Mereka yang Masih Menganggap Betapa Berharga dan Pentingnya Radio

Mereka yang Masih Menganggap Betapa Berharga dan Pentingnya Radio
Seberapa penting radio saat ini? (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Radio di zaman kemerdekaan mungkin jadi media penting dalam menyebarkan informasi. Lalu bagaimana saat ini? Orang-orang ini tampaknya cukup menegaskan kalau radio masih punya peran yang istimewa.

Inibaru.id - Radio punya banyak peran penting bagi bangsa Indonesia, terutama pada masa ketika para tokoh besar sedang susah payah merebut kemerdekaan. Bahkan, 11 September yang kini diperingati sebagai Hari Radio Nasional menjadi tanggal bersejarah dalam riwayat perjuangan Tanah Air.

Menurut Historia.id, tanggal tersebut merupakan kali pertama Radio Republik Indonesia (RRI) mengudara. Sebelum mengudara, RRI merupakan kantor radio Jepang  bernama Hosokyoku. Kantor tersebut kemudian direbut bangsa Indonesia. 

Radio adalah corong perjuangan. Kala itu, semua arus informasi disampaikan lewat radio, mulai dari propaganda perjuangan hingga ikrar Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sekarang, ada yang bilang radio ada di tepian jurang. Benarkah?

Berlebihan kalau mengatakan radio sudah habis. Tanyalah Rini, salah seorang pendengar setia radio dari Semarang. Menyandang disabilitas pengelihatan, perempuan berusia 65 tahun itu sangat menggantungkan hidupnya pada radio.

Bagi penyandang disabilitas, mendengarkan radio penuntun hidupnya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Bagi penyandang disabilitas, mendengarkan radio penuntun hidupnya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Rini menjalani hari-hari dengan bantuan kursi roda. Pengelihatannya juga sudah nggak berfungsi sejak 10 tahun silam. Semenjak itu, dia sangat mengandalkan radio.

“Radio adalah hal penting dalam hidup saya,” ujar Rini saat diwawancarai Inibaru.id lewat telpon, Kamis (10/9/2020).

Mendengarkan radio memang sudah menjadi rutinitas Rini sejak kecil. Dari pagi sampai sore dia mendengarkan siaran audio yang disalurkan melalui pemancar tersebut. Nggak hanya menyimak  siaran dalam negeri, dia juga mendapatkan informasi dari luar negeri via radio.

Meski dengan kondisi yang kurang "sempurna", Rini menolak menyerah. Radio memberinya pandangan dunia dengan terang-benderang meski apa yang dilihatnya selalu gelap. Radio juga menuntun Rini dalam mendapat teman dan pergaulan.

“Kalau radio rohani, atau biasanya Radio Idola bikin acara, saya sering datang. Dari situ saya jadi kenal banyak orang,” akunya.

Yuni Kurniarini mengajar muridnya lewat radio. (Doc Yuni)<br>
Yuni Kurniarini mengajar muridnya lewat radio. (Doc Yuni)

Selain Rini, ada pula Yuni Kurniarini yang mengaku terbantu dengan keberadaan radio. Selama pandemi Covid-19, Guru Biologi SMA N 14 Semarang itu memanfaatkan radio dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Metode mengajar dengan radio ini dilakukannya melalui program "Belajar di RRI". Perlu kamu tahu, Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang memang membuat program rutin yang memberi kesempatan para guru di Semarang dari berbagai jenjang pendidikan untuk siaran sekaligus mengajar.

“Menurut saya, jadi pengalaman yang unik ya. Apalagi saya punya basic di radio juga. Senang sekali!” terang Yuni via telepon.

Baginya, mengajar dengan memanfaatkan radio memiliki banyak manfaat, salah satunya mengurangi biaya membeli kuota, karena selama ini PJJ memang kebanyakan dilakukan pakai platform digital memanfaatkan jaringan internet. Ini juga bisa sekaligus memberi edukasi siswa tentang radio.

Sebelumnya, dia memang menyayangkan karena anak zaman sekarang, termasuk para muridnya, nggak banyak yang mengenal radio. Nah, dia sengaja menggunakan frekuensi radio untuk PJJ sebagai sarana edukasi, meski, tentu saja tetap ada kekurangannya.

“Yah, kekurangannya memang interaksi secara visual. Tapi, apa pun itu, komunikasi lewat radio terasa lebih dekat dan menyentuh daripada sekadar dengar lagu-lagu atau melihat video di internet,” tutup Yuni.

Thriyani Rahmania menganggap radio bisa jadi tempat belajar yang istimewa. (Doc. Thriyania)<br>
Thriyani Rahmania menganggap radio bisa jadi tempat belajar yang istimewa. (Doc. Thriyania)

Yap, bagi sebagian orang, radio memang masih seperti itu. Hal ini pula yang dialami Thriyani Rahmania. Penyiar di Radio Pro Alma FM itu banyak belajar dari radio tempatnya bekerja. Radio, bagi Thriyani, membuatnya belajar menjadi pendengar yang baik.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang itu juga mengaku belajar berkomunikasi dengan baik via radio. Sebelum menjadi penyiar, dia sempat berpikir kalau berbicara itu mudah. Ternyata nggak seperti itu.

Berkomunikasi, kata Thriyani, bukan nggak sekadar berbicara, tapi berbicara dengan benar. Menurutnya, ini sejalan dengan kuliah yang digelutinya, jadi bakal sangat berguna untuk masa depan.

“Radio itu kayak tempat yang klasik, tapi punya banyak makna dan manfaat,” pungkasnya.

Ternyata, nggak cuma pada masa perjuangan atau awal kemerdekaan, bagi sebagian orang, radio rupanya masih penting ya, Millens! (Audrian F/E03)