Inspiratif, Cerita Para Milenial Semarang Atur Keuangan Biar Nggak Nunggak Bayar KPR

Inspiratif, Cerita Para Milenial Semarang Atur Keuangan Biar Nggak Nunggak Bayar KPR
Salah satu kawasan perumahan subsidi di Kaliwungu Kendal. (inibaru.id/ Issahani)

Meski harus selalu mengencangkan ikat pinggang demi satu unit hunian sederhana, semua itu mereka jalani dengan sabar. Hidup prihatin sudah menjadi konsekuensi ketika memutuskan mengambil kredit rumah di usia muda. Yuk, simak kisah mereka selengkapnya.

Inibaru.id - Memiliki rumah sendiri baik itu untuk dihuni atau sebagai investasi kini menjadi tren di kalangan milenial. Nilai properti termasuk rumah KPR yang terus meninggi dari tahun ke tahun menjadi daya tarik termasuk mereka yang (hanya) berpendapatan UMR (Upah Minimum Regional).

Bagi orang-orang ini, memilih rumah