Pondok Damai Ajak Kaum Milenial Memupuk Prasangka Luhur Antarumat Beragama

Salah satu aksi nyata dari anak muda di Kota Semarang yang menentang intoleransi beragama adalah terbentuknya Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) yang setiap tahunnya rutin mempertemukan pemuda-pemuda lintas agama dan penghayat kepercayaan selama beberapa hari dalam acara Pondok Damai.

Pondok Damai Ajak Kaum Milenial Memupuk Prasangka Luhur Antarumat Beragama
Peserta Pondok Damai berfoto bersama di depan Mandala Puri Agung Giri Natha Semarang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Inibaru.id - Dengan tema “Merajut Harmoni Memupus Prasangka”, Pondok Damai bertujuan untuk menanamkan benih perdamaian di dalam keberagaman. Agenda tahunan ini memasuki tahun ketiga yang konsisten membawa isu toleransi. Dilaksanakan pada Jumat-Minggu (26-28/4) bertempat di Vihara Watugong, Pondok Damai acara ini diikuti oleh 29 peserta dari berbagai agama dan penghayat kepercayaan.

Suasana diskusi peserta Pondok Damai dengan ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Semarang di Pura Agung Giri Natha. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Berbeda dengan kegiatan lembaga kerukunan yang bersifat formal, diskusi yang disajikan di dalam setiap sesi Pondok Damai lebih bersifat intim dan personal meskipun sedikit sensitif. Benar saja, beberapa peserta yang hadir dalam acara tersebut mengaku memiliki trauma terhadap agama tertentu dikarenakan oleh beberapa hal.

Pengalaman-pengalaman buruk dari agama lain juga menjadi highlight dalam sesi diskusi. Nggak disangka, penganut agama minoritas juga kerap mendapat ejekan dari agama mayoritas dalam hal berpakaian atau merias diri. “Peserta bercerita pengalaman buruk terhadap agama lain, namun peserta juga diminta menyimpan memori dan positif terhadap agama lain agar tak ada lagi prasangka buruk terhadap agama lain,” tutur Candra Tri Ananda, ketua panitia Pondok Damai.

Peserta dari berbagai agama dan kepercayaan berkumpul untuk mendapatkan penjelasan singkat tentang Pura Agung Giri Natha (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Nikmah, peserta pondok damai yang semula mengklaim bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang paling benar menuturkan bahwa selepas acara dia menyadari bahwa setiap manusia harus menghargai pilihan orang lain dalam beragama. “Acara ini juga mengajak kita mendengarkan suka duka peserta dengan agama minoritas yang sering mendapatkan ejekan serta intimidasi dari lingkungan. Hal ini membuat saya menjadi terenyuh dan respect dengan mereka,” tutur Nikmah selepas acara.

Ketua PHDI Kota Semarang sedang memberikan penjelasan tentang agama Hindu dan Pura Agung Giri Natha. (Inibaru.id /Zulfa Anisah)

Selain sesi diskusi dan sharing, peserta juga diajak untuk mengunjungi beberapa tempat ibadah di Kota Semarang seperti Pura Agung Giri Natha, Klenteng Sinar Samudra dan Gereja Pringgading. Dalam kunjungan tersebut, peserta juga mendapatkan pengarahan dari pemuka masing-masing tempat ibadah.

Nanda, Panggilan akrab ketua panitia berharap acara semacam ini bisa dilaksanakan beberapa kali dalam setahun agar lebih banyak agen perdamaian yang dihasilkan dari acara ini.

Adem banget ya, Millens kalau semua umat beragama hidup damai. (Zulfa Anisah/E05)