Owi-Butet, Ganda Campuran Tertua Yang Raih Juara

Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi! Jadi pasangan ganda campuran tertua, OwI-Butet kembali raih predikat juara.

Owi-Butet, Ganda Campuran Tertua Yang Raih Juara
Owi-Butet saat penyerahan medali emas di Kejuaraan Dunia di Glasgow, Skotlandia, Minggu (27/8). (Foto: Robert Perry /EPA)

Inibaru.id - Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi! Begitulah istilah yang tepat untuk menggambarkan sosok Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir di ajang bulutangkis. Kendati sudah tak lagi bisa dikatakan muda, pasangan pebulutangkis ganda campuran andalan Indonesia ini tak bisa dianggap remeh.

Yang terbaru, Owi-Butet, panggilan akrab keduanya, berhasil menjuarai Kejuaraan Dunia Bulutangkis BWF 2017, Minggu (27/8) lalu. Keduanya berhasil merebut gelar prestisius itu di nomor ganda campuran.

Saat ini Owi sudah menginjak usia 30 tahun, sementara Butet dua tahun lebih tua, yakni 32 tahun. Owi-Butet pun dinobatkan sebagai juara tertua dalam kompetisi yang memasuki penyelenggaraan ke-12 ini. Sebagai gambaran, lawan yang dihadapi Owi-Butet di partai final adalah pasangan peringkat pertama dunia asal Tiongkok, Zheng Siwei-Chen Qingchen yang baru berusia 20 tahun.

Baca juga: Cukup Puas, Tim Karate Indonesia Berhasil Lampaui Target di SEA GAMES 2017

Namun demikian, umur ternyata tak menjadi jaminan ketangkasan, kecepatan, ataupun kesigapan. Owi-Butet masih memiliki itu semua. Terlebih, keduanya memiliki segudang pengalaman. Dilansir dari Beritagar.id, di babak final, terlihat betul pengalaman mampu mengatasi agresivitas.

Meladeni permainan cepat pemain-pemain andalan Tirai Bambu, Owi-Butet terlihat keteteran di set pertama. Merekapun menyerah dengan skor 21-15. Namun, keduanya segera membalik keadaan di set kedua dengan kemenangan 16-21.

Layaknya pemenang, di set ketiga atau gim penentuan, Owi-Butet justru terlihat leluasa bermain. Mereka betul-betul menikmati pertandingan. Penempatan bola, pertahanan, hingga penyerangan, dilakukan dengan hampir sempurna.

Owi-Butet menang 15-21 lantaran ganda pasangan Tiongkok bermain buruk, sementara pasangan Indonesia justru sebaliknya.

Hasil ini membawa mereka juara untuk kali kedua di ajang ini setelah sempat menang di Guangzhu, Tiongkok, pada 2013 lalu. Khusus untuk Butet, ini adalah kali keempat dia menjadi juara, dua sebelumnya ia lakukan bersama Nova Widianto pada 2005 (Amerika) dan 2007 (Malaysia).

"Saya berhasil memenuhi janji saya untuk bermain maksimal. Ini kado dari kami untuk Indonesia yang baru saja merayakan hari kemerdekaan," kata Owi, seperti dikutip dari Twitter resmi kejuaran, yang dikutip dari Beritagar.id.

Baca juga: Gondol 14 Penghargaan Kompetisi Robotik di Taiwan, Indonesia Pertahankan Predikat Juara Umum

Indonesia sebenarnya mengirim satu lagi wakil di babak final di ajang yang berlangsung di Glasgow, Scotlandia ini, yakni ganda putra Mohammad Ahsan-Rian Agung Saputro. Namun sayang, di partai puncak, keduanya dipaksa bertekuk lutut di hadapan ganda Tiongkok, Liu Cheng-Zhang Nan.

Lewat pertarungan yang relatif mudah bagi Cheng-Nan, Ahsan-Rian kalah 10-21, 17-21 dalam tempo sekitar 37 menit, alias pertandingan tercepat di babak final kali ini.

"Lawan bermain bagus dan kami tak bisa keluar dari tekanan. Kami sudah berusaha maksimal tetapi masih under performance. Inilah hasilnya," kata Ahsan, seperti dikutip dari Badmintonindonesia.org. (GIL/IB)