Jalanan Punya Cerita: Mereka yang Berjuang via Profesi yang Dianggap Sepele

Jalanan Punya Cerita: Mereka yang Berjuang via Profesi yang Dianggap Sepele
Profesi jalanan ternyata memiliki beberapa manfaat dan peran di masyarakat, lo. (Inibaru.id/Bayu N)

Meskipun sering dipandang sebelah mata, beberapa profesi ini sebenarnya cukup penting, lo. Dari penjual koran hingga pengatur lalu lintas, profesi-profesi tersebut sejatinya perlu mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat.

Inibaru.id - Bagi beberapa orang, jalanan mungkin nggak lebih dari sekadar jalur untuk menuju ke suatu tempat. Namun, rupanya ada sebagian orang yang mempertaruhkan hidupnya, bahkan keluarganya, dari keberuntungan yang mereka dapatkan di jalur yang menyimpan risiko tinggi itu.

Kamu mungkin pernah melihat juru parkir, pengangkut sampah, tukang sapu, atau bahkan "pak ogah", sosok yang biasa menyeberangkan orang di perempatan, yang bekerja seharian di jalanan. Peran mereka bagi kehidupan kita barangkali nggak cukup signifikan. Namun, pernahkah kamu membayangkan hari-hari tanpa mereka?

Tanpa pengangkut sampah, mungkin jalanan bakal begitu bau. Pun demikian dengan jasa tukang sapu jalan. Terus, saya pikir, saya juga bakal kesulitan mencari tempat parkir atau melakukan manuver dengan kendaraanmu tanpa aba-aba juru parkir. Setali tiga uang dengan fungsi pak ogah.

Sayang, vitalnya peran mereka di tengah masyarakat rupanya nggak selalu diiringi dengan pendapatan besar yang mereka peroleh. Deri, misalnya. Pak ogah yang saya temui ketika tengah mengatur lalu lintas di bawah jembatan layang menuju kampus Undip Semarang ini mengaku penghasilannya nggak tentu.

“Nggak tentu. Kadang Rp 30 ribu, tapi kadang juga sampai Rp 100 ribu,” tutur lelaki yang suka bertopi itu kepada saya belum lama ini, sembari masih tetap sibuk dengan usahanya mengatur lalu lintas.

Di bawah kendali Pak Ogah, masalah berbelok maupun berputar arah bukan masalah besar. (Inibaru/Bayu N)
Di bawah kendali Pak Ogah, masalah berbelok maupun berputar arah bukan masalah besar. (Inibaru/Bayu N)

Namun begitu, Deri mengatakan, dirinya nggak terlalu mengeluhkan hal tersebut. Ditemui Inibaru.id di dekat tempat kerjanya di Tembalang, dia mengaku, yang penting setiap hari dia bisa membawa pulang uang untuk makan.

Lelaki bertubuh tinggi ini memang tampak bersahaja. Kendati matahari siang itu tampak begitu menyengat, dia tetap dengan bersemangat memandu kendaraan-kendaraan yang kesulitan menyeberang perempatan. Atas jasanya ini, Deri biasanya menerima imbalan urang receh hingga Rp 2.000.

Oya, Deri mengaku sebelum menjalani profesi sebagai pak ogah, dia sempat bekerja di café. Namun, pandemi Covid-19 pada 2020 lalu membuat dirinya diberhentikan. Sejak saat itu situlah Deri beralih profesi menjadi pengatur lalu lintas. 

Menurut saya, peran yang dilakoni Deri saat ini bukanlah sesuatu yang mudah. Mengamati dia dari kejauhan, saya bisa melihat gimana jasanya sangat diperlukan untuk membantu kelancaran lalu lintas, khususnya saat jalanan tengah ramai.

Perempuan yang Berjuang di Jalanan

Para penyapu jalanan adalah sosok di balik bersihnya sudut-sudut jalanan. (Inibaru.id/Bayu N)
Para penyapu jalanan adalah sosok di balik bersihnya sudut-sudut jalanan. (Inibaru.id/Bayu N)

Nggak jauh dari Deri, Handayani tampak begitu serius menyapu sampah di jalan. Dia bahkan nggak menyadari kehadiran saya yang telah memarkir kendaraan nggak jauh dari aksinya menyapu dedaunan yang terserak di sekitar pertigaan Jalan Sirojudin, Tembalang, Kota Semarang.

Saat saya tanyai, perempuan berjilbab itu mengaku sudah melakoni profesi sebagai tukang sapu selama empat tahun terakhir. Dia berada di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Semarang. Tugas utamanya adalah membersihkan kotoran di jalan.

"Bersih-bersih setiap hari, dari habis Subuh hingga selepas Zuhur,” terangnya agak tercekat karena tertutup masker.

Siapa pun tahu, menjadi tukang bersih-bersih jalan nggak mungkin jadi profesi idaman. Namun, Handayani terpaksa melakoninya karena harus menghidupi keluarga. Dia juga mengeluh, khususnya saat hujan turun, yang membuat daun-daun menempel di aspal dan sapunya.

"Ya, capai rasanya. Tapi, kalau ingat keluarga di rumah, jadi nggak terasa," akunya, yang sontak bikin hati saya teriris.

Ibu Lestari menawarkan korannya dari mobil ke mobil.(Inibaru.id/Bayu N)
Ibu Lestari menawarkan korannya dari mobil ke mobil.(Inibaru.id/Bayu N)

Cerita serupa juga diungkapkan Lestari, seorang pengasong yang menjajakan koran di sekitar "lampu merah" nggak jauh dari pintu masuk menuju Undip atau yang lebih sering disebut Patung Diponegoro Ngesrep.

Kamu mungkin tahu, keberadaan koran di zaman digital ini sudah di ujung tanduk. Beberapa media cetak terang-terangan memangkas oplah mereka lantaran nggak banyak lagi yang beli. Hal ini sudah barang tentu juga memangkas pendapatan para pengasong.

Lima tahun menjadi penjaja surat kabar, dia tahu betul bahwa pembeli koran sudah jauh berkurang saat ini. Lestari yang dijatah seratus eksemplar koran per hari mengaku kewalahan mencari pembeli karena makin ke sini peminatnya kian berkurang.

"Dulu tuh gampang kalau mau jual seratus koran. Sekarang jarang bisa habis (dalam sehari),” ujar Lestari yang saya temui saat dia tengah rehat sejenak sembari menunggu lampu menyala merah lagi. Peluh bercucuran di muka perempuan berjilbab tersebut.

Salah satu harapan utamanya kini adalah para pelanggannya yang hingga kini masih aktif membeli koran. Saat ini perempuan yang kini sudah menginjak kepala empat itu memang masih punya pelanggan yang lumayan banyak.

"Langganan saya banyak, tapi kebanyakan dari kalangan orang tua,” pungkasnya.

Mungkin, bagi kita profesi mereka sangat sepele. Namun, cobalah seperti saya, berhenti di dekat mereka dan amati kesibukan orang-orang yang berjuang di jalanan tersebut. Maka, niscaya kamu bakal melihat esensi dari keberadaan mereka, Millens! (Bayu N/E03