Penerbit Beruang, Hadir untuk Literasi Semarang

Penerbit Beruang, Hadir untuk Literasi Semarang
Widyanuari Eko Putra, salah seorang pendiri dan pengelola Penerbit Beruang. (Inibaru.id/Gregorius Manurung)

Di tengah geliat penerbit indie di Indonesia, Penerbit Beruang hadir mengisi kekosongan penerbit indie di Semarang.

Inibaru.id – Sepengetahuan saya, geliat penerbit indie di Indonesia sedang moncer-moncernya. Sekarang ini banyak penerbit indie menerbitkan karya-karya yang oleh publik dianggap bagus. Marjin Kiri, Banana, dan Penerbit Gambang adalah beberapa contoh penerbit indie moncer di Indonesia.

Pada Februari 2019, esais Widyanuari Eko Putra yang akrab disapa Wiwid dan Santi Al Mufaroh, istri Wiwid, mendirikan penerbit Beruang. Penerbit ini adalah salah satu penerbit indie yang berfokus pada karya sastra di Semarang. Meskipun baru satu tahun, jumlah buku yang sudah mereka terbitkan ada 9. Sembilan buku tersebut terdiri dari buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen, dan kumpulan esai sastra.

“Kebanyakan buku yang kami terbitkan punya satu entitas sama, yaitu Semarang,” ucap Wiwid, Selasa (24/3).

Dari seluruh karya yang diterbitkan, hanya satu yang penulisnya bukan orang Semarang. Hal itu disebabkan Penerbit Beruang berdiri khusus untuk menampung karya-karya penulis Semarang. Baik itu penulis yang berdomisili di Semarang maupun yang pernah tinggal di Semarang.

Prinsip itu didasarkan pada hampir nggak adanya penerbit yang berbasis di Semarang. Banyak penulis Semarang yang akhirnya melabuhkan karyanya ke penerbit di luar Semarang. Selain itu, Wiwid merasa banyak penulis dengan karya yang bagus di Semarang, tetapi belum memiliki nama. Hal itu akan menyulitkan penulis untuk menerbitkan karyanya.

Salah satu terbitan Penerbit Beruang. (Inibaru.id/Gregorius Manurung)
Salah satu terbitan Penerbit Beruang. (Inibaru.id/Gregorius Manurung)

Dalam menangani karya yang diterbitkan, Wiwid dan Sinta nggak main-main. Setiap karya yang diterbitkan Penerbit Beruang akan diacarakan. Semua terbitan Penerbit Beruang pernah didiskusikan dalam sebuah acara, baik itu di Semarang maupun di luar kota, seperti Demak dan Bogor. Hal itu penting karena perputaran gagasan dan wacana akan terjadi ketika buku dibicarakan.

Siapa sangka semua hiruk pikuk penerbitan dan promosi hanya ditangani pasangan istri suami ini. Untuk urusan ilustrasi sampul, layout, dan editting, Wiwid akan meminta bantuan temannya jika memang dibutuhkan. Hal itu pun dilakukan secara profesional, bukan asal bilang “Kan kita teman,”. Bahkan royalti penulis pun dibayarkan utuh di muka ketika karya sudah disetujui akan terbit.

“Kalau kita memang ingin menghidupi semua yang terlibat di sini kan harus profesional,” ucap Wiwid.

Hm, menarik ya! Kamu tertarik ikutan menerbitkan buku di sini nggak? (Gregorius Manurung/E05)