Ngobrol Asyik tentang Plastik dan Bisnis dengan Deasy Esterina

Di saat yang lain berkampanye di jalanan untuk diet plastik, perempuan muda satu ini punya cara lain untuk mengolah plastik bekas. Dia juga menyampaikan pandangannya mengenai kepunahan plastik hingga menghidupi orang-orang dari plastik.

Ngobrol Asyik tentang Plastik dan Bisnis dengan Deasy Esterina
Pendiri Kreskros mengenakan salah satu produk tasnya. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

Inibaru.id – Nama Deasy Esterina barangkali asing di telingamu. Namun, di kalangan pengusaha kerajinan tangan (handcrafting), namanya sedang naik daun. Yap, perempuan muda satu ini adalah otak di balik produk-produk cantik dari plastik bekas berlabel Kreskros.

Deasy, begitu sapaan akrabnya, sukses menyulap limbah plastik yang sekarang jadi momok lingkungan, menjadi produk tas yang sangat menarik. Dia memadukan plastik bekas itu dengan benang-benang rajut sehingga membentuk tas yang sangat modis. Bahkan, kalau hanya sekilas melihat, kamu nggak bakal menyangka kalau tas-tas yang dominan berwarna hitam dan abu-abu itu terbuat dari plastik.

Beberapa produk Kreskros yang memadukan antara benang rajut dan limbah plastik. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

Atas inovasinya itu, Deasy pun diganjar berbagai penghargaan. Secara personal, dia meraih Emerging Award dari Association of Exporters and Producers of Indonesian Handicraft (ASEPHI) pada 2018 lalu. Pada tahun yang sama, Kreskros juga mendapat penghargaan spesial kategori Waste and Material Productivity dalam Sustainable Bussiness Awards. Sejumlah penghargaan itu cukup membuktikan kalau produknya memang berkualitas.

Kendati demikian, bukan penghargaan-penghargaan itu yang disasar perempuan kelahiran Ambarawa 28 tahun silam ini. Dia memang benar-benar hendak ikut andil dalam memperbaiki lingkungan.

“Kreskros itu sosial bisnis masuknya. Kami bisnis tapi punya fokus memberikan impact ke ranah sosial dan lingkungan. Kami fokusnya di limbah plastik tok, tapi apapun limbah plastik sebenarnya bisa menjadi barang-barang desain yang diakui benar-benar bagus,” ungkap Deasy saat ditemui reporter Inibaru.id di tempat usahanya.

Ide Kreskros ini berawal dari keisengan Deasy yang menggabung-gabungkan kemampuan rajut yang dimiliki dengan bahan-bahan yang nggak biasa. Pada 2014 itu dia langsung terpikir untuk menggunakan bahan utama plastik bekas. Selain ketersediaannya berlimpah, biaya yang dikeluarkan pun nggak banyak. Bisnis itu berkembang hingga sekarang meski sempat vakum selama 1,5 tahun pada 2015-2016 lalu.

Saat ini, dia mengambil plastik-plastik itu dari pengepul yang ada di area sekitar tempat usahanya di Ambarawa, Jawa Tengah. Pengepul itu mendapat plastik limbah dari perusahaan-perusahaan garmen yang tersebar di wilayah tersebut.

Proses menjahit tas pada usaha Kreskros. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

Dalam sebulan, usaha rumahannya itu bisa menghasilkan 150 tas. Satu tas biasanya menghabiskan plastik sekitar 50 hingga 100 lembar.

Meski saat ini sudah banyak kampanye diet plastik, Deasy nggak khawatir kekurangan bahan utama pembuat produknya.

“Kalau masalah (plastik) selesai ya udah dong kita sukses. Tapi sebenarnya aku merasa yang dikurangi cuma plastik dengan jenis sekali pakai doang. Jenis plastik lain seperti limbah perusahaan itu tetap ada karena plastik itu nggak untuk dihilangkan sebab dulu plastik diciptakan guna memecahkan masalah. Sifat plastik kan durabel, bisa menggantikan kayu dan kertas jadi kuat banget,” jelas lulusan Arsitektur Interior Universitas Ciputra Surabaya itu.

Peduli Gaji Pegawai

Selain berfokus pada lingkungan, Deasy dalam membangun usahanya juga mencoba untuk memperhatikan kehidupan sosial para pegawainya. Hal ini diwujudkannya dalam pemberian gaji bagi para pegawai.

“Meski ini barang-barang craft tapi aku pengin yang kerja di sini dapat uang yang layak gitu. Paling nggak ya UMR lah,” bebernya.

Deasy juga nggak membatasi ruang gerak para pegawainya. Hal ini terlihat dari caraya berkomunikasi dan memberikan perizinan bagi karyawannya untuk menjalankan kebutuhan sosialnya meski pada jam kerja.

Salah seorang pegawai Kreskros sedang mengukur plastik yang menjadi bahan utama produk tas Kreskros. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Saat ini, setidaknya ada 12 pegawai yang terdiri atas, empat perajut, satu orang tenaga potong, seorang admin, dan tiga orang penjahit di tempat usaha serta tiga penjahit rumahan.

Nggak berhenti sampai di sini, ke depan Deasy memiliki keinginan untuk mendermakan sebagian keuntungannya demi lingkungan.

“Penginnya nanti berapa persennya untuk penghijauan,” pungkasnya.

Sukses terus, Deasy. Semoga makin banyak pemuda yang inovatif dan kreatif seperti Deasy ya, Millens. Ayo, ditunggu kiprahmu! (Ida Fitriyah/E05)