Edisi Spesial Kartini: Anne Avantie, Masyhur Berkat Fokus pada Kebaya

Hanya menempuh studi hingga SMP, Anne Avantie tak menyerah berusaha. "Kartini masa kini" ini kemudian malah meraih kesuksesan dari mendesain pakaian. Di Indonesia, dia adalah salah seorang desainer paling kondang yang karyanya diapresiasi begitu tinggi.

Edisi Spesial Kartini: Anne Avantie, Masyhur Berkat Fokus pada Kebaya
Anne Avantie (Caucasusjournalist.com)

Inibaru.id – Siapa yang tak mengenal sosok Anne Avantie? Perempuan kelahiran Semarang, 20 Mei 1954 itu kini menjadi salah satu figur perempuan paling inspiratif di dunia fesyen Tanah Air. Selain desain-desainnya yang begitu elegan, perempuan asli Kota Lunpia ini juga dikenal sebagai pengusaha fesyen di negeri ini.

Berkat kreativitas Anne, kebaya, pakaian tradisional Nusantara, hasil kreasinya beberapa tahun lalu menjadi rujukan fesyen di mana-mana. Karya-karyanya melanglang buana. Ini semua tercapai berkat kegigihan Anne yang selalu berusaha dan melakukan yang terbaik.

Seperti ditulis Tribunnews.com (3/9/2014), Anne selalu memegang teguh tiga prinsip kesuksesannya. Pertama, berserah pada Tuhan. Sementara, prinsip kedua adalah komitmen, sedangkan yang ketiga adalah bekerja keras.

“Kerja keras berarti kita bekerja hingga di luar kemampuan kita,” tegas Anne.

Buah ketekunan itu kini telah dipetiknya. Sejumlah penghargaan disematkan hanya untuk dirinya. Pada 2004, 2005, dan 2008, ibu dari tiga anak ini menyabet penghargaan “Kartini Award” yang diberikan langsung Ani Bambang Yudhoyono, first lady Indonesia kala itu.

Kemudian, pada 2008 dia juga mendapat penghargaan “Wanita Indonesia Bisa atau Indonesia Women Able” dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Meutia Hatta.

Sejak kecil, Anne memang telah menunjukan ketertarikan pada dunia busana dan mode. Sebagaimana ditulis Indotrading.com (9/8/2016), kala itu Anne telah mampu membuat berbagai kreasi hiasan pita atau hiasan rambut yang dia jual kepada teman-temannya. Ibunya, yang memiliki usaha salon kecantikan, adalah sosok yang kali pertama menemukan bakat Anne.

Bakat itu kemudian semakin berkembang lantaran Anne senantiasa mengasah kemampuannya. Beranjak dewasa, dia mulai merancang kostum penari dari kelompok yang ada di sekolahnya. Dari sanalah awal mula Anne berkecimpung dalam dunia fesyen.

Pakaian Tari

Kali pertama Anne Avantie membuat pakaian tari adalah pada 1989. Dari situ, Anne mencoba membuat sebuah pola rancangan baru untuk produk fesyen. Kebaya adalah salah satunya. Anne mengaku mencurahkan segala pikirannya untuk membuat pola rancangan kebaya yang unik dan terkesan tradisional.

“Saya mendapatkan inspirasi itu dari mana saja. Karunia Tuhan itu sangatlah besar. Jadi, tidak ada tuh cerita mencari atau mengambil inspirasi sampai ke luar negeri,” tambahnya.

Anne mengaku sangat suka kepada kebaya dan dia memiliki pandangan lain tentang kebaya yang dibuatnya. pada saat kebanyakan desainer muda lebih memilih untuk memproduksi busana modern, Anne malah memilih membuat kebaya tradsional dengan sentuhan yang modis dan trendi.

Namun, pada akhirnya justru kebaya Anne menjadi simbol status perempuan dan desainnya yang kontemporer mampu menjadi mode bagi masyarakat kelas atas.

Bisnis kebaya itu terus berkembang meski harus mengalami jatuh bangun. Kesuksesan ini juga berhasil diraih Anne meski dirinya nggak pernah menempuh studi tentang bisnis atau busana. Dia bahkan tidak sempat menempuh pendidikan tinggi dan hanya menyelesaikan sekolah sampai SMP. Namun, pendidikan bukanlah halangan baginya.

“Tuhan tidak pernah membiarkan seseorang bergulir dengan segala kekurangannya. Tuhan menciptakan manusia tidak seperti bermain dadu," terangnya.

Menurut Anne, Tuhan memiliki ketepatan yang sangat sempurna. Inilah yang membuat dirinya teguh menjalani profesinya tersebut. Satu kuncinya: Bersungguh-sungguh!

"Ya, saya selalu bersungguh-sungguh dalam pekerjaan saya,” tegasnya.

Yap, itulah, Millens. Bersungguh-sungguhlah! Kalau kamu punya sesuatu yang menurutmu benar dan baik, lakukanlah dengan segenap hati. Siapa tahu kamu bisa menjadi laiknya Anne Avantie ini. Hm, who knows? (IB06/E03)