Kreativitas Aksi Solidaritas Peduli Covid-19; Patungan hingga Gelar Konser Amal

Kreativitas Aksi Solidaritas Peduli Covid-19; Patungan hingga Gelar Konser Amal
Solidaritas Perempuan Bantu Perempuan untuk para buruh gendong di Pasar Beringharjo Yogyakarta. (Dok. Wulan Agustina Pamungkas)

Bentuk-bentuk aksi solidaritas pada masa pandemi Covid-19 telah banyak muncul dan berkembang dengan berbagai kreativitas penggagasnya. Di antaranya seperti patungan Rp 5.000 hingga pengadaan konser amal. Sistem penyalurannya pun transparan sehingga donatur nggak perlu waswas.

Inibaru.id – Perempuan Bantu Perempuan merupakan gerakan solidaritas yang diinisiasi oleh Wulan Agustina Pamungkas dan kawan-kawan bagi perempuan buruh gendong di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Bentuk solidaritas ini sederhana. Hanya dengan patungan sebesar Rp 5.000 saja, kamu sudah ikut berperan membantu para buruh gendong bertahan di masa pandemi.

Ketika dihubungi via Whatsapp, Wulan mengatakan donasi yang terkumpul saat ini telah disalurkan dalam bentuk makanan, minuman, dan buah-buahan siap saji. Baginya makanan menjadi hal yang sangat diperlukan saat ini.

“Kalau toh sembako juga ibu- ibu buruh gendong akan sedikit kerepotan untuk mengolah karena mereka kan tinggal di emperan sekarang ini nggak ada peralatan buat ngolah,” kata perempuan yang juga aktivis kesetaraan gender itu pada Minggu (10/5)

Meski nama solidaritanya
Meski nama solidaritanya "Perempuan Bantu Perempuan", tapi yang menerima nggak hanya perempuan, laki-laki juga. Menurut Wulan saling menolong itu sifatnya universal. (Dok. Wulan Agustina Pamungkas)

Hingga pada 7 Mei 2020 lalu, dana yang berhasil terkumpul sebesar Rp 10.420.629. Dana ini dibagi dalam dua rekening dan telah enam kali disalurkan. Para donatur berasal dari berbagai kalangan seperti vlogger, mahasiswa, dan dosen. Rencananya, penyaluran bantuan ini digelar dua hari sekali selama Ramadan sampai Hari Raya Idulfitri nanti.

Di sisi lain, Wulan dan kawan-kawan sempat kepikiran untuk mencari kontrakan bersama bagi buruh gendong untuk singgah, tapi ternyata sulit. Mengingat sekarang ini banyak wilayah yang menutup akses bagi orang luar untuk masuk.

Aksi solidaritas bagi korban terdampak Covid-19 dilakukan pula oleh Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), Forum Islam Progresif (FIP), dan Federasi Buruh Lintas Pabrik. Bentuk donasi dilakukan dalam bentuk konser amal daring dengan tema besar Berkah Ramadhan untuk Buruh Terdampak Covid-19.

Berbagai musikus beraliran folk dan alternatif Indonesia diundang untuk penggalangan donasi. Sebut saja Sisir Tanah, Cholil Mahmud, Rara Sekar, Ananda Badudu, Tanasaghara, Akar Bambu, Oncom Hideung di Jilid 1 #ngabuburitsolidaritas ikut meramaikan acara. Lalu dilanjutkan dengan konser amal jilid 2 yang mengundang musikus Jono Terbakar, Deugalih, dan Guna Warma “Nostress” yang berlangsung hingga Senin (18/5).

Konser Amal Jilid II Ngabuburit Solidaritas oleh FNKSDA, FIP, dan FBLP. (Instagram/@fnksda)<br>
Konser Amal Jilid II Ngabuburit Solidaritas oleh FNKSDA, FIP, dan FBLP. (Instagram/@fnksda)

Laman resmi Instagram @fnksda mengumumkan, hingga 12 Mei 2020 donasi yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 30.380.246,00 dari target total Rp 200 juta. Dana ini akan disalurkan kepada ratusan buruh perempuan FBLP dalam bentuk bantuan bahan pokok (sembako) senilai Rp 500.000 per buruh.

Anggota FNKSDA yang juga salah satu koordinator jalannya konser amal Muhammad Azka Fahriza mengatakan, gerakan solidaritas sangat penting sebagai respon gagalnya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan rakyat.

Dia mengkritik pula, elemen gerakan sosial progresif justru tiarap atau nggak melakukan satu hal signifikan dan berpengaruh dalam merespon krisis kemanusiaan yang sekarang sedang terjadi,

“Saya pikir ini juga terkait dengan gagalnya elemen progresif membangun gerakan dan program politik yang lebih solid dan tidak sekedar gagah di tataran teori atau malah jargon kosong soal kesetaraan semata,” ujar Azka saat dihubungi via Whatsapp, Minggu (17/5).

Kalau menurutmu, gerakan solidaritas yang berkembang saat ini bagaimana, Millens? Ada juga nggak sih di daerahmu? (Isma Swastiningrum/E05)