‘Petik Merah’ di Tengah Rangkaian Mata Rantai Kopi Temanggung

‘Petik Merah’ di Tengah Rangkaian Mata Rantai Kopi Temanggung
Cahyo Pratomo, petani muda sekaligus penggerak metode "petik merah" untuk pemanenan kopi Temanggung. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)

Bukan sekadar meneruskan usaha keluarga, kepulangan Cahyo juga bertujuan untuk mengembangkan metode ‘petik merah’ bagi para petani sekaligus mencoba menjadi bagian yang menguatkan mata rantai kopi Temanggung.

Inibaru.id - Hujan baru saja reda. Kedai kopi yang jadi tempat pertemuan kami juga baru buka. Cahyo Pratomo, orang yang akan saya temui untuk kali kedua, yang kemudian saya ketahui sebagai pemilik kedai, tengah sibuk menata kursi dan meja di selasar coffee shop, lalu mengelap bagian-bagian yang basah terguyur hujan.

“Duduk dulu, Mas!” ujarnya sopan, lalu memohon izin dan segera menghilang di balik pintu yang terletak di samping bar. Saya hanya mengangguk karena merasa pangling dengan penampilan petani kopi asal Kabupaten Temanggung yang kali ini terlihat agak "rapi" tersebut.

Sebelum duduk, saya memilih mengitari kedai bernama Depan Rumah yang berlokasi di bilangan Gunungpati, Kota Semarang, itu. Seperti namanya, kedai ini memang laiknya bagian depan rumah; terdiri atas ruang tamu untuk bar dan teras depan sebagai tempat dine-in.

Sayang, belum sempat mengitari kedai, hujan kembali turun. Saya masuk, lalu memilih duduk di sofa panjang di depan coffee bar. Pada saat bersamaan, Cahyo keluar dengan membawa segelas kopi moktail dingin untuk saya. Dia juga sudah berganti pakaian, mengenakan celana denim dengan kaus putih polos.

Segera setelah menyeret satu kursi besi dengan dudukan bundar dan duduk di depan saya, dia mempersilakan saya mencicipi minuman spesial di kedai yang baru buka dua bulan tersebut. Minuman yang saya lupa tanyakan namanya ini bercita rasa manis-asam, paduan kopi dengan jus nanas.

Cahyo sudah tahu maksud kedatangan saya siang itu, sekitar dua pekan lalu. Kami pernah sekali bertemu di kebunnya yang berada di daerah Candiroto, Temanggung, tapi nggak sempat ngobrol. Baru sekarang saya punya kesempatan menanyakan keputusannya menjadi petani kopi.

“Dulu saya sempat jadi guru juga, tapi ndak kuat. Cuma bertahan tiga bulan, terus keluar,” tutur Cahyo, yang kemudian saya ketahui memiliki gelar sarjana pendidikan di Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut. “Ya, passion saya petani.”

Memproduksi Kopi Premium

Cahyo menunjukkan buah kopi petik merah di kebun kepunyaannya. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)
Cahyo menunjukkan buah kopi petik merah di kebun kepunyaannya. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)

Jauh sebelum benar-benar menekuni kopi pada 2018, Cahyo memang sudah lama jatuh cinta pada si hitam tersebut sejak kecil. Dia dibesarkan dari keluarga yang hidup dari kopi. Mendiang bapaknya, Haji Mundir, adalah petani kopi; sementara ibunya, Hajah Triyani, adalah penjual kopi dan rempah-rempah.

Namun, kuliah di Semarang membuat kecintaan lelaki 29 tahun ini pada kopi terpaksa ditekannya, kendati nggak sepenuhnya dia dilupakan. Justru di kota itulah wawasan kopinya berkembang. Sembari kuliah, dia juga belajar mendetail mengenai kopi.

