Meski Corona Datang, Toleransi Beragama Tak Boleh Lekang

Meski Corona Datang, Toleransi Beragama Tak Boleh Lekang
Para pemuka agama dalam acara halal bihalal tahun 2019. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Nggak bisa gelar buka bersama (bukber) akibat pandemi corona, beberapa pemuka agama di Kota Semarang ini mengatakan tetap berusaha menjaga toleransi. Mereka memanfaatkan teknologi hingga membuat format bukber yang sesuai protokol kesehatan.

Inibaru.id - Jika saya bilang kalau puasa tahun ini merupakan yang terberat apakah kamu setuju, Millens? Yap, karena pandemi, semua kegiatan jadi serba terhambat termasuk tradisi buka bersama. Salah satu kebiasaan saya setiap Ramadan tiba dalam beberapa tahun terakhir adalah buka atau sahur bersama umat lintas agama di berbagai tempat ibadah. Seru banget! Cara ini dijadikan media untuk menjaga toleransi antarumat beragama.

Sayangnya imbauan pemerintah soal larangan berkerumun membuat acara seperti ini sulit dilakukan. Tapi itu tak jadi masalah. Saya menyadari semua anjuran itu demi menekan angka penyebaran Covid-19.

Meski kumpul-kumpul dilarang, menjaga toleransi antarumat beragama tak boleh diabaikan. Karena itu, para pemuka agama memilih alternatif lain untuk menjaganya. Contohnya I Nengah Wirta Dharmayana, Ketua Parisada Hindu Dharma Kota Semarang nih, Millens. Dia berbagi pesan menyejukkan dan ucapan selamat melaksanakan ibadah puasa untuk umat Islam.

“Kami begitu mulai pelaksanaan puasa ya memberikan ucapan selamat kepada teman-teman yang melaksanakan puasa,” tuturnya.

Sahur bersama lintas agama pada 2019 lalu. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Sahur bersama lintas agama pada 2019 lalu. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Hal itu pula yang dilakukan oleh Ws Andi Gunawan ST C NNLP, Wakil Ketua Matakin Jawa Tengah yang mengaku sangat terbantu dengan teknologi untuk tetap menjaga toleransi dengan umat muslim pada bulan Ramadan.

“Kami pakai teknologi untuk menjaga silaturahmi. Minimal tidak mengganggu kegiatan mereka,” tutur Andi.

Sedangkan menurut Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Kristen Kota Semarang ini Sediyoko M Si, cara paling mudah bagi umat Katholik untuk menghargai Muslim yang tak berpuasa dengan cara menjaga puasa mereka.

Ada pula umat Buddha yang memberikan menu berbuka puasa kepada umat muslim dengan cara baru. Buka bersama yang biasanya digelar di pelataran wihara Tanah Putih, kini diadakan secara drive thru.

“Karena corona, Kini ada pembagian nasi dan takjil mengikuti protocol kesehatan yang berlaku sistem drive thru atau take away,” tutur Pandita Muda Dhammatejo Wahyudi A R.

Hm, adem banget ya melihat umat beragama saling menghargai. Kalau kamu menjaga toleransi dengan cara apa, Millens? (Zulfa Anisah/E05)