Lewat Objek Kain Perca dan Kancing, I Putu Adi Suanjaya Merefleksikan Kehidupan Manusia

Lewat Objek Kain Perca dan Kancing, I Putu Adi Suanjaya Merefleksikan Kehidupan Manusia
Dalam karyanya, I Putu Adi Suanjaya menghadirkan boneka dengan mata kancing dan tubuh berbalut jahitan kain perca. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Karakteristik karya seorang seniman memang berbeda-beda. Hal unik muncul dari I Putu Adi Suanjaya yang menghadirkan kancing, kain perca, dan boneka dalam setiap karyanya.

Inibaru.id – Seni memang selalu menjadi medium refleksi yang menarik, Millens. Dalam karya-karyanya, I Putu Adi Suanjaya atau “Kencut” menghadirkan refleksi atas manusia dan kehidupannya. Seniman muda kelahiran Bali tersebut selalu menghadirkan karakter boneka dalam karyanya, baik yang dua dimensi maupun tiga dimensi.

Menurut Kencut, boneka yang dibentuk dari kain-kain perca beragam motif yang seperti tambalan adalah simbol dari manusia. Kain-kain perca beragam motif dan warna itu adalah simbol dari fashion atau pakaian yang selalu melekat dalam tubuh manusia masa kini. Pakaian itu digunakan oleh manusia karena manusia selalu berpura-pura dalam kehidupannya.

Pakaian atau fashion yang menjadi tampak luar, menurut Kencut, menjadi eskapisme dari kenyataan dan kondisi sekitarnya. Hal itu dilakukan agar manusia bisa dilihat sesuai keinginannya ketika menggunakan pakaian itu di ruang publik. Kepura-puraan tersebut terus berulang dalam keseharian manusia. Pengulangan dan kepura-puraan itu diangkat dalam pameran tunggalnya “Repeat” yang diselenggarakan pada 12 Maret – 12 April di Artotel Gajahmada, Semarang.

“Anggaplah seperti casing HP, dalamnya apa, tetapi di luarnya berbeda,” ucapnya melalui pesan singkat, Senin (16/3).

Pemilihan boneka juga dipengaruhi oleh latar belakangnya yang tumbuh di Bali. Selama tinggal di Bali, Kencut tertarik melihat benda-benda yang dibentuk menjadi sebuah figur. Dari pengalaman melihat tersebut, Kencut menemukan boneka sebagai figur yang tepat untuk menggambarkan manusia.

Boneka, kain perca, dan kancing dalam karya Kencut didapatkan dari perilaku manusia dalam kesehariannya. (Inibaru.id/Gregorius Manurung)
Boneka, kain perca, dan kancing dalam karya Kencut didapatkan dari perilaku manusia dalam kesehariannya. (Inibaru.id/Gregorius Manurung)

Pada setiap karakter boneka karyanya, Kencut menggunakan gambar kancing sebagai pengganti mata. Kancing, baginya, sangatlah cocok menjadi metafora dari mata. Bagian tubuh ini menurutnya merupakan jendela jiwa manusia yang sangat sulit berbohong sehingga berlawanan dengan kepura-puraan yang melekat dalam diri manusia.

Itulah mengapa Kencut menghadirkan kancing yang diam sebagai simbol dari mata yang selalu bergerak. Sederhananya, Kencut menghadirkan kontradiksi lewat objek kancing sebagai simbol mata.

“Soalnya dari mata saja kita bisa melihat orang atau manusia ini sedang apa dan bagaimana,” tambahnya.

Kamu suka berpura-pura juga nggak, Millens? He (Gregorius Manurung/E05)