Mengenal Thio Sing Liong dan Thio Thiam Tjong, Ayah-Anak Pengusaha Tajir Melintir Semarang

Mengenal Thio Sing Liong dan Thio Thiam Tjong, Ayah-Anak Pengusaha Tajir Melintir Semarang
Di belakang Mausoleum Thio Sing Liong terdapat bongpay Thio Thiam Tjong dan dua istrinya. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Saya termasuk orang yang nggak kaget mendengar keturunan Tionghoa menjadi saudagar sukses. Di mata saya mereka golongan yang gigihnya kebangetan. Banyak di antara mereka yang mendirikan bermacam usaha dan meneruskan pada keturunan-keturunannya. Hal itulah yang juga dilakukan oleh pengusaha kaya raya waktu itu bernama Thio Siong Liong hingga berlanjut ke anaknya Thio Thiam Tjong.

Inibaru.id – Mendatangi Mausoleum Thio Sing Liong yang terletak di Jalan Sriwijaya Semarang membuat saya penasaran dengan sosoknya. Dari informasi yang saya temukan, Thio Sing Liong (1871-1940) merupakan seorang pengusaha kaya raya. Usahanya bergerak di bidang properti dan ekspor rempah-rempah.

Hingga sekarang jejak propertinya masih tersebar di Semarang, termasuk Restoran Goodfellas, Rumah Akar (Gedung Lloyd Indonesia), dan Gedung Toko Oen. Dia juga pernah menempati rumah besar di daerah Kranggan. Arsitek terkenal Herman Thomas Karsten bahkan pernah menjadi desainer bangunan miliknya.

Karangan bunga yang terdapat di dalam mausoleum, salah satunya berasal dari Societeit Hwa Yoe Hwee Kwan. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Karangan bunga yang terdapat di dalam mausoleum, salah satunya berasal dari Societeit Hwa Yoe Hwee Kwan. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Thio Sing Liong memiliki anak laki-laki bernama Thio Thiam Tjong, hasil perkawinannya dengan istri pertama Tan Tien Nio. Thio Thiam Tjong lahir di Semarang, 4 April 1896 dan meninggal pada 19 September 1969 di Belanda. Sama seperti ayahnya yang berpoligami, Thio Thiam Tjong memiliki dua istri yaitu Goei Hoen Yang dan Goei Lee Ging. Sayangnya, dari dua istrinya itu Thio Thiam Tjong nggak memiliki anak.

Bukan perkara sulit untuk Thio Thiam Tjong bersekolah di Belanda, tepatnya di Hoogere Burgerschool (HBS) di Leiden dan Delft Technische Hogeschool. Belum sempat lulus dari Delft Tehcnische Hogeschool, dia pulang ke Semarang untuk melanjutkan bisnis ayahnya pada 1922. Kariernya terus menanjak hingga menjadi direktur dan komisaris.

Thio Thiam Tjong menurut buku Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches karya Leo Suryadinata menjelaskan, usai ayahnya pensiun dia meneruskan bisnis di bidang ekspor-impor, tepatnya Firma Seng Liong.

Bongpay di belakang mausoleum. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)<br>
Bongpay di belakang mausoleum. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Dia juga aktif berorganisasi. Keberadaannya di organisasi pun tampaknya nggak bisa dianggap remeh. Dia pernah menjadi ketua cabang Chung Hwa Hui (CHH) Semarang yang merupakan perhimpunan para Tionghoa beragam profesi yang pernah bersekolah di Belanda.

Selain itu pernah menjadi Ketua dewan Sekolah Hua-ying Chung-hsuch (Sekolah Tionghoa berbahasa Inggris), Kepala Sing Hwee (Badan Perdagangan Tionghoa), ketua umum Partai Demokrat Tionghoa Indonesia, ikut mendirikan pula Badan Permujawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) dan menjadi salah seorang pemrakarsa komite pendirian Universitas Tarumanegara yang ada di Jakarta.

Menarik ya jejak rekamnya, Millens, bisa menjadi bahan pelajaran untuk generasi-generasi penerus. Eits, jangan cuma nyontoh poligaminya ya. He. (Isma Swastiningrum/E05)