Turu (tidur) mikir kopi. Tangi (bangun) mikir kopi. Njuk jane ke kenapa (Sebetulnya saya ini kenapa)? ujarnya dengan bahasa Jawa dialek Temanggung yang kental, mengungkapkan kegusarannya pada para petani di Temanggung. Kegusaran inilah yang pada akhirnya menuntun Cahyo pulang.

Dia yang semula menganggap kopi hanya sebagai hasil bumi yang ditebas (dijual menyeluruh) ke tengkulak sebagaimana orang tua dan kebanyakan petani kopi Temanggung lakukan, mulai melihat cara lain yang lebih menguntungkan.

“Mulai sinau (belajar) petik buah kopi yang benar, proses pengolahan yang sesuai, dan ke mana bisa ngelempar (menjual) barang agar harganya sesuai,” tegas Cahyo.

Penyortiran buah kopi petik merah oleh masyarakat Temanggung. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)
Penyortiran buah kopi petik merah oleh masyarakat Temanggung. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)

Dari ilmu yang didapatkan tersebut, dia pun mulai mencoba mempraktikkannya di rumah. Mudah? Tentu saja tidak. Orang pertama yang menentangnya adalah sang ibu. Cahyo paham, ibunya sudah mengolah kopi jauh sebelum dirinya dilahirkan, sedangkan dia hanyalah pemula.

Ibuk penginnya Cahyo dadi (jadi) guru,” tuturnya, menirukan wejangan sang ibu kala itu.

Namun, anak ketiga dari empat bersaudara tersebut nggak patah arang. Cahyo tetap menerapkan metode “petik merah” saat memanen kopi robusta di kebunnya, lalu memproses cerries (istilah untuk buah kopi) sesuai dengan yang diinginkan pembeli.

“Waktu itu belum bisa kasih bukti apa-apa. Setiap mau berangkat (menjual kopi), bisanya ya cuma bilang (ke ibu), ‘Nyuwun restune mawon (minta doa saja),’ terus salim (cium telapak tangan),” tutur Cahyo lirih, kalah dengan hujan lebat di luar. “Alhamdulillah, hasilnya ada, bisa dibagi ke ibu sedikit-sedikit.”

Berhadapan dengan Petani Tua

Cahyo tengah memeriksa proses pengolahan kopi hasil petik merah. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)
Cahyo tengah memeriksa proses pengolahan kopi hasil petik merah. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)

Petik merah adalah istilah untuk pemanenan kopi yang dilakukan setelah buah benar-benar matang, berwarna merah. Ini dilakukan agar biji kopi yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan seragam. Dalam dunia perkopian, produk yang biasa disebut premium ini biasanya dibanderol dengan harga yang lebih tinggi.

Sayang, sebagian besar petani di Temanggung, menurut pengakuan Cahyo, belum menerapkan metode ini. Mereka memilih memanen apa adanya dengan membabat seluruh buah, baik yang sudah matang maupun masih hijau, lalu dijual ke pengepul.

Kadang, pascapanen ada petani memisahkan buah matang dari yang masih hijau untuk dijual dengan harga lebih mahal. Namun, tentu saja jumlahnya nggak banyak, berbeda dengan jika dipetik saat benar-benar sudah matang di pohon.

“Petik merah memang lebih lama. Mereka (petani) pilih yang penting cepat jadi duit. Ujung-ujungnya ya panen apa adanya, dijual ke pabrik dengan harga sama,” bebernya.

“Zona nyaman” yang dipilih para petani itu tentu saja membuat Cahyo kesulitan mewujudkan mimpi besarnya, yakni menjadikan Kopi Temanggung sebagai sentra produk kopi premium di Jawa laiknya Kopi Gayo di Sumatra atau Kopi Toraja di Sulawesi.

Namun, dia nggak kehilangan akal. Gagal menggandeng para petani yang kebanyakan sudah tua itu, dia pun mendekati anak-anak petani yang kebanyakan seumuran dengan dirinya. Sedikit demi sedikit, Cahyo melakukan persuasi sembari membuka jaringan dan jalan untuk “melempar barang”.

