Melihat Buruh Perpak Bekerja, Berpacu dengan Waktu untuk Dapatkan Recehan

Melihat Buruh Perpak Bekerja, Berpacu dengan Waktu untuk Dapatkan Recehan
Buruh perpak yang tengah bekerja. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Di antara kesibukan pengepul dan petani yang melakukan transaksi di Terminal Agribisnis Jawa Tengah, terdapat buruh perpak yang juga 'nyempil' mencari recehan. Jika di hari biasa penghasilan mereka juga nggak banyak, bagaimana kondisi mereka saat pandemi corona seperti sekarang ini?

Inibaru.id - Tinggal di daerah pegunungan membuat saya punya privilese untuk menikmati berbagai sayuran yang tumbuh dengan mudah. Selain itu, nggak jauh dari tempat tinggal saya juga terdapat Terminal Agribisnis Jawa Tengah, Pasar Sayur Ngasem. Setelah bertahun-tahun nggak pernah berkunjung, beberapa hari lalu saya menyempatkan diri untuk datang dan melihat-lihat berbagai komoditas yang sedang 'musim'.

Berbeda dari biasanya, kali ini cuma ada beberapa pengepul dan petani yang melakukan transaksi. Pandemi corona bikin sebagian masyarakat memilih untuk tetap di rumah. Selain pengepul dan petani, terlihat beberapa lelaki yang berada di belakang mobil bak terbuka yang penuh dengan kol atau sawi putih.

Dengan cekatan, mereka mengambil beberapa sayuran dan menanggalkan beberapa kelopaknya yang rusak. Sayuran tersebut kemudian ditata di dalam keranjang dengan anyaman jarang. Sambil menyusunnya secara rapi dan menggunung, buruh-buruh tersebut mengikatnya dengan tali rafia.

Salah satu dari pria yang sibuk tersebut adalah Kabul. Lelaki paruh baya tersebut menyebut pekerjaannya sebagai buruh perpak. Mungkin karena tugasnya adalah mengepak sayuran .

"Namanya buruh perpak mbak," kata lelaki paruhbaya ini sambi menata sawi.

Buruh lain yang tengah menata daun bawang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Buruh lain yang tengah menata daun bawang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Menurutnya, satu mobil bak terbuka penuh sayuran bisa dikerjakan oleh 2-4 orang buruh perpak. Selain butuh ketelitian, buruh perpak juga bekerja mengejar waktu. Berbagai sayuran yang selesai dipak kemudian ditimbang dan dijual ke tengkulak. Nggak heran para buruh perlu melakukannya bersama-sama untuk mengejar target tersebut

"Kalau sendirian nggak kuat," sambungnya.

Bekerja berpacu dengan waktu sepertinya sudah biasa dilakukan para buruh ini. Yogi, buruh perpak lainnya mengaku hanya butuh rata-rata 3-5 menit saja untuk mengepak satu keranjang sayuran yang menggunung.

Dalam sehari, para buruh perpak ini hanya mengantongi pendapatan sekitar 30-40 ribu. Jumlah uang yang didapatkan bisa saja lebih sedikit jika nggak ada barang yang bisa dipak. Selain jenis sayuran yang bisa dipak terbatas, yakni kol dan sawi putih saja, di musim pandemi corona seperti sekarang ini, nggak banyak pedagang yang datang ke pasar sayur yang diklaim terbesar se-Jawa Tengah tersebut.

Jika kalah berpacu dengan waktu saja kantong mereka bisa kosong, apalagi kini dihadapkan dengan situasi sulit akibat corona. Semoga situasi seperti ini segera membaik ya, Millens! (Zulfa Anisah/E07)