PPBI Semarang, Wadah Pencinta Bonsai Kembangkan Industri Kreatif

PPBI Semarang, Wadah Pencinta Bonsai Kembangkan Industri Kreatif
Tosim Hamudi, ketua Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Semarang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Semarang menjadi sarana bagi para pencinta bonsai untuk berkumpul, berdiskusi, dan belajar bersama terkait bonsai. Nggak hanya itu, PPBI Semarang memiliki visi-misi pula menjadikan bonsai sebagai industri kreatif.

Inibaru.id – Bagi kamu para pencinta bonsai pasti kenal dengan organisasi satu ini. Yap, Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) namanya. Anggotanya tersebar di banyak kota seluruh Indonesia, nggak terkecuali cabangnya ada di Semarang, Jawa Tengah.

Untuk area Semarang kini diketuai oleh Tosim Hamudi yang juga seorang pengusaha. Saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Tosim pada Minggu (16/2), di Desa Wisata Lembah Kalipancur.

Program PPBI salah satunya bagaimana membuat bonsai yang memiliki estetika tinggi. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Program PPBI salah satunya bagaimana membuat bonsai yang memiliki estetika tinggi. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Ternyata jaringan PPBI hingga internasional lo, Millens. Untuk Semarang sudah ada sekitar tahun 80-an untuk mewadahi para penggemar bonsai yang kini anggotanya mencapai seribuan. Terdiri dari beberapa komunitas baik di dalam maupun luar Kota Semarang, dari Tunggal Serut, King Bonsai, Compacta, dan lain-lain.

Kegiatan PPBI sudah tentu berkaitan dengan dunia bonsai. Setiap tiga bulan sekali mereka mengadakan workshop, diskusi, dan kopi darat (kopdar). "Workshop seperti cara membuat bonsai, demo trainier, melatih anggota belajar bonsai,” kata Tosim menjelaskan kegiatan PPBI Semarang.

Bagi Tosim, berbonsai dapat membuat seseorang bisa memiliki sense akan estetika dan pembelajaran mencintai tanaman. Dalam proses merawatnya pula bisa melatih seseorang untuk lebih sabar. Dari pembibitan, pergantian media tanam, penyiraman, hingga membentuk batang dan ranting perlu ketelatenan agar hasil maksimal.

“Kriteria bonsai yang baik itu memenuhi proporsi, ada teorinya. Trus dimensi. Proporsi itu antara batang dan ranting itu seimbang. Harus ada dimensinya pula. Terakhir itu nilai ketuaan,” ujarnya.

Bonsai sebagai komoditas untuk industri kreatif. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Bonsai sebagai komoditas untuk industri kreatif. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Dia menambahkan, untuk umur bonsai di Indonesia budayanya belum terbiasa untuk dicantumkan. Berbeda dengan Jepang di mana umur dicantumkan. Bahkan usia bonsai ada yang sampai seribu tahun dan selamat dari bom atom.

PPBI Semarang memiliki visi-misinya pula, yaitu menjadikan bonsai sebagai industri kreatif. Dalam arti bisa menghasilkan pendapatan untuk pegiatnya. Saat ini program tersebut telah berkembang dan mendapatkan pemasukan. Dari proses budidaya, perawatan, pembentukan, penataan, dan lain sebagainya.

Bagi kamu yang pengin bergabung, syarat utamanya satu: mencintai bonsai. Datang saja ke basecamp PPBI Semarang yang beralamat di Jalan Wisma Sari Raya nomor 15 Ngaliyan, tepatnya di depan Puskesmas Ngaliyan. Kuy, berjejaring dengan para penggemar bonsai! (Isma Swastiningrum/E05)