Jadi Aktivis Pro-feminisme, Nur Hasyim Pernah Dicap Bukan Lelaki Ideal
Nur Hasyim. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Jadi Aktivis Pro-feminisme, Nur Hasyim Pernah Dicap Bukan Lelaki Ideal

Bagi Hasyim, kaum laki-laki harusnya mampu menghormati dan menghargai perempuan, suportif terhadap pasangan, setia pada komitmen, penuh cinta kasih, sabar, mengedepankan dialog, dan anti-kekerasan.

Inibaru.id - Sore itu saya lari terburu-buru menuju lantai 3 komplek rektorat UIN Walisongo Semarang, tempat Nur Hasyim berkantor. Keterlambatan ini membuat saya gugup. Namun nggak saya sangka, lelaki yang akrab disapa Hasyim ini malah tersenyum lebar saat melihat saya tiba di ruang kerjanya.

“Eh silakan masuk,” sambutnya.

Lelaki yang menyebut dirinya pro-feminis ini merupakan co-founder Aliansi Laki-laki Baru, organisasi yang menjadi ruang perbincangan tentang laki-laki dan maskulinitas. Organisasi ini turut melibatkan laki-laki dalam isu gender yang ada di masyarakat.

Perbincangan di ruangan kerja Hasyim yang terasa formal itu sempat bikin saya mati gaya. Namun saya nggak bisa menyangkal ketika telinga saya tergelitik saat mendengar magister dari Universitas Wollongong Australia ini mengenang masa kecilnya.

Menurutnya, masa kecilnya punya pengaruh terhadap hidupnya sekarang. Hasyim kecil menyaksikan pasangan istri suami yang sering bertengkar di rumahnya. Saat itu, profesi ayah Hasyim adalah modin. Jadi wajar saja jika warga yang ada perlu untuk menikah atau bercerai datang ke sana.

“Sewaktu kecil selalu menyaksikan orang berantem di rumah. Jika mau bercerai atau apa ke rumah dulu,” kata Hasyim sambil terkekeh.

Namun perasaan saya seketika ngenes ketika dia mengisahkan sosok Hasyim kecil yang nggak bisa memenuhi ekspektasi sosial.

“Jika dengar ibu saya cerita, dulu saya nggak masuk dalam kategori laki-laki ideal. Dia bilang saya perasa, cengang, nggak bisa berantem, dan nggak bisa melakukan hal-hal yang bisa dilakukan anak laki-laki,” tuturnya.

Nur Hasyim saat bekerja di kantornya. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Dari kejadian tersebut, ayah dari dua anak perempuan ini menyimpulkan beratnya bagi anak laki-laki untuk memenuhi ekspektasi masyarakat untuk menjadi ”anak laki-laki”.

Lelaki 46 tahun ini juga mengenang masa kecilnya yang sering diminta untuk menyapu dan mengerjakan pekerjaan domestik lain oleh ibunya, sementara kakak laki-lakinya asyik berenang dan memanjat pohon.

Keempat kakak lelakinya yang jago memanjat pohon pun sering diminta memetik kelapa milik keluarga, semantara Hasyim yang mengangkutnya selepas dipetik. Ya, hal tersebut karena hasyim nggak bisa memanjat pohon. Sontak hal tersebut bikin tawa saya dan Hasyim pecah.

Laki-laki Ideal

Derasnya hujan sore itu diikuti cerita Hasyim yang semakin banyak. Kiprahnya dalam aktivisme memang nggak main-main. Dengan mata berbinar-binar, lelaki kelahiran Yogyakarta ini mengaku sudah terjun sejak 1998 di Rifka Annisa Women’s Crisis Center.,

Dosen FISIP UIN Walisongo Semarang ini juga sempat mengikuti program fellowship di University of Mumbai Departement of Sosiology sekaligus di lembaga Man Against Violence and Abuse (MAVA) selama setahun sembilan bulan.

Aktivisme dan pengalaman hidupnya tersebut melahirkan konsep laki-laki ideal menurut Hasyim. Bagi dia, laki-laki harusnya menghargai dan menghormati perempuan seperti menghormati diri mereka sendiri, suportif terhadap pasangan, dan setia pada komitmen yang dibuat.

"Seorang laki-laki juga harus penuh cinta kasih, sabar, mengedepankan dialog dalam menyelesaikan konflik dan perbedaan, serta antikekerasan," pungkasnya.

Meleleh dong saya sebagai perempuan. Ha-ha.

Perbincangan panjang sore itu nyatanya belum cukup menjawab semua pertanyaan saya. Semoga lebih banyak lelaki yang sadar dengan pentingnya isu gender layaknya Hasyim ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)