Intip-Intip Protokol Kesehatan para Sukarelawan di Semarang Sebelum Beri Bantuan

Intip-Intip Protokol Kesehatan para Sukarelawan di Semarang Sebelum Beri Bantuan
Seoranng sukarelawan yang sedang mengenakan sarung tangan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Memberikan bantuan kepada masyarakat bukan berarti lupa terhadap kesehatan diri sendiri. Selain menjaga asupan vitamin, ini adalah protokol kesehatan yang diterapkan para sukarelawan saat menyalurkan bantuan kepada masyarakat.

Inibaru.id - Di tengah kesibukan membagikan bantuan kepada masyarakat, salah satu yang bikin khawatir adalah kesehatan para sukarelawan itu sendiri. Gimana lagi, kebiasaan tepa slira yang mendarah daging memang bikin kalimat “kesehatanmu itu lo” kini sangat bermakna. Ya, saya menemui para sukarelawan dari Gusdurian Peduli dan Jaringan Lintas Agama di Kota Semarang, Selasa (14/4) siang.

Dari beberapa sukarelawan bermasker yang tengah sibuk mempersiapkan data penerima bantuan, saya bertemu dengan Setyawan Budi, Koordinator Divisi Advokasi Gusdurian Peduli Kota Semarang. Dia yang bertugas mengumpulkan data penerima, menyeleksi hingga mendampingi pembagian bantuan tersebut mengaku punya standar protokol kesehatan yang dia dan kawan-kawannya terapkan.

Menurutnya, untuk menerapkan konsep physical distancing yang tengah didorong oleh pemerintah, dia mengaku harus membatasi jumlah sukarelawan yang ditugaskan.

“Kami membatasi jumlah, sukarelawan yang terlibat tidak banyak, tidak lebih dari 10 orang,” tuturnya.

Benar saja, nggak banyak sukarelawan yang dia ajak ke lapangan. Setiap orang pun punya tugas masing-masing, sopir, pengangkut logistik, pewawancara, videografer dan bagian dokumentasi berupa berkas.

Dia mengaku dalam memberikan bantuan ke masyarakat juga berupaya agar suasananya nggak bergerombol dan memberikan jarak minimal 1 meter pada setiap orang.

“Kami upayakan agar tidak berada dalam jarak  1 meter, kami berupaya menerapkan hal itu saat pembagian bantuan,” terangnya.

Selain itu, lelaki yang akrab disapa Wawan ini juga memaksa sukarelawan agar memakai masker dan sarung tangan ketika turun ke lapangan. Hal ini bermaksud sebagai upaya melindungi diri dan orang lain juga.

“Kami selalu menggunakan masker dan membawa hand sanitizer,” ungkapnya.

Poster kesehatan yang dibagikan kepada masyarakat. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Poster kesehatan yang dibagikan kepada masyarakat. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Yap, selepas doa untuk kelancaran acara, mereka nggak lupa mengenakan hand sanitizer, kaos tangan dan masker. Bahkan salah satu sukarelawan sempat membagikan vitamin c untuk menjaga kesehatan tubuh. Luqy, seorang sukarelawan mengaku kepanasan setelah beberapa detik mengenakan sarung tangan karet.

“Baru sebentar saja sudah panas banget, ternyata gini yang dirasakan para tenaga kesehatan,” selorohnya.

Selain menerapkan protokol kesehatan bagi diri sendiri, mereka juga memberikan paket kesehatan bagi penerima bantuan berupa masker, hand sanitizer, disinfektan, dan poster edukasi tentang corona. Nggak lupa, jika waktu pembagian masih panjang, para sukarelawan ini menyempatkan diri untuk memberikan edukasi singkat kepada masyarakat.

Kalau kamu, protokol kesehatan apa yang biasanya kamu terapkan, Millens? (Zulfa Anisah/E05)