Lampaui Batas, Roemah Difabel Latih Anggotanya Jadi Manusia Berdaya

Siapa bilang orang-orang difabel nggak bisa berkarya? Di Roemah Difabel ini, mereka dilatih mendiri dan bermanfaat bagi orang lain. Seperti apa cerita mereka?

Lampaui Batas, Roemah Difabel Latih Anggotanya Jadi Manusia Berdaya
Noviana Dibyantari bersama beberapa anak didiknya di Indonesia City Expo 2019 di Lapangan Simpang Lima, Rabu (3/7). (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Inibaru.id - Ada yang berbeda saat saya berkunjung ke Indonesia City Expo 2019 di Lapangan Simpang Lima beberapa hari lalu. Di antara berbagai stan dengan hiasannya yang meriah, ada satu stan di bagian paling ujung yang bikin saya penasaran. Jauh dari kata heboh, di stan ini hanya ada perempuan berjilbab yang sedang menyulam serta laki-laki di sampingnya yang sedang meraba-raba piano.

Pianis jebolan Roemah Difabel yang seorang tuna netra. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Penasaran, saya langsung mendekat. Tertulis Roemah Difabel di atas stan berukuran sekitar 3x2 meter tersebut. Beberapa baju batik, mainan anak-anak serta aksesori lainnya turut dipajang. Masih termangu, perempuan paruh baya dengan rambut memutih itu menyapa saya. “Monggo, Mbak dilihat-lihat,” katanya menawarkan produk yang ada di stan tersebut.

Dialah Noviana Dibyantari. Inisiator dan founder Roemah Difabel yang kini aktif ikut berbagai pameran. Di dalam stan, saya melihat beberapa orang dengan alat bantu jalan ikut menyambut saya. Ternyata, beberapa orang ini adalah anak didik Noviana yang kini sudah berdaya.

Karya Difabel

“Ini karya dari teman-teman difabel, Mbak,” kata Noviana yang bikin saya terkejut. Yap, teman-teman dengan berbagai keterbatasan inilah yang membuat berbagai produk ini. Menurutnya, Rumah Difabel bukan hanya komunitas, namun adalah tempat belajar. “Beberapa orang sudah berkarja jadi penulis atau produksi berbagai rajutan, suvenir, lukisan, dan lain-lain,” tambah Noviana.

Berbagai produk karya difabel yang ikut dipamerkan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Dengan segala ketelatenannya, Noviana menggarap Roemah Difabel sejak April 2014 yang lalu. Selama 2 tahun pertama, dia sempat nggak punya tempat untuk menampung puluhan orang yang ingin bergabung di komunitasnya. Ini tentu sedih untuk di ingat. Namun saat ini Noviana bisa tersenyum, sudah banyak difabel yang dia bantu agar berdaya secara ekonomi.

Menurut Noviana, terbentunknya komunitas ini berasal dari keprihatinan karena berbagai komunitas difabel hanya mewadahi satu jenis disabilitas saja. “Kami ingin merangkul semua dan dinamai Roemah Difabel, semua bisa masuk dan bergabung,” imbuhnya.

Suasana di depan stand Roemah Difabel. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Ida, salah seorang anak didik Noviana kini menjadi modiste yang menerima berbagai pesanan. Omzetnya pun nggak main-main. Selain menerima order satuan, dia juga seringkali menerima pesanan dalam partai besar. Benar saja, Rumah Difabel bukan hanya jadi tempat berkumpul tapi sungguh bisa memberikan manfaat untuk anggotanya. Sesuai jargonnya, Rumah Inspirasi, Kreativitas, dan Solusi.

Semoga kisah tentang Roemah Difabel menginspirasi ya, Millens? O ya, Kalau kamu berminta menjadi relawan, datang saja ke basecamp mereka di Jalan MT Haryono nomor 266 Semarang. (Zulfa Anisah/E05)