Kenalan dengan Pendiri Rumah Damai yang Peduli Pencandu Narkoba

Kenalan dengan Pendiri Rumah Damai yang Peduli Pencandu Narkoba
Muljadi Irawan, pendiri Yayasan Rumah Damai yang peduli terhadap para pencandu narkoba. (Inibaru/Artika Sari)

Menyaksikan keponakannya meninggal akibat overdosis narkoba membuat Muljadi Irawan memutuskan mendirikan Yayasan Rumah Damai, sebuah pusat rehabitalisi kecanduan narkoba di Semarang. Di pusat rehabilitasi tersebut, dirinya mencoba menyulut harapan untuk para pencandu.

Inibaru.id – Kesibukan sebagai direktur operasi beberapa hotel di Jakarta telah lama ditinggalkan Muljadi Irawan. Hari-harinya kini dihabiskan untuk membimbing para pecandu narkoba di Yayasan Rehabilitasi Rumah Damai Semarang, Jawa Tengah.  

Sebelum mendirikan pusat rehabilitasi Rumah Damai, Muljadi sempat merawat tujuh anak pencandu narkoba. Dalam perjalanannya tersebut, lelaki kelahiran 12 September 1959 ini merasa hatinya semakin terpanggil untuk peduli pada mereka yang kecanduan.

Keinginannya untuk mendirikan pusat rehabilitasi semakin kuat saat sebuah peristiwa terjadi pada 1998 lalu. Kala itu dirinya bermaksud mengajak keponakannya yang kecanduan narkoba untuk tinggal bersamanya di Semarang.

Waktu itu Muljadi berencana memboyong sang ponakan pada Jumat. Namun, lantaran sibuk bekerja, dia membeli tiket untuk berangkat Minggu. Sayang, sang keponakan keburu ditemukan tak bernyawa karena overdosis pada Rabu sebelumnya.

Peristiwa tersebut mengguncang batinnya hingga membuatnya merasa bersalah.

“Saya menyesal sekali waktu itu kenapa nggak langsung membawa dia ke Semarang. Seandainya saya langsung membawa dia hari itu juga, mungkin dia nggak meninggal secepat itu,” kenang ayah dua anak tersebut kepada Inibaru.id.

Setahun berselang, tepatnya pada 28 Juli 1999, Muljadi mendirikan Rumah Damai. Dia memilih nama tersebut karena ingin menjadikannya sebagai sebuah rumah bagi para pencandu.

Dibantu sang istri dan dua pembimbing laki-laki, Muljadi mengelola pusat rehabilitasi yang berlokasi di Jalan Cepoko RT 004 RW 001 Kelurahan Cepoko, Kecamatan Gunungpati, tersebut.

“Karena ini sebuah rumah, saya dan istri adalah orang tua mereka. Dua pembimbing yang membantu saya adalah kakak-kakak mereka,” kata Muljadi.

Usaha Berat

Bukan perkara gampang bagi Muljadi mengelola sebuah pusat rehabilitasi. Puluhan tahun dia menghadapi para pencandu yang memberontak dan menolak. Bahkan, ada di antara peserta rehabilitasi itu yang berusaha kabur atau bunuh diri.

"Mereka melakukan segala cara agar bisa keluar, mulai dari menggunakan seprai untuk memanjat tembok, membobol tembok, hingga mencoba bunuh diri," ungkap dia.

Menurut Muljadi, fase awal dalam proses rehabilitasi memang menjadi fase tersulit. Mengubah gaya hidup para pencandu yang akrab dengan kehidupan malam menjadi normal membutuhkan usaha yang berat.

Namun, berat bukan berarti nggak bisa dilakukan. Tujuannya satu, yakni berusaha menyalakan harapan bagi pencandu itu bahwa mereka punya kesempatan kedua untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Kendati nggak gampang, nggak sedikit dari mereka yang kemudian sukses berkarir pascamenyelesaikan rehabilitasi. Dia memang menginginkan "anak-anak"-nya bisa mengembangkan potensi apa pun.

“Ada yang semula menolak menjadi pendeta, sekarang justru menjadi pendeta. Ada juga yang menjadi advisor organisasi di bawah PBB di Amsterdam, Belanda. Saya bahagia karena bisa membantu hidup banyak orang. Sekarang saya punya banyak anak di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Selain membimbing para pencandu, lelaki yang sempat mengenyam kuliah jurusan Teknik Elektro di Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini juga mendirikan beberapa usaha. Usaha-usaha tersebut dikelolanya bersama para peserta rehabilitasi supaya mereka memiliki keterampilan dan penghasilan.

Warung Bakmi Damar Wulan, wedding organizer (WO) bernama House of Peace (HOPE), dan Kedai Kopi & Roti Ayong menjadi usaha-usaha yang melatih kemandirian mereka.

Di pengujung pertemuannya dengan Inibaru.id, Muljadi menyampaikan pesan pada anak muda Indonesia untuk jangan pernah mencoba narkoba.

“Mencoba narkoba itu ibarat mempertaruhkan hidup kita sendiri. Hidup itu indah, sudah seharusnya kita menjalaninya dengan baik.” tutupnya, lalu tersenyum. (Artika Sari/E03)