Puluhan Pemudik Datang, Begini Cara Pemerintah Desa Ngrapah Cegah Perantau Lainnya Ikutan

Puluhan Pemudik Datang, Begini Cara Pemerintah Desa Ngrapah Cegah Perantau Lainnya Ikutan
Wargiyati dan perangkat desa lain tengah memperagakan salam sehat. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Kepala Desa Ngrapah Wargiyati mengganggap pemudik bisa jadi masalah baru bagi desa. Agar masyarakat di perantauan nggak mudik, dia memberikan pilihan karantina bagi pemudik yang membandel. Gimana kisahnya?

Inibaru.id - Di tengah imbauan pemerintah agar masyarakat supaya nggak mudik, masih ada saja masyarakat yang membandel dan tetap ingin mudik. Salah satunya adalah warga Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Wargiyati, Kepala Desa Ngrapah mengaku setidaknya 30 pemudik sudah datang dari perantauan per Senin (6/4).

Dari puluhan pemudik tersebut, beberapa orang merupakan korban PHK. Mereka terpaksa pulang karena nggak bisa membiayai hidup di rantau. Untungnya pemerintah Desa Ngrapah telah mempersiapkan tim yang bertugas ngopeni pemudik.

“Kalau  sekarang bisa diantisipasi bu bidan dan Bhabinkamtibmas keliling ke rumah warga yang kedatangan pemudik,” tutur Wargiyati yang juga merupakan Ketua DPP Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia ini.

Pilih Tunda Mudik atau Karantina

Meskipun telah mempersiapkan segala perangkat yag dibutuhkan, Wargiyati juga berkoordinasi pada kepala 11 dusun di bawah komandonya. Salah satunya adalah Solikin, Kepala Dusun Gadingan yang kala itu saya temui.

Solikin mengaku beberapa warganya yang merantau di luar daerah telah dia imbau untuk mengikuti protokol kesehatan yang berlaku dengan menunda mudik.

“Kita kasih pilihan. Jika mereka pulang maka akan dikarantina. Kalau nggak mau ya silakan agar tetap di daerah kerjanya,” turut lelaki berpostur tegap ini.

Poster pengumuman yang dipasang di berbagai sudut kampung. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Poster pengumuman yang dipasang di berbagai sudut kampung. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Selain itu, dia mengaku dalam memberikan imbauan kepada warganya yang ada di rantau nggak menemui hambatan yang berarti. Mereka yang berada di zona merah seperti Jakarta dan Tangerang memutuskan untuk menunda mudik.

“Tanggapan mereka sangat baik mendukung kita semua, mendukung kesehatan kita semua. Yang di Jakarta dan Tangerang mau supaya nggak mudik tahun ini. Kalau ngeyel nggak manut, Saya bilang nanti daripada dikarantina,” pungkasnya.

Alur Pemeriksaan Pemudik

Kekhawatiran terkait penularan virus corona membuat desa membentuk tim khusus. Dalam pelaksanaannya, Wargiyati mengaku melibatkan bidan desa, Bhabinkabtibmas, serta perangkat desa yang lain.

Pemantauan pemudik yang baru saja datang dari perantauan cukup rumit dan membutuhkan kerja sama yang kompak. Begitu pemudik datang langsung didata oleh kepala dusun berupa nama dan nomor ponsel untuk dilaporkan ke Bhabinkabtibmas dan bidan desa. Sesaat kemudian pemudik bakal didatangi rumahnya dan diukur suhunya oleh bidan desa sebagai screening awal.

“Pernah pak kadus langsung lapor warga yang datang dari rantau. KTP difoto dan dikirim. Bu bidan menindaklanjuti dengan datang ke kediaman pemudik untuk memeriksa. Jika hasilnya sehat maka diputuskan untuk isolasi mandiri selama 14 hari,” kenang Wargiyati.

Dari 30 pemudik yang datang, beberapa sedang menjalani isolasi mandiri dan beberapa di antaranya sudah dinyatakan sehat sehingga bisa beraktivitas seperti biasanya. Karena sudah teratasi, tempat yang sedianya dipersiapkan untuk karantina belum digunakan.

“Jika datang ke desa, maka jadi masalah bagi desa,” pungkas Wargiyati.

Semoga semua desa bisa melaksanakan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)