Keluh Kesah Pembaca Tarot Semarang, Madam Vie: Sering Kurang Tidur demi Klien

Keluh Kesah Pembaca Tarot Semarang, Madam Vie: Sering Kurang Tidur demi Klien
Menjadi pembaca tarot bisa bikin kurang tidur. (Inibaru.id/ Audrian F)

Tampaknya hanya duduk, klien mengambil kartu, lalu Madam Vie tinggal membacanya. Namun, menjadi pembaca tarot nggak semudah itu. Jam kerja yang nggak menentu bikin perempuan bernama asli Fitri Indahyani ini sering kurang tidur demi klien.

Inibaru.id - Anggapan bahwa pekerja lepas atau freelancer punya lebih banyak waktu luang sebetulnya nggak tepat. Ya, mereka memang punya keleluasaan menentukan jam kerja, tapi bukan berarti semaunya, apalagi untuk usaha jasa yang berurusan dengan klien, misalnya seorang pembaca tarot. 

Menjadi pembaca tarot memang nggak semudah yang dibayangkan. Meski terlihat hanya duduk, meminta klien mengambil kartu, lalu membacakannya, nyatanya profesi ini juga menguras tenaga dan menyita banyak waktu.

Pembaca tarot memang nggak seperti pegawai kantoran yang punya jam kerja terjadwal. Klien bisa datang kapan saja, seperti yang disampaikan pembaca tarot profesional dari Semarang, Madam Vie. Inilah yang kadang dikeluhkan perempuan bernama asli Fitri Indahyani tersebut.

“Sering kurang tidur, karena konsultasi nggak memandang waktu,” ujarnya, saat ditemui Inibaru.id di Titikdua Kopi, Kelurahan Kedungmundu, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Kamis (13/8/2020).

Harus Menjaga Rahasia Klien

Fitri mengaku sulit mengabaikan klien yang datang untuk meluapkan semua permasalahannya. (Inibaru.id/ Audrian F)
Fitri mengaku sulit mengabaikan klien yang datang untuk meluapkan semua permasalahannya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Berbusana hitam dengan rambut tergerai sebahu, perempuan murah senyum itu mengungkapkan, dia sebetulnya bisa saja menolak, tapi nggak sanggup. Jika ada yang datang, kemudian meluapkan semua permasalahannya, dia nggak bakal tega untuk abai. Mau nggak mau dia pasti layani.

Menjadi pembaca tarot, menurutnya, adalah menjadi seseorang yang dipercaya. Yap, dipercaya sebagai tempat curhat dan dipercaya untuk selalu menjaga rapat-rapat apa pun permasalahan yang diceritakan klien.

"Harus menjaga baik kepercayaan itu," kata Fitri, yang kemudian menambahkan bahwa dia pernah punya pengalaman unik terkait menjaga kepercayaan.

Perempuan 37 tahun tersebut bercerita, suatu ketika dia punya klien seorang pasutri. Keduanya sama-sama menggunakan jasa klien pasutri. Nah, salah seorang dari mereka mengatakan, dia berselingkuh, hal yang tentu saja berseberangan dengan hati nurani Fitri.

“Saya sempat bingung dan sebal," ketus perempuan yang mengaku sebagai pembaca tarot sejak 2005 tersebut, "Tapi mau gimana lagi, itu semua rahasia klien."

Baginya, kepercayaan klien harus dijaga. Akhirnya, apa yang pengin disampaikan pun dia terjemahkan dan utarakan dengan media tarot.

Awal di Semarang, Bingung Menentukan Harga

Menjadi pembaca tarot wajib menjaga rahasia klien. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Menjadi pembaca tarot wajib menjaga rahasia klien. (Inibaru.id/ Audrian F)

Menjadi pembaca tarot di Kota Semarang baru dilakoni Fitri dalam enam tahun terakhir. Dia memang bukan warga asli Kota Lunpia. Sebelumnya, dia berdomisili di Jakarta dan melakoni profesi sebagai tarot reader dari sana.

Memulai profesi dengan menjadi pengisi rubrik zodiak pada sebuah media di ibukota pada usia 18 tahun, dia kemudian membuka jasa pembacaan kartu tarot di depan Bioskop Taman Izmail Marzuki. Lapaknya ramai, tawaran berdatangan, maka dia memutuskan fokus sebagai pembaca tarot. 

Pada 2014, Fitri pindah ke Semarang karena pekerjaan suaminya. Berpindah ke daerah yang memiliki kultur dan ekonomi yang berbeda sempat menjadi kendala bagi Fitri. Ini membuatnya sempat kekurangan klien dan bingung menentukan harga.

“Tapi lambat laun pulih kembali. Klien saya di Jakarta juga masih berhubungan via daring. Saya banyak terbantu dari media sosial,” kenangnya.

Nggak Semua Klien Setuju

Nggak gampang jadi pembaca tarot. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Nggak gampang jadi pembaca tarot. (Inibaru.id/ Audrian F)

Namanya juga meramal, nggak semua orang sepakat dengan ramalan yang dibacakan untuknya, apalagi kalau ramalan itu buruk. Pun demikian dengan yang dialami Madam Vie. Dari klien-klien yang minta dibaca kartunya, nggak semua orang mengamini hasil "ramalan" itu.

Berdasarkan penuturannya, beberapa orang memang tampak nggak setuju. Namun, dari beberapa kartu yang benar, akhirnya hal-hal yang nggak disetujui jadi tersisihkan. Hm, semua menang, semua senang, ya! Ha-ha.

Lebih dari sedekade menjadi pembaca tarot tentu bukan waktu yang singkat. Dari sorot mata dan gimana dia memamerkan kartu-kartunya, perempuan yang juga menjadikan kartu tarot sebagai koleksi itu memang terlihat menikmati pekerjaan tersebut. 

"Menjadi pembaca tarot itu bisa kenal banyak orang dari berbagai kalangan," pungkasnya, lalu tersenyum.

Profesi apa pun kalau dijalani dengan sepenuh hati memang beda, ya, Millens! Secapai apa pun, rasa puas selalu berhasil membayarnya dengan tuntas. Sepakat? (Audrian F/E03)