Kala Penyandang Tuna Netra Bertanding Bola

Kala Penyandang Tuna Netra Bertanding Bola
Para peserta Goal Ball sedang unjuk kebolehan, Senin (30/12). (Inibaru.id/ Audrian F)

Kamu sudah pernah belum melihat para penyandang tuna netra bertanding sengit dalam kejuaraan? Baru-baru ini saya menyaksikannya dalam gelaran Sahabat Mata Cup. Salah satu cabang yang dilombakan adalah Goal Ball. Seperti apa mereka bermain?

Inibaru.id - Jujur saya baru kali pertama melihat olahraga Goal Ball. Yakni olahraga khusus bagi penyandang tuna netra total atau parsial. Saya menyaksikannya keseruan ini pada turnamen Sahabat Mata Cup IV yang dilaksanakan di Lapangan Jatisari, Mijen, Kota Semarang pada Senin (30/12) siang.

Tiap tim terdiri atas tiga pemain. Dua tim berhadapan untuk menghalangi masuknya bola ke dalam gawang yang ada di belakang mereka. Setiap pemain memasang penutup mata selama bertanding. Hal ini dikarenakan tiap peserta nggak memiliki tingkat kebutaan yang sama, Millens. Ada yang parsial, ada yang total. Nah, biar adil mata tiap peserta ditutup. O ya, bolanya pun khusus. Saat dilempar bola itu akan berbunyi karena ada sesuatu di dalamnya.

Kalau saya amati tampaknya nggak ada pertauran yang terlalu rumit sebagaimana olahraga pada umumnya. Saya pun nggak terlalu mempermasalahkannya. Hal yang paling saya sorot adalah bagaimana para penyandang tuna netra ini bermain.

Sebelum mulai pertandingan, mata para pemain Goal Ball ditutup. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Sebelum mulai pertandingan, mata para pemain Goal Ball ditutup. (Inibaru.id/ Audrian F)

Semangat mereka membuat saya salut. Jika saya pada posisi mereka, belum tentu juga saya bisa melakukannya. Bayangkan saja, dunia di sekeliling mereka pasti gelap. Jelas saja, pada olahraga ini mereka mengandalkan pendengaran dan sentuhan. Tadinya saya pikir mereka bakal kesulitan. Namun  kenyataanya, mereka bermain dengan semangat dan bersaing secara ketat. Kekurangan pada diri mereka seakan nggak menghalangi.

 Perasaan kagum, salut, dan haru silih berganti. Saya pun penasaran. Bagaimana mereka melakukan semua ini. Saya berinisiatif menanyainya secara langsung.

Dari tempat saya berdiri, saya mendekati Rasyid. Dia berasal dari Demak. Rasyid mengaku nggak terlalu sering bermain Goal Ball, tapi ternyata meskipun begitu dia pernah menjadi atlet atletik.

“Untuk yang ini (Goal Ball) sebetulnya saya jarang main. Tapi beberapa tahun yang lalau saya sempat memperkuat Indonesia sebagai atlet tolak peluru dan lempar lembing,” ujarnya.

Meskipun berada dalam kekurangan namun para pemain Goal Ball bermain dengan penuh semangat dan bersaing ketat. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Meskipun berada dalam kekurangan namun para pemain Goal Ball bermain dengan penuh semangat dan bersaing ketat. (Inibaru.id/ Audrian F)

Lain lagi dengan Ngaliman, lawan main Rasyid. Dia rutin bermain Goal Ball bersama komunitasnya bernama Gejawong Club Yogyakarta.

“Kuncinya kalau bermain ini adalah kekompakan dan fokus pada arah datangnya bola. Tahun lalu saya sudah ikut, tapi belum bisa menang,” ucap Ngaliman.

Hm, sayangnya belum sempat saya mengajukan pertanyaan berikutnya, dia sudah dipanggil pelatih untuk bermain.

Beberapa meter dari lapangan tempat bermain ada sekelompok komunitas yang sedang bersiap untuk bertanding. Tampaknya mereka sedang melakukan pemanasan ringan. Saya sentuh pundak salah seorang dari mereka untuk berbicara sebentar. Namanya adalah Sapto.

Dibanding teman-temannya, Sapto newbie di permainan ini. Namun meskipun begitu dia tetap optimis mampu mengimbangi teman-temannya.

“Saya usahakan pasti bisa. Teman-teman juga mendukung dan percaya saya,” kata Sapto.

Salah seorang pemain Goal Ball yang akan melempar bola. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Salah seorang pemain Goal Ball yang akan melempar bola. (Inibaru.id/ Audrian F)

Bergeser dari tempat tersebut ada sekelompok penyandang tuna netra yang di belakang kausnya bertuliskan “Gelap Gulita”, tampaknya itu adalah nama komunitasnya. Dilihat dari gesturnya, mereka sehabis melewati satu pertandingan. Kali ini saya bertemu Hasbullah.

Menurutnya, permainan ini mudah tapi sulit bagi yang kalah. “Di mana-mana kalau kalah pasti nggak mudah kan?” Saya baru ngeh apa maksud kalimat tersebut setelah tahu dia dan timnya nggak memenangkan pertandingan Goal Ball. Hm

“Kalau menang ya alhamdulillah, nggak menang ya nggak papa. Untuk hiburan saja,” ujar pria yang berprofesi sebagai tukang pijat tuna netra tersebut.

Menang atau kalah saya benar-benar salut terhadap mereka. Kamu sudah tahu olahraga Goal Ball belum, Millens? (Audrian F/E05)