Semangat Kopi Semawis dalam Melestarikan Budaya Tionghoa di Kota Semarang

Sebuah tradisi nggak lahir serta-merta. Butuh inisiasi dan konsistensi. Pun Kopi Semawis yang konsisten menggelar Pasar Malam Semawis dan Pasar Imlek Semawis. Nggak cuma itu, citra kumuh kawasan Pecinan juga luntur berkat ide cemerlang organisasi ini.

Semangat Kopi Semawis dalam Melestarikan Budaya Tionghoa di Kota Semarang
Peresmian Pasar Imlek Semawis 2019 oleh Kopi Semawis dan pejabat daerah. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Inibaru.id – Kalau kamu tinggal di Semarang kamu pasti sudah pernah mendengar Pasar Malam Semawis yang digelar di Pecinan Semarang. Pasar ini hanya dibuka saat akhir minggu di kawasan Pecinan. Di sini kamu bisa memuaskan hasrat kulinermu. Sebagian besar kuliner yang dijual memang khas Tionghoa, Millens.

Suasana di sana bakal lebih meriah saat Imlek tiba. Pasalnya, kamu nggak cuma bisa menikmati aneka penganan khas Imlek, tapi juga bisa menyaksikan berbagai pertunjukan seni seperti wayang potehi dan Barongsai. Saking meriahnya, acara ini selalu dinanti masyarakat saat Imlek tiba.

Meski keseruan Pasar Imlek Semawis sudah usai, masih ada kok hal yang bisa dikulik. Contohnya siapa di balik adanya pasar ini. Lahirnya Pasar Imlek Semawis nggak lepas dari sebuah organisasi bernama Kopi Semawis yang bekerjasama dengan Pemkot Semarang.

Para pengunjung lalu lalang saat Pasar Imlek Semawis berlangsung. (Inibaru.id/ Sitha Afril)

“Awal mula penyelenggaraan Pasar Imlek ini pada tahun 2004. Jadi, tahun ini adalah tahun ke-15 dari penyelenggaraan Pasar Imlek di kawasan Semawis,” ungkap Johan, salah satu anggota Kopi Semawis pada Inibaru.id saat penyelanggaraan Pasar Imlek Semawis, Minggu (3/2).

Kopi Semawis yang terbentuk sejak 2003 silam. Nama ini merupakan akronim dari Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata. Selain itu, nama ini memiliki makna filosofis yang mendalam, lo. Kata kopi diartikan sebagai jenis minuman berkafein yang dipercaya mampu menahan rasa kantuk dan menjadikan tubuh bugar. Sedangkan semawis merupakan sinonim dari nama Semarang dalam Bahasa Jawa Alus yang digunakan pada tahun 1940-an.

Jika dimaknai secara utuh, Kopi Semawis adalah sebuah pengharapan agar masyarakat, khususnya wisatawan dapat menikmati Kota Semarang lebih lama serta nyaman.

Bahkan bisa dibilang, komunitas ini merupakan garda dari bangkitnya perekonomian masyarakat di sekitar Pecinan dengan adanya pasar malam rutin di tiap weekend. Para anggota komunitas ini memiliki semangat yang tinggi untuk melestarikan kebudayaan Tionghoa.

Seni pertunjukan Barongsai yang selalu ditunggu pengunjung Pasar Imlek Semawis. (Inibaru.id/ Sitha Afril)

"Kami ingin menjembatani komunikasi antara masyarakat keturunan Tionghoa dengan masyarakat di luar etnis Tionghoa di Semarang lewat sentuhan kuliner. Jadi nggak heran jika anggota organisasi ini multietnis dan agama. Bukan hanya Konghucu," ungkap Hidayat Pranandya, Pengurus Harian Kopi Semawis, Jumat (15/2).

FYI, sebelum tahun 2000-an, kawasan Pecinan merupakan pemukiman dan pusat bisnis warga keturunan Tionghoa yang dikenal bising dan kumuh. Tapi sekarang, kawasan ini telah menjadi salah satu sudut kota yang wajib dikunjungi para wisatawan. Soalnya, selain menjadi pusat kuliner, kamu juga bisa belajar budaya dari masyarakat Tionghoa yang ada di sana. Mantul, kan?

Satu hal yang bisa saya pelajari adalah ketepatan mengorganisir masyarakat akan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Buktinya ada pada semangat Kopi Semawis yang berhasil merubah citra kawasan Pecinan menjadi objek wisata kuliner dan "markas" terselenggaranya Pasar Imlek sebagai festival tahunan yang ciamik! (Sitha Afril/E05)