“Jaringan ibuk tak jajaki. Pokoknya cari pembeli. Teman-teman di Temanggung yang berminat, tak ajari. Penginnya bareng-bareng biar bisa saling bantu. Kalau pas butuh banyak barang, bisa disokong bersama,” kata Cahyo, yang mengaku belakangan “perjudian”-nya itu mulai membuahkan hasil.

Dinaungi Keberuntungan

Cahyo (kanan) tengah menunjukkan biji kopi hasil petik merah yang tengah dijemur kepada Reza Sarsito (paling kiri), owner Kopen Indonesia. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)
Cahyo (kanan) tengah menunjukkan biji kopi hasil petik merah yang tengah dijemur kepada Reza Sarsito (paling kiri), owner Kopen Indonesia. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)

Cahyo mengatakan, dia nggak bakal menjadi seperti yang sekarang tanpa keberuntungan dan orang-orang baik di sekelilingnya. Awal merintis usahanya dulu, dia mengaku pernah kekurangan modal untuk mengolah kopi. Tiba-tiba, seseorang memberinya uang Rp 100 juta.

“Dia temannya teman saya. Waktu itu saya bilang harus ngolah kopi; saya jelaskan detail dan keuntungannya. Mendadak dia kasih uang banyak banget,” kenang Cahyo sembari menyulut rokok di tangan kirinya.

Keberuntungan lain, saat Cahyo mulai menjalin jaringan dengan sejumlah petani muda di Temanggung, dia mendapatkan “ikan besar”. Lelaki bertubuh tegap yang sebelumnya hanya mampu menyuplai maksimal tiga ton pesanan biji kopi premium, mendadak dapat pesanan dua kali lipat.

“Mas Reza order enam ton untuk diekspor!” serunya senang.

Reza yang dimaksud Cahyo adalah Reza Sarsito, owner PT Kopi Persada Negeri, perusahaan asal Semarang yang menyediakan berbagai jenis kopi untuk pasar lokal dan internasional. Lelaki itu pulalah yang memperkenalkan saya pada Cahyo.

Di Kota Lunpia, perusahaan yang lebih familiar dengan nama Kopen Indonesia ini memang sudah cukup dikenal masyarakat, khususnya para pencinta kopi. Nggak sedikit coffee shop yang mengambil kopi dari Kopen. Belakangan, suplier kopi grosir dan ecer itu juga mulai menjajaki pasar internasional.

“Kami bermitra, jadi kemungkinan kerja sama ini nggak cuma sekali,” lanjutnya, lalu tersenyum. Cahyo tentu patut merasa senang karena peminat kopi premium memang sangat spesifik. Dengan memiliki mitra tetap, cita-citanya memperbaiki nasib petani kopi di Temanggung tentu kian terbuka. Wah!

Penyortiran akhir green bean kopi Temanggung hasil petik merah. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)
Penyortiran akhir green bean kopi Temanggung hasil petik merah. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)

Cahyo mengatakan, semua keberuntungan yang didapatnya ini nggak lepas dari restu kedua orang tuanya. Dia mengaku bangga memiliki orang tua yang mengajarkan banyak hal.

“Meski ndak bisa ngomong langsung, sebenarnya merekalah orang yang berperan paling besar dalam hidup saya,” tandas Cahyo. Matanya berkaca, tapi mulutnya tersenyum lebar.

Sebetulnya masih ada banyak pertanyaan yang pengin saya ajukan, semisal tentang coffee shop yang baru dia buka atau kopi moktail yang disajikannya. Namun, bakal jahat sekali kalau saya merusak romantisme yang tengah dirasakan Cahyo itu.

Hujan sudah reda. Saya pun pamit sembari berjanji bakal datang lagi untuk mengulik lebih jauh tentang kafe Depan Rumah. Tunggu cerita kami selanjutnya ya, Millens! (Galih PL/E03)