Perwaris, Organisasi Waria di Kota Semarang

Perwaris, Organisasi Waria di Kota Semarang
Perwaris berdiri sejak 2006. (Inibaru.id/ Audrian F)

Bertujuan melindungi hak-hak waria sebagai Warga Negara, Persatuan Waria Semarang (Perwaris) didirikan. Harapannya, nggak ada lagi waria yang dianggap rendah di masyarakat.

Inibaru.id - Di Kota Semarang ada sebuah organisasi yang menghimpun para waria. Namanya adalah Persatuan Waria Semarang (Perwaris). Komunitas ini sudah berdiri sejak 2006. Wah, sudah lumayan lama juga ya.

Silvy Mutiari, ketua Perwaris, menceritakan, sebelum terbentuknya Perwaris ini sudah ada sebuah organisasi yang beranggotakan para waria. Tapi karena lama nggak terdengar gaungnya, Silvy berinisiatif membentuk Perwaris.

Pada masa awal terbentuk, Perwaris sempat mendapat hambatan. Menkumham menolak menerbitkan surat keterangan karena permasalahan nama. Adanya kata "waria" pada kepanjangan Perwaris membuat proses ini alot.

Meski begitu, permasalahan ini bisa dilalui dengan negosiasi. Izin dapat dikeluarkan jika pihak pemohon mau menggunakan nama “Yayasan Perwaris Satu Hati”. Tiga tahun setelah izin terbit, tongkat kepemimpinan Perwaris beralih pada Silvy.

“Kami ini seperti kelompok masyarakat yang termarjinalkan, sehingga jadi sering mendapat persekusi, diskriminisasi dan bullying. Yang jelas sering juga nggak mendapatkan hak sebagai Warga Negara, padahal kami sudah melaksanakan kewajiban, Oleh karena sebab itulah, Perwaris dibentuk” kata Silvy, Senin (8/12) malam.

Dalam menjalankan kegiatan, Silvy senang karena teman-teman warianya mau diajak berorganisasi. Di samping itu dengan adanya Perwaris, teman-teman waria jadi bisa berjejaring dengan banyak organisasi waria di banyak daerah.

“Kami juga mendapat banyak ilmu dari berjejaring tersebut. Seperti kelas gratis,” ungkap Silvy.

Silvy Mutiari ketua Perwaris sejak 2009. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Silvy Mutiari ketua Perwaris sejak 2009. (Inibaru.id/ Audrian F)

Hebatnya, Perwaris juga sering melakukan kegiatan sosial. Hari-hari besar seperti Hari HIV/Aids kemudian Hari HAM pun mereka ikut andil. Nggak cuma itu. Di bulan Ramadan, mereka juga bersedekah dengan membagi-bagikan takjil. Nggak sendiri, mereka juga menggandeng beberapa instansi seperti Dinas Sosial untuk melakukan kegiatan.

Anggota Perwaris sejauh ini belum terdata secara pasti. Namun kata Silvy, kurang lebih ada 125 anggota yang terdiri atas berbagai profesi.

“Sebagian besar dari kami bekerja secara nonformal seperti, penyanyi, mc, pranatacara, Cucuk Lampah, pekerja seks dan pekerja salon. Sementara yang formal hanya 15 persen, misal di pabrik, instansi pemerintahan, dan juga notaris,” terang Silvy.

Salah seorang anggota Perwaris yakni Jesicca Lee Aurora mengungkapkan kalau dia senang bergabung ke dalam Perwaris.

“Di sini kami saling membantu dan melindungi, apalagi kalau yang kerjanya di jalan itu kan kasihan. Dari Perwaris kami juga bisa guyub dan nyengkuyung. Nggak membeda-bedakan secara profesi,” akunya.

Hm, semoga dengan adanya organisasi ini hak-hak waria terlindungi ya Millens.  (Audrian F/E05)