Menampik Stigma Negatif, Komunitas Tarot Semarang: Tarot Bukan Klenik!

Menampik Stigma Negatif, Komunitas Tarot Semarang: Tarot Bukan Klenik!
Abdul Hadi, selaku ketua Komunitas Tarot Semarang menjelaskan pentingnya literasi mengenai tarot. (Inibaru.id/ Bayu N)

Stigma negatif yang kerap menghantui para reader tarot membuat Komunitas Tarot Semarang berusaha keras melakukan sosialisasi dan edukasi, salah satunya dengan menggelar event pembacaan tarot pada Hari Tarot Internasional. Dalam acara tersebut, mereka menegaskan bahwa tarot bukan klenik. 

Inibaru.id - Hidup di tengah sebagian masyarakat yang masih meyakini hal-hal mistis membuat banyak hal dikaitkan dengan dunia klenik, nggak terkecuali peramal. Ini yang kerap dirasakan para anggota Komunitas Tarot Semarang (KTS). Berkali-kali mereka dianggap paranormal yang melakukan kegiatan menyimpang dari agama.

Inilah yang dikeluhkan Ketua KTS Abdul Hadi. Ditemui pada peringatan Hari Tarot Internasional di Sentraland Semarang, Selasa (25/5/2021) lalu, Hadi mengungkapkan, upaya untuk meluruskan stigma negatif tersebut memang harus terus digiatkan.

"Yang pasti, perlu terus ada sosialisasi dan edukasi terkait tarot,” ungkap lelaki ramah itu.

Buku panduan bagi calon <i>reader</i> tarot. (Inibaru.id/ Bayu N)
Buku panduan bagi calon reader tarot. (Inibaru.id/ Bayu N)

Sekadar informasi, sejak mulai aktif pada 2010, KTS telah menjadi wadah bagi para reader tarot di Kota Semarang. Saat ini, anggota KTS terdiri atas 30 anggota, yang berasal dari pelbagai kalangan, mulai dari dewasa hingga yang masih berstatus mahasiswa.

Menurut Hadi, tarot sebenarnya merupakan kegiatan yang menyenangkan dan bisa dilogika. Bahkan, untuk mampu membaca tarot, seseorang harus mempelajarinya terlebih dahulu, lo!

Hal serupa juga diungkapkan Aulia Muhammad. Pembaca tarot cum grafolog yang saat ini juga dikenal sebagai Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah itu mengatakan, penting bagi komunitas tarot di Indonesia untuk terus aktif mengadakan sosialisasi.

"Acara ini nantinya bisa digunakan sebagai ajang literasi tarot kepada masyarakat luas," ungkap lelaki berkacamata tersebut.

Berbagai layanan ramalan gratis yang disediakan KTS pada Hari Tarot Internasional. (Inibaru.id/ Bayu N)
Berbagai layanan ramalan gratis yang disediakan KTS pada Hari Tarot Internasional. (Inibaru.id/ Bayu N)

Lebih jauh, dia juga menyayangkan stigma negatif lain yang menganggap tarot adalah "mainan" kalangan elit, padahal ini keliru. Menurut Aulia, siapa pun bisa diramal. Mereka juga bisa menjadi pembaca tarot.

“Dulu ada tarot yang pakai gambar orang-orang Indonesia, yang bertujuan supaya tarot bisa lebih dipahami sebagai satu kegiatan yang merakyat, nggak cuma buat kalangan atas,” terang Aulia yang hari itu turut serta dalam peringatan Hari Tarot Internasional di Sentraland Semarang.

Pembacaan Tarot Gratis

Nggak cuma meramal, para <i>reader</i> juga mengedukasi para kliennya perihal ramalan. (Inibaru.id/ Bayu N)
Nggak cuma meramal, para reader juga mengedukasi para kliennya perihal ramalan. (Inibaru.id/ Bayu N)

Tahun ini, KTS memeringati Hari Tarot Internasional dengan membuat acara di tiga titik berbeda yang digelar serentak. Selain di Sentraland, komunitas yang sudah 11 tahun berdiri itu juga dilangsungkan di Kopium Café Banyumanik dan Nasi Uduk Hj Wien di Lamper Lor, Semarang Selatan.

Dalam acara yang berlangsung tiga hari tersebut, KTS membuka pembacaan tarot dan media lainnya secara cuma-cuma. Nggak cuma itu, ada pula talkshow yang, selain mengenalkan tarot, juga bertujuan untuk meluruskan stigma-stigma negatif yang melekat pada pembacaan kartu ini.

Hingga kini, KTS masih terus berupaya mengenalkan tarot kepada masyarakat luas. Nggak cuma yang berkaitan dengan hal klenik yang melanggar agama, tapi juga juga sosialisasi bahwa sejatinya tarot bukanlah suatu kegiatan yang hanya diperuntukkan bagi kalangan elit.

Untuk kamu yang punya keinginan untuk tahu lebih detail terkait pembacaan tarot, boleh banget menghubungi KTS. Mereka ramah-ramah, kok, Millens! (Bayu N/E03)