Labirin Buku, Usaha Berbagi Bacaan yang Kebablasan

Labirin Buku, Usaha Berbagi Bacaan yang Kebablasan
Irman Hidayat, penerjemah karya sastra dan pendiri Labirin Buku. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Nggak muluk-muluk, keinginan Irman dan Gita adalah berbagi bacaan. Namun, dari keinginan itu hadir zine, toko buku, bahkan penerbit sastra.

Inibaru.id – Kelakuan anak muda sekarang memang unik-unik, Millens. Seperti yang dilakukan Gita Nanda dan Irman Hidayat dari Labirin Buku ini. Labirin Buku adalah toko buku daring berbasis di Semarang yang berdiri pada 2015. Nah, pada tahun 2020 ini, mereka membuka unit baru yaitu penerbitan yang menerbitkan novela Penampungan Orang-Orang Terbuang karya sastrawan Kuba, Guillermo Rosales.

Awalnya, Labirin adalah zine sastra berisi karya terjemahan dan profil sastrawan yang dikerjakan Gita dan Irman secara mandiri. Zine ini dibagikan secara gratis di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, tempat Gita dan Irman berkuliah.

“Zine itu cuman bertahan tiga edisi karena kekurangan dana. Dari situ kami mulai jualan buku yang sekiranya nggak akan dibaca lagi,” ucap Irman ketika saya temui pada Jumat (6/3).

Nama Labirin sendiri dipilih karena mereka kala itu sedang suka-sukanya dengan pengarang Argentina Jorge Luis Borges. Karya-karya Borger sering kali diibaratkan seperti labirin. Yang awalnya untuk membiayai zine, toko Labirin Buku malah terus berlanjut sedangkan zine-nya mangkrak. “Karena berjualan lebih asyik,” ucap Irman diikuti sedikit tawa.

Terbitan Labirin Buku ini adalah karya Guillermo Rosales pertama yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Terbitan Labirin Buku ini adalah karya Guillermo Rosales pertama yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Buku-buku yang dijual di Labirin Buku telah dikurasi oleh Gita dan Irman. Buku-buku itu rata-rata berbahasa Inggris. Hal ini dikarenakan banyak buku yang menurut mereka bagus secara kualias, tetapi sulit ditemukan dalam bahasa Indonesia.

Hal itu juga yang melatarbelakangi berdirinya unit penerbitan dari Labirin Buku. Berbekal dari membaca wawancara pengarang Kuba Pedro Juan Gutiérrez, Irman dan Gita mencari dan membaca karya Guillermo Rosales karena nama itu disebut dalam wawancara.

Menurut Irman dan Gita, Guillermo Rosales adalah salah satu pengarang Amerika Latin yang memiliki karya bagus dan berbeda dari pengaran lain, tetapi nggak mendapat sorotan yang cukup. Berangkat dari sana, akhirnya novela Penampungan Orang-Orang Terbuang diterbitkan.

“Pembaca Indonesia masih menganggap sastra Amerika Latin itu lebih ke arah generasi el Boom. Padahal sastra Amerika Latin sangat kaya,” ungkap Irman yang juga menjadi penyunting buku.

Jadi, menurut saya sejak mereka membuat zine lalu berlanjut ke toko buku dan sekarang penerbitan, Labirin Buku selalu berniat untuk berbagi bacaan yang menurut mereka bagus kepada pembaca lain. Sungguh kebablasan bukan, Millens? (Gregorius Manurung/E05)