Membuka Mata Masyarakat Tentang Mangrove Ala Laili

Kesadaran masyarakat yang rendah tentang menjaga lingkungan pesisir membuat gadis satu ini tergerak untuk membuat satu gebrakan. Dia lantas memilih untuk mengampanyekan kelestarian lingkungan lewat jalur pendidikan.

Membuka Mata Masyarakat Tentang Mangrove Ala Laili
Laili memilih menjadi guru agar membuka pemikiran para siswa untuk peduli lingkungan (Inibaru.id/Artika Sari)

Inibaru.id – Tinggal di daerah pesisir yang kerap dilanda rob menggugah Laili Fitriyanti untuk berbuat sesuatu. Dia sadar, kelestarian lingkungan itu harus diperhatikan agar nggak menimbulkan bencana besar seperti rob dan abrasi. Namun, banyak warga yang belum sadar pentingnya hal itu sehingga Laili bertekad untuk mengampanyekan kelestarian lingkungan lewat pendidikan.

Semula, nggak sedikitpun terlintas di benak Laili untuk menjadi guru. Dia memilih menjadi buruh seusai lulus dari SMA. Pemikiran perempuan kelahiran 28 Mei 1987 ini mulai berubah sejak bertemu dengan seorang relawan dari Jepang pada 2008 silam.

Relawan itu tinggal di rumah Laili selama dua bulan. Dari situlah Laili kerap bertukar pikiran tentang cita-cita dan lingkungannya. Sang relawan itu lantas menyarankan Laili untuk menjadi guru di desanya agar dapat mengedukasi warga tentang pentingnya kelestarian lingkungan.

Baca juga:
Kue dan Batik, Hasil Olahan Mangrove yang Ciamik
Menjadi Anak Muda Pelestari Mangrove, Kenapa Tidak?

“Waktu itu dia bilang kalau saya harus jadi guru. Saya harus mengubah pola pikir masyarakat lewat pendidikan supaya wawasan mereka bertambah. Dia juga yang menyadarkan saya bahwa perempuan berperan penting untuk membawa perubahan. Dari situ saya lantas mulai mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan,” kata Laili.

Saat itu, sang relawan bercerita kepada Laili tentang sindrom Minamata yang terjadi di negaranya. Sindrom itu merupakan penyakit yang diakibatkan pencemaran merkuri atau air raksa di Kota Minamata, Jepang. Limbah PT Chisso yang dibuang secara bebas ke Teluk Minamata membuat ratusan warga meninggal akibat kerusakan syaraf. Sebagian warga yang masih hidup juga diketahui cacat fisik akibat pencemaran limbah itu.

"Saya mendengar cerita tentang Teluk Minamata dari relawan itu. Ya, saya nggak mau kampung saya bernasib sama dengan Minamata. Ya sudah, akhirnya saya nekat untuk sekolah lagi dan jadi guru," ungkap perempuan  yang tinggal di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang ini.

Laili kemudian menempuh pendidikannya di UIN Walisongo Semarang. Selepas kuliah, dia mengabdikan diri di MI Al Hidayah Mangunharjo, Semarang. Dengan profesinya saat ini, Laili memberi edukasi kepada siswanya yang masih belia untuk menjaga lingkungan sedari dini. Laili juga mengajarkan siswa-siswanya untuk mencintai alam dengan menanam dan merawat mangrove, mengolah limbah mangrove menjadi pewarna batik, dan memanfaatkan barang bekas untuk diolah menjadi kerajinan tangan.

Baca juga:
Ini Dia Tiga Objek Wisata Mangrove di Semarang
Menilik Manfaat Mangrove bagi Masyarakat

Selain itu, putri sulung Sururi ini juga membuat komunitas Go Action bersama ketiga adiknya. Komunitas ini fokus untuk menyosialisasikan fungsi dan manfaat mangrove bagi lingkungan serta meningkatkan minat baca anak.

Kiprah Laili dalam dunia mangrove ini tentunya nggak lepas dari peran kedua orang tuanya. Sang Ayah, Sururi dikenal sebagai tokoh pelestari mangrove di Mangunharjo. Dia pun kemudian tergerak untuk melanjutkan perjuangan ayahnya dengan menggandeng para anak muda.

Wah, keren nih Mbak Laili. Semoga semakin banyak anak muda dan masyarakat yang sadar akan kebersihan lingkungan ya, Millens. (Artika Sari/E04)