Mereka yang Menerima Ajakan Panik Greta Thunberg

Nggak cuma mengundang keprihatinan orang dewasa, anak-anak di Kota Semarang ini juga resah terhadap perubahan iklim yang semakin ekstrem. Dengan berpuisi, bernyanyi dan berorasi, anak-anak ini menyampaikan keresahan terhadap kondisi bumi saat ini.

Mereka yang Menerima Ajakan Panik Greta Thunberg
Roetji berorasi di depan peserta Jeda Untuk Ilim Semarang, Jumat (27/9) pagi. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Inibaru.id - Roetji Noer Soepono, bocah kelas 3 home schooling ini menyampaikan orasi di depan peserta aksi Jeda untuk Iklim Semarang dengan lantang. Di akhir orasinya dia mengatakan, "Alam telah marah sama kita!” Sebuah kalimat yang sering terdengar namun nggak betul-betul dipahami.

Selesai berorasi, Roetji kembali menyampaikan keresahannya terhadap perubahan iklim yang selama ini dia amati. “Aku tadi lupa bilang kalau pak Presiden harus mengatur pembuangan sampah dari warganya. Bu Susi jangan cuma mengatur pencurian ikan tapi juga pembuangan sampah di laut,” katanya serius.

Selain berorasi, Roetji juga membuat poster. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Bukan omong kosong. Roetji juga mengamati lingkungan tempatnya tinggal selama ini. “Dulu aku sering lihat ampal, sekarang nggak ada,” kataya. “Dulu ketika ke Semarang masih sejuk. Dulu Jogja sepi, sekarang macet pol. Di Solo kalau siang panas banget kalau malam dingin banget. Mungkin itu karena dampak pemanasan global,” lanjutnya.

Bocah berusia 8 tahun ini menjadi salah satu yang menerima ajakan panik Greta Thunberg, aktivis lingkungan asal Swedia yang belakangan viral.

Pengamatan sederhana Roetji ternyata mengubah cara pandangnya terhadap perubahan iklim yang semakin menggila. Hal itu lah yang membuatnya tergerak untuk mengikuti aksi Jeda Iklim Untuk Semarang dan mengajak orang tuanya.

Anak-anak dari SD YSKI berpuisi dan bernyanyi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Hal serupa juga dilakukan oleh Gandhi Aksaya Dhama Mahardhika yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini. Berbeda dengan Roetji, dia menulis surat untuk Presiden yang berisi beberapa imbauan.

“Jadi memohon kepada bapak agar memperketat penjagaan hutan, karena banyak pohon yang ditebang dan dibakar. Saya menyarankan mengganti pembangkit listrik tenaga fosil menjadi tenaga air atau angin atau matahari,“ bunyi suratnya kepada Presiden.

Gandhi menunjukkan surat yang ditulisnya untuk Presiden. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Gandhi bukan satu-satunya peserta yang membacakan surat untuk Presiden di depan Kantor Gubernur. Fimala Sakanirfana Mahardika dan Steven Nataneal Sitapela juga melakukan hal yang sama, lo. Mereka mendesak untuk menyelamatkan masa depan mereka

Fimala, siswa 13 tahun menyadari pekerjaan pemimpin negara sangat banyak, nggak hanya menghawatirkan krisis iklim. Tetapi dia berharap presiden tetap berpartisipasi. "Ya paling tidak Pak Jokowi ikut berpartisipasi, misalnya buat peraturan denda untuk orang yang buang sampah sembarangan," ujar Fimala sambil tersenyum.

Nggak mau kalah, Steven juga mengungkapkan aspirasinya. Dia meminta agar anggota pemerintahan bisa membantu masyarakat merawat lingkungan. "Pemerintah harus bantu rakyat menjaga lingkungan dengan menyediakan fasilitas yang pro lingkungan pula," kata Stevan sambil meringis kepanasan.

Meski anak-anak ini merasakan paparan matahari, mereka bersama 80 anak tetap kompak menyuarakan kekhawatiran mereka akan perubahan iklim. 

Wah kecil-kecil sudah sadar dengan bahaya perubahan iklim ya, Millens! Begaimana denganmu? (Zulfa Anisah, Lala Nilawanti/E05)