Mengenal Ragam Manfaat dan Makna Puasa dari Berbagai Perspektif Agama

Mengenal Ragam Manfaat dan Makna Puasa dari Berbagai Perspektif Agama
Umat Buddha menjadikan puasa sebagai upaya untuk memperoleh ketenangan batin. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Puasa dalam berbagai agama nggak jauh-jauh dari pengendalian hawa nafsu lahiriyah dan batiniah. Hal ini disampaikan oleh berbagai pemuka agama dan aliran kepercayaan. Penasaran?

Inibaru.id - Tak cuma menahan lapar dan haus, berpuasa dalam Islam juga mengajarkan pengikutnya untuk menahan hawa nafsu. Namun tahukah kamu bahwa umat agama dan penganut aliran kepercayaan lain juga melaksanakan puasa?

Nah, kali ini inibaru.id sudah ngobrol dengan pemuka dari berbagai agama dan kepercayaan tentang makna dan manfaat puasa di berbagai agama. Penasaran?

Kristen

Dari berbagai rujukan kitab, ada bermacam manfaat puasa bagi umat Kristiani. Beberapa di antaranya melepaskan diri dari belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk (kayu lengkung di tengkuk kerbau), memerdekakan orang teraniaya, dan mematahkan kuk yang ada di sekitar.

Selain itu, puasa bermanfaat untuk memberi makan yang kelaparan, mencarikan rumah atau tumpangan, serta menyembunyikan diri terhadap persoalan saudaranya sendiri.

“Puasa itu sebuah wahana untuk belajar menghayati penderitaan Tuhan Yesus, sebagai tempat untuk mengelola hati dan sebagai media untuk menghayati fitrah manusia supaya tetap eling dan waspada,” tutur Pendeta Sediyoko MSi, Persekutuan  Gereja-Gereja Kristen Kota Semarang

Katolik

Puasa dan pantang dalam Gereja Katolik menjadi bagian integral hidup beriman. Puasa dan pantang yang dilakukan tak hanya terkait pada lahiriah tapi diharapkan dapat semakin membantu proses transformasi diri atau perubahan diri ke arah yang lebih baik.

Hal yang menarik dari puasa dan pantang yang dilaksanakan umat Katolik adalah umat katolik akan mendermakan semua uang hasil puasa dan pantangnya

Puasa yang dilakukan umat Katolik bertujuan melatih jiwa sosial. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)<br>
Puasa yang dilakukan umat Katolik bertujuan melatih jiwa sosial. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

“Cara berpuasa dan berpantang semacam ini dapat menghindarkan kecenderungan pengeluaran pribadi atau keluarga yang lebih besar pada masa puasa dibandingkan pengeluaran harian di hari biasa," kata Romo Eduardus Didik Chahyono SJ, Pastor Kepala Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang. "Sekaligus untuk melatih jiwa sosial dalam diri umat.”

Konghucu

Berpuasa (bersuci atau berpantang) dalam Konghucu bertujuan untuk menghentikan kegemaran dan keinginan agar wawas dari pengaruh dan barang yang menyesatkan. Selain itu, puasa juga bertujuan agar diri bisa harmonis dengan nafsu dan nurani supaya semakin satya dan iman semakin teguh kepada Tuhan yang kembali pada kesusilaan.

“Setelah bersuci diri maka itulah tujuannya mencapai kecerahan yang hubungannya merajut spiritual kita kepada Tuhan YME,” terang Ws Andi Gunawan ST C NNLP, Ketua Matakin Provinsi Jateng.

Hindu

Menurut ajaran Hindu, puasa tak sekadar menahan haus dan lapar atau menjadi orang miskin dan serba kekurangan atau menghapus dosa. Namun mengendalikan nafsu indriah dan keinginan. Jadi, semakin sedikit keinginan seseorang, semakin sempurna keimanannya.

“Puasa bukan bertujuan agar kita masuk surga tapi meningkatkan spiritualitas kita semoga menjadi pribadi yang santun dan damai,” tutur I Nengah Wirta Darmayana SH MH, Ketua Parisade Hindu Dharma Kota Semarang.

Umat Hindu yang berpuasa akan mengendalikan nafsu indriah. (Wonderfulbali)<br>
Umat Hindu yang berpuasa akan mengendalikan nafsu indriah. (Wonderfulbali)

Buddha

Di dalam pusaka kitab suci Tripitaka, semua ibadah dalam Hindu bersifat imbauan, termasuk dalam hal berpuasa. Manfaat utama dari puasa dalam Buddha adalah ketenangan batin seperti buah dari praktik agama Buddha apapun.

“Ketenangan batin tidak menimbulkan ledakan keserakaan, kesombongan dan ego atau gelap batin bukan materi atau adiduniawi” tutur Pandita Muda Dhammatejo Wahyudi A R.

Sapta Dharma

Puasa dalam Sapta Darma sangat bermanfaat untuk pengendalian hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari. Nafsu-nafsu dalam ajaran Sapta Darma disimbolkan dalam lingkaran hitam (mulut), merah (telinga), kuning (mata), dan putih (hidung). Semuanya sesuai dengan yang ada dalam wahyu Simbul Pribadi Manusia.

“Manusia yang bisa mengendalikan hawa nafsunya akan menjadi manusia yang berbudi luhur, memiliki kewaskitaan atau keutamaan agar hidupnya bisa bahagia di dunia maupun di alam langgeng,” terang Dwi Setiyani Utami, Sekretaris Persatuan Warga Sapta Darma Jawa Tengah.

Kalau makna dan manfaat berpuasa versimu sendiri apa nih, Millens? (Zulfa Anisah/E05)