youtube
Ilustrasi mengaji luring. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Peralihan mengaji luring menjadi daring membuat beberapa pondok pesantren mengalami bongkar pasang jam belajar dan teknis pembelajaran. Dampaknya, kurikulum  juga ikut berubah.

Inibaru.id – Selama hampir empat bulan, para santri terpaksa mengaji dari rumah akibat pandemi. Hal inilah yang diungkapkan oleh KH Ulil Albab Syaichun, pengasuh pondok pesantren Al-Ikhlas Pedurungan Semarang. Selama itulah, pihaknya mengalihkan kegiatan belajar mengajar mengajar dari luring menjadi daring.

Kiai yang akrab dipanggil Gus Ulil ini mengaku selama beberapa bulan terakhir menerapkan ngaji daring melalui Facebook atau saluran Youtube. Menurutnya, hal ini sama saja dengan mengaji luring, malah lebih mudah dan praktis karena bisa diputar ulang.

“Sama saja, secara langsung kan mereka menyimak dan mendengarkan, kalau ngantuk tinggal diputar ulang, hehe,” selorohnya.

Kenaikan tingkat terpaksa ditunda. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Kenaikan tingkat terpaksa ditunda. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Kyai yang juga ketua Rabithah Ma'ahid al Islamiyah (RMI) Kota Semarang ini mengatakan bahwa dirinya mengembalikan sistem pembelajaran pondok pesantren NU pada masing-masing pengasuh. Toh menurutnya saat ini banyak santri yang bisa membantu kiai yang mungkin kesulitan melakukan ngaji daring untuk melakukan siaran.

Kenaikan Tingkat Tertunda

Sementara itu, lurah pondok Al Marufiyyah Ade Sucipto Mengatakan bahwa pandemi membuat pembelajaran nggak bisa dilakukan seperti biasanya karena adanya keterbatasan. Salah satunya adalah ketiadaan setoran yang nggak mungkin dilakukan secara daring. Karena itu, pengurus pondok hanya menyelenggarakan ngaji kitab-kitab umum yang bisa diikuti oleh siapapun.

“Hal-hal yang bersifat setoran atau hal yang berkaitan ditiadakan. Kitabnya juga kitab umum yang bisa dikaji siapapun,” ujar Ade.

Untuk itu pengasuh kedua pesantren ini melakukan modifikasi terhadap sistem permbelajaran yang juga berpengaruh pada kurikulum. Seperti di Al Marufiyyah, sistem pengajian dibuat secara umum dan bukan per kelas.

“Seperti mengaji kitab kilatan raudahatul nasikhi atau Irsyadul Ibad dengan alternatif kilatan supaya tetap ada kegiatan pengajian,” tambahnya.

Ilustrasi kegiatan santri. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Ilustrasi kegiatan santri. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Namun menurut Gus Ulil hal ini bukan merupakan hal yang besar mengingat setiap pondok pesantren bebas menetukan kurikulumnya sendiri. Dia mengaku di pondok binaannya ada keterlambatan kenaikan kelas. Tapi, hal tersebut nggak menjadi masalah.

“Ponpes dari dulu adalah pendidikan merdeka, kurikulumnya merdeka, sehingga pesantren dengan keadaan seperti ini bisa lebih luwes nggak seperti pendidikan formal,” tegas Gus Ulil.

Dari peristiwa ini, baik Gus Ulil maupun Ade berharap agar para santri nggak kehilangan semangat belajarnya dan nggak kehilangan adabnya sebagai seorang santri.

“Seluruh santri dimana pun agar menjaga akhlak, perilaku, dan tutur kata dan mencerminkan akhlak seorang santri,” tutup Ade.

Semoga semangat mengaji para santri nggak luntur ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)