Kisah Inspiratif di Balik Terus Eksisnya Warung Makan Bu Sujud

Kisah Inspiratif di Balik Terus Eksisnya Warung Makan Bu Sujud
Tuminem atau yang kerap dipanggil Bu Sujud sedang menunjukkan berbagai macam bahan-bahan makanan di warungnya seperti beras, gula, dan minyak. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)

Menjaga konsistensi rasa dan tepat memilih bahan masakan menjadi kunci terus eksisnya Warung Makan Bu Sujud. Dimulai sejak tahun 1979, usaha ini berkembang dan sampai sekarang masih menjadi rujukan para pelanggan setianya.

Inibaru.id – Bangunan Warung Makan Bu Sujud didominasi warna kuning. Warung yang bangunannya tampak sederhana ini berlokasi hanya beberapa meter saja dari Kantor Kelurahan Krapyak, Semarang Barat. Warung ini menyediakan menu olahan ikan seperti mangut, belanak, dorang, hingga pecel.

Di warung inilah saya bertemu dengan Tuminem atau yang lebih dikenal sebagai Bu Sujud, si pendiri warung makan. Awalnya, Tuminem agak keberatan ketika saya ajak wawancara. Dia meminta Mbak Mi, anak pertamanya untuk menceritakan kisah warung.

Mbak Mi bercerita jika ibunya berasal dari Karangjati, Ungaran. Sedangkan ayahnya, Pak Sujud berasal dari Sekayu, Pati yang terkenal dengan masakan mangutnya.

“Mbah Kung namanya Pak Sujud, kenapa terus dinamai Mbah Sujud itu mengikuti Mbah Kung,” kata perempuan bernama lengkap Surahmi ini.

Dinamai Bu Sujud karena pendiri dari warung ini bernama Sujud, suami Tuminem. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)
Dinamai Bu Sujud karena pendiri dari warung ini bernama Sujud, suami Tuminem. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)

Masih penasaran dengan sosok Tuminem, saya pun kembali berusaha mewawancarainya. Akhirnya, dia mau untuk berbicara sedikit mengenai warung yang usianya lebih dari 40 tahun itu. Tuminem menyebut semua masakan dan minuman yang dijual di warung adalah hasil masakannya sendiri. Dia nggak mau memakai jasa orang lain atau mencari pekerja untuk membantunya memasak.

Aku godok kolak dewe, godok setrup dewe, ngolak dewe. Manciku akeh Mbak, gunane dewe-dewe. Ngumbah iwak yo dewe, sotel yo dewe-dewe. Nek gak diumbah ndak amis, diomongke wong. Wong dodolan mateng ki risikone akeh Mbak,” katanya menggunakan bahasa Jawa Semarangan.

Dalam bahasa Indonesia berarti, “Saya membuat kolak sendiri, membuat sirup sendiri. Manci saya banyak, gunanya [per panci] beda-beda. Untuk membersihkan ikan sendiri, spatula juga sendiri-sendiri. Kalau nggak dicuci amis, dibicarakan orang. Orang jualan makanan matang itu risikonya banyak.”

Rahasia bisnis Warung Bu Sujud ada dua. Pertama, bahan yang digunakan dipilih sendiri oleh Tuminem di pasar dan kualitasnya nomor satu, seperti beras putih merek tertentu atau ikan belanak dengan ukuran tertentu. Kedua, Tuminem nggak pelit menggunakan bumbu dan nggak pernah mengurangi bumbu.

“Bahannya pillihan. Mangut pun nomor satu, kalau ongko nomor satu. Nggak mau Mbah Uti [Tuminem] dipilihke, milih sendiri. Iwak pun besar-besar, kulaknya di Pasar Karangayu jam setengah dua pagi. Kalau nggak pagi nggak kumanan [kebagian] yang bagus-bagus nanti,” kata Mbak Mi.

Pembuatan minuman di Warung Makan Bu Sujud seperti sirup pun memakai bahan dasar yang alami, nggak buatan. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)
Pembuatan minuman di Warung Makan Bu Sujud seperti sirup pun memakai bahan dasar yang alami, nggak buatan. (Inibaru.id/Isma Swastiningrum)

Perempuan penerus usaha Tuminem itu melanjutkan, ketika porsi bumbu dan rasa yang enak nggak berubah, orang akan tetap mau berkunjung lagi. Hal ini berbeda dengan konsep warung masa kini yang ketika laris kadang bumbunya dikurangi sehingga rasanya berubah.

“Kita jajan sekarang enak, pas kembali lagi lha kok rasane beda. Tempatku nggak, pertama enak balik lagi. Biarpun bumbu mahal, bawang sampai harga 80 ribu, aku yo tetap pakai. Rasanya gitu, nggak pernah aku kurang-kurangi. Dari dulu sampai sekarang. Pecel pun dari harga 5 ribu sampai 10 ribu bumbu ya tetap banyak,” ujarnya.

Wuih, jadi pelajaran berharga banget nih buat saya. Saya mendapat satu kata kunci kesuksesan Warung Makan Bu Sujud, konsisten! Yap, kalau kamu ke Semarang dan nggak sempat berkunjung ke warung satu ini, tentu sayang banget, Millens. Layak untuk jadi tujuan wisata kuliner! (Isma Swastiningrum/E07)