Pecatur Jalanan Semarang, GMCC: Catur Sekadar Hobi, tapi Tetap Punya Prestasi

Pecatur Jalanan Semarang, GMCC: Catur Sekadar Hobi, tapi Tetap Punya Prestasi
Gajah Mungkur Chess Club (GMCC) di Jalan Kelud Raya, Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Meski menjadikan catur sekadar hobi, para pecatur jalanan Semarang GMCC ini tetap berhasil torehkan prestasi. Tertarik berpartisipasi? Datang langsung dan buktikan saja sendiri!

Inibaru.id - Pecatur Thalía Cervantes mulai dilihat dunia setelah keikutsertaannya dalam US Girls Junior Championship 2017 pada usia 14 tahun. Dia menjadi salah satu pecatur perempuan termuda di AS yang cukup diperhitungkan saat ini.

Yang menarik, dalam sebuah interview dengan Miamiherald, Thalia mengaku belajar catur di jalanan Havana, Kuba, berhadapan dengan orang-orang yang lebih tua dan suka membual, "Nggak ada gadis yang bisa mengalahkan saya!"

Laiknya pecatur profesional, mereka juga memakai penghitung waktu. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Laiknya pecatur profesional, mereka juga memakai penghitung waktu. (Inibaru.id/ Audrian F)

Catur memang punya sejarah panjang di Havana. Juara catur dunia 1920-127 José Raúl Capablanca y Graupera juga berasal dari sana. Kultur bermain catur memang begitu kuat di ibukota Kuba itu. Nggak hanya dalam kompetisi resmi, catur juga dimainkan di jalanan laiknya sepak bola di Brasil.

Berbeda dengan Kuba, Indonesia agaknya belum punya budaya itu. Namun, bukan berarti kelompok catur jalanan nggak bisa kamu temukan di negeri ini, karena mereka ada di sebuah sudut di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Perjumpaan saya dengan para pemain catur jalanan tersebut terjadi belum lama ini. Mereka biasa menggelar papan catur di trotoar Jalan Kelud Raya, Kecamatan Gajahmungkur, kira-kira sepelemparan batu dari Kantor Cabang PDAM Tirta Moedal.

Di Bawah Percasi

Berpikir sebelum bertindak. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Berpikir sebelum bertindak. (Inibaru.id/ Audrian F)

Hampir tiap melewati Jalan Kelud Raya (kebetulan kantor saya berlokasi nggak jauh dari tempat itu) saya melihat para pemain catur di sana. Orangnya berganti-ganti. Penasaran, saya pun menyambangi mereka dan kebetulan bersua dengan sang ketua, Eko Budi Santoso.

"Oh, kami GMCC, Gajah Mungkur Chess Club," sapa Budi, ramah. "Kami klub catur yang terdaftar dalam keanggotaan klub catur di bawah Persatuan Catur Indonesia (Percasi) cabang Semarang."

Budi mengungkapkan, pemain catur di lokasi tersebut memang berganti-ganti karena tiap orang punya pekerjaan atau kesibukan masing-masing dan main catur hanya sebatas mengisi waktu luang. Waktu mainnya juga cukup fleksibel, makanya terlihat nggak pernah sepi.

Berada di base camp GMCC yang dari luar terlihat seperti kedai angkringan dengan banyak bangku itu saya bisa melihat beberapa pemain dengan "seragam" yang beragam. Di antara mereka ada driver ojol yang tengah rehat. Ada pula yang mendaku sebagai guru dan pemilik rumah makan.

"Kami berasal dari berbagai kelas, dari yang rendah sampai atas. Jadi, jangan heran kalau ada mobil berderet di sekitar orang yang main catur di sini," terang lelaki yang berprofesi sebagai Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut.

Bapak-Bapak Hobi Catur

Terdiri dari berbagai kelas. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Terdiri dari berbagai kelas. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sebelum menjadi klub catur di bawah Percasi, Budi mengungkapkan, GMCC semula merupakan kelompok bapak-bapak penyuka catur dari Kelurahan Petompon, Gajahmungkur, yang menamai diri Kelompok Catur Petompon (KCP).

Rutin menggelar turnamen sejak 2013, perlahan KCP mulai mendapat tempat di hati para pencinta catur di sekitar Kecamatan Gajahmungkur. Mereka pun ikut bergabung, membuat kelompok tersebut semakin besar.

“Karena semakin banyak (yang main), dipilahlah base camp di pinggir jalan ini biar strategis," ujar Budi yang juga menambahkan, pemilihan tempat di pinggir jalan raya itu sudah mendapat izin dari otoritas setempat, yakni pihak Kecamatan Gajahmungkur.

Dari KCP, mereka kemudian membentuk GMCC yang diresmikan pada 2018. Saat ini, klub catur tersebut beranggotakan 104 orang dan menjadikan pinggir Jalan Kelud Raya sebagai markas sekaligus tempat mereka beradu strategi.

Lalu, apa goal mereka? Menjadikan catur sekadar hobi atau pengisi waktu luang bukan berarti GMCC nihil prestasi. Laiknya Thalía Cervantes, beberapa atlet nasional dan pecatur profesional juga lahir dari klub catur jalanan tersebut, salah satunya Joko Santoso yang saat ini menyandang predikat master.

Dibagi Jadi 2 Kelompok

Berada di pinggir jalan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Berada di pinggir jalan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Budi mengatakan, keanggotaan GMCC dibagi menjadi dua kelompok, yakni Divisi A dan B. Kelompok ini, imbuhnya, adalah semacam pemeringkatan yang bakal menjadi acuan siapa yang harus mengikuti suatu turnamen catur.

Laiknya aturan catur internasional, kategori itu ditentukan bedasarkan jumlah poin komulatif para anggotanya. Perolehan poin ini didapatkan dari turnamen internal yang mereka gelar. Untuk pemain yang memiliki poin 1-25, mereka masuk Divisi A; sedangkan pemilik poin di atas 25 masuk Divisi B.

Sekilas melihat permainan mereka, saya tahu ada orang yang cukup serius menekuni dunia catur. Namun, ada juga yang sekadar bertujuan refreshing, sehingga nggak terlalu peduli dengan perolehan poin atau pengelompokan divisi.

Prapto, salah seorang pecatur yang berprofesi sebagai driver ojol mengungkapkan, dia biasanya mampir untuk bermain catur saat mulai jenuh dan butuh rehat. Nggak hanya untuk bermain catur, Prapto juga berkumpul di tempat itu untuk bisa guyon sama teman-temannya.

Saat berkumpul dengan mereka, dia mengaku biasanya bakal memilih mematikan akun ojeknya sejenak untuk fokus menantang anggota lain yang ada di tempat tersebut.

“Iya, akun saya matikan dulu. Fokus catur!” serunya, lalu terkekeh.

Oya, base camp GMCC terbuka bagi siapa saja yang pengin menjajal kamampuan caturmu, lo. Kalau tertarik, silakan datang dan siapkan langkah terbaikmu! Ha-ha. (Audrian F/E03)