Puger Mulyono, Dedikasikan Hidup untuk ADHA

Puger Mulyono menginspirasi masyarakat melalui dedikasinya untuk mengurus anak-anak dengan HIV/AIDS. Kendati berulangkali menghadapi kendala, Puger dan kawan-kawannya enggan menyerah.

Puger Mulyono, Dedikasikan Hidup untuk ADHA
Puger dan anak-anak di Rumah Lentera. (Benarnews.org)

Inibaru.id – Jauhi virusnya, bukan orangnya! Itulah yang diyakini Puger Mulyono. Sosok yang aktif di Yayasan Rumah Lentera Surakarta, Jawa Tengah, ini mendedikasikan hampir sebagian besar waktunya untuk mengurus anak dengan HIV/AIDS (ADHA) si sekitarnya.

Sebelumnya, Puger pernah menjadi sukarelawan di LSM Mitra Alam yang mengurus pecandu narkoba jenis suntik. Dari situlah dua berkenalan dengan ODHA. Hingga pada 2010, dia menemukan banyak ibu rumah tangga yang menderita HIV/AIDS. Dia memprediksi, sebagai penyakit genetik, virus itu juga nantinya akan menjangkiti anak-anak mereka.

Dugaan itu terbukti dua tahun kemudian. Puger dan kawan-kawannya mendapat kabar bahwa ada ADHA di RS Moewardi Solo yang sudah nggak memiliki orang tua.

“Kakek neneknya sudah menawarkan anak itu ke mana-mana, termasuk ke panti-panti. Namun, nggak ada yang mau karena tahu anak itu sakit,” ujar Puger, seperti ditulis Jawapos.com (3/2/2017).

Puger pun membawa anak tersebut dan mencarikan tempat tinggal. Dia diasuh oleh seorang mantan tunasusila di sebuah kamar kos-kosan. Semakin lama, jumlah anak yang ditampung Puger ternyata semakin banyak. Teman seperjuangan Puger, Yunus Prasetyo, bahkan terpaksa menjual motor untuk menyewa rumah kontrakan.

Diusir Warga

Upaya yang dilakukan Puger dan teman-temannya nggak mudah. Berbagai respons negatif datang dari masyarakat yang menolak keberadaan mereka karena takut akan mendapat dampak buruk. Bahkan, Puger dan anak-anak tersebut pernah diusir dari rumah kontrakan. Barang-barang mereka dikeluarkan secara paksa.

Pemerintah Kota Surakarta sempat memberi tempat yang bisa dimanfaatkan Puger dan anak-anak di Setabelan dan di sebelah utara Monumen Pers. Namun, warga di kedua daerah tersebut juga menolak kehadiran Puger dan anak-anak.

Padahal, Puger selalu menjaga agar anak-anak nggak terpapar lama di luar rumah apalagi kehujanan. Ya, ADHA rawan sakit karena kekebalan tubuh mereka nggak seperti kebanyakan orang. Mereka juga mengonsumsi obat ARV dan suplemen secara rutin.

Banyak dokter dan perawat yang masih takut menangani ADHA karena khawatir tertular. Sekali waktu, Puger pernah menangani seorang anak yang demam hingga telinganya mengeluarkan cairan. Dokter hanya memberikan instruksi melalui mikrofon.

Pengetahuan Puger ini menarik perhatian praktisi medis. Puger kerap diundang untuk mengisi seminar-seminar.

Mantan Tukang Parkir

Puger Mulyono bukan orang yang bergelimang harta, tetapi dedikasinya untuk menjadi sukarelawan sangat luar biasa. Sehari-hari, dia bekerja sebagai tukang parkir. Sebelumnya, dia adalah tukang tambal ban yang terkena gusuran pembuatan taman sehingga beralih profesi. Di sela pekerjaannya, Puger menjemput anak-anak Rumah Lentera sepulang sekolah.

Bekerja dari pagi sampai sore, setiap hari Puger mengantongi Rp 50 ribu. Sebulan, penghasilannya adalah sekitar Rp 1,5 juta. Bukan jumlah yang banyak untuk menghidupi istri, empat anak kandung, 11 anak-anak dari Rumah Lentera, serta tiga pengasuh mereka.

Terlebih, kebutuhan Rumah Lentera bisa mencapai Rp 10 juta, bahkan lebih. Suatu kali, pengeluaran pribadi dan Yayasan Rumah Lentera sempat mencapai Rp 13 juta lantaran ada anak asuh yang perlu dirawat di rumah sakit. Untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan anak-anak, Puger juga menerima bantuan dari para donatur, seperti ditulis CNN Indonesia (26/5/2017).

Semoga saja semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa ODHA juga memerlukan uluran tangan kita ya, Millens. (IB08/E03)