Pejuang Air dari Desa Nglanggeran

Berkat jasa Sugeng, kini desanya nggak lagi kekurangan air. Lebih dari itu, Desa Nglanggeran juga menjadi desa ekowisata. Bagaimana kisah perjuangan pemuda ini menyelamatkan desa dari kekeringan?

Pejuang Air dari Desa Nglanggeran
Sugeng Handoko (Kompas.com)

Inibaru.id – Di Kecamatan Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta, ada sebuah desa yang menjadi desa ekowisata unggulan. Padahal dulu, desa ini  termasuk desa yang miskin air. Itu semua berkat usaha masyarakatnya yang dipelopori oleh seorang pemuda bernama Sugeng Handoko.

Desa tersebut adalah Desa Nglanggeran. Sugeng dan warga lainnya harus merasakan efek pembalakan liar. Tanah kering kerontang. Warga kesulitan memperoleh air. Padahal, sebagian warga menggantungkan hidup dengan bertani. 

Warga hanya bisa bertani ketika musim hujan tiba. Akibatnya, perekonomian warga terjun bebas. Kegelisahan inilah yang memanggil hati Sugeng untuk melakukan aksi penghijauan hutan. Menurut Youngster.id (15/05/2018), dibantu teman-temannya dari karang taruna, Sugeng yang saat itu masih berusia sangat belia mencoba menanam pepohonan.

Awalnya niat ini sangat sulit direalisasikan. Apa pasal? Saat itu masih banyak masyarakat yang menjadikan hasil hutan sebagai mata pencahariannya. Umur Sugeng yang masih sangat muda juga bikin warga nggak percaya akan usaha yang dia lakukan.

“Waktu itu kami dianggap anak kemarin sore. Tapi perubahan itu harus ada pembuktian. Beberapa kali kami diapresiasi. Ini pembuktian bahwa ada orang di luar sana yang memperhatikan usaha kami. Sampai akhirnya langkah sederhana kami ini membuahkan hasil. Bahkan membawa penghidupan baik bagi warga,” ucap Sugeng.

Penghijauan hutan yang dilakukan Sugeng membuahkan hasil. Sedikit demi sedikit sumber air terkumpul. Tapi, usahanya nggak hanya berhenti sampai di sini, lo.

Pada tahun 2012, pemerintah provinsi mengetahui perjuangan yang dilakukan oleh Sugeng. Akhirnya mereka memberikan bantuan berupa dana hibah sebesar Rp 1 miliar untuk membangun embung. Sobat Millens tahu apa itu embung?

Yap, itu lo, waduk mini di atas bukit berupa cekungan digunakan untuk menampung suplai air hujan di musim penghujan untuk dialirkan pada musim kemarau.

Embung Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta. (wisatabaru.com)

Kini, embung berukuran 0,34 hektar tersebut telah dimanfaatkan untuk mengairi 20 hektar perkebunan durian dan kelengkeng di Desa Nglanggeran.

Usaha yang telah dilakukan Sugeng ini jadi contoh bagi desa lain. Ada kabar, program ini akan diterapkan juga di daerah lain, bahkan di luar Yogyakarta. Nggak hanya itu, Millens, beberapa perusahaan yang tahu soal aksi Sugeng juga memberikan peghargaan padanya dengan menganugrahi sebutan “pejuang air”.

Ekowisata Desa Nglanggeran

Hal yang nggak terduga ternyata terjadi setelah pembangunan embung. Waduk kecil itu nggak hanya berhasil mengairi Desa Nglanggeran tetapi juga jadi wisata.

Yap, embung yang ada di sana ternyata adalah embung pertama yang ada di Yogyakarta. Keberadaan embung ini menarik wisatawan untuk berkunjung.

Situasi ini nggak lantas dibiarkan saja oleh Sugeng dan warga desa. Mereka berinisiatif membuat Pokdarwis (kelompok sadar wisata) dan mengelola desanya jadi ekowisata dengan cara menyediakan paket-paket homestay.

Hingga sekarang, pengunjung Desa Nglanggeran terus bertambah. Usaha Sugeng nggak cuma menghijaukan hutan dan mengalirkan air dari embung. Tetapi juga berhasil menghidupkan ekonomi warga dari ekowisata.

Gimana Millens? Kamu penasaran dengan embung dan Desa Nglanggeran? Langsung saja capcus ke sana! (IB06/E05)