Perjuangan Mbah Sadiman; 24 Tahun Tanam Belasan Ribu Pohon untuk Kembalikan Sumber Air di Wonogiri

Perjuangan Mbah Sadiman; 24 Tahun Tanam Belasan Ribu Pohon untuk Kembalikan Sumber Air di Wonogiri
Mbah Sadiman kini menikmati sumber air melimpah di desanya. (Panajournal)

Sebal desanya kekurangan air gara-gara bukit tandus karena terbakar, Mbah Sadiman seorang diri tanam 11 ribu pohon di Wonogiri. Kini, warga desanya menikmati air yang kembali melimpah.

Inibaru.id – Pada 1963, Bukit Gendol dan Ampyangan yang ada di Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri hangus terbakar. Namun, sisa kebakaran tersebut telah lenyap kini, tergantikan oleh bukit-bukit hijau yang dipenuhi pepohonan. Semua ini berkat usaha keras Mbah Sadiman yang selama 24 tahun melakukan penghijauan di sana.

Saat kebakaran berlangsung, Mbah Sadiman masih anak-anak. Meski masih kecil, dia memendam keinginan untuk menghijaukan kembali hutan yang terbakar tersebut. Apalagi, sejak bukit ini tandus, pasokan air di desa berkurang drastis.

Bersama dengan tetangga, mereka harus memikul air dari sumber yang jaraknya 500 meter hanya untuk mendapatkan air minum.

Memang, sejak 1980-an, pemerintah sudah mengalirkan pipa-pipa penyalur air. Meski begitu, air ini hanya bisa dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Untuk keperluan pertanian, warga masih kesulitan dan hanya menggantungkan pada musim hujan.

Pada 1996, Mbah Sadiman nggak tahan lagi dengan kondisi tersebut. Sendirian, dia mulai menanam pohon di lahan gersang di bukit. Pohon-pohon yang dia tanam adalah ipik, loh, dan beringin. Alasan mengapa dia memilih pohon-pohon itu karena bisa membuat resapan air yang baik.

“Kalau menurut pengalaman saya, pohon beringin bisa menyediakan sumber air yang sangat besar,” cerita Sadiman.

Nggak Mendapat Dukungan

Mbah Sadiman. (Video Reuter.com/ Indonesian eco-warrior turns arid hills green)
Mbah Sadiman. (Video Reuter.com/ Indonesian eco-warrior turns arid hills green)

Keluarganya nggak habis pikir mengapa Mbah Sadiman menanam pohon yang nggak bisa berbuah. Tahu aksinya nggak mendapatkan dukungan, dia pun memutuskan untuk menanam tanpa sepengetahuan mereka. Semuanya dilakukan sendiri. Sembunyi-sembunyi.

Nggak hanya keluarga, warga sekitar juga sempat menganggapnya gila. Dia bersedia menukar bibit cengkeh dan jati yang bernilai jual dengan bibit beringin liar yang dianggap nggak bisa memberikan keuntungan apa pun. Namun, Sadiman yakin tindakannya benar dan akan memberikan manfaat.

Selama lebih dari 24 tahun melakukan penghijauan, Mbah Sadiman telah menanam nggak kurang dari 11 ribu pohon, termasuk beringin, di lahan seluas lebih dari 250 hektare. Pohon-pohon tersebut kini nggak hanya menyediakan sumber air, tapi juga mencegah erosi.

Saat ini, warga yang dulu keheranan dengan tindakannya justru ikut menikmati apa yang Mbah Sadiman perjuangkan. Nggak hanya Bukit Gendol dan Ampyangan yang kembali hijau, sumber air juga melimpah di sana.

Warga nggak lagi kesulitan mendapatkan air untuk sawah-sawahnya. Panen yang semula hanya dilakukan sekali dalam setahun, kini bisa dua hingga tiga kali. Jenis tanaman yang bisa ditanam pun nggak lagi terbatas padi. Mereka juga bisa menanam sayuran seperti wortel.

Sungguh perjuangan yang luar biasa dari Mbah Sadiman. Kendati mendapat penolakan dan perlakuan kurang menyenangkan, dia tetap berjuang demi kepentingan bersama. Masihkah ada yang mencibirnya, kini? (Reu/IB09/E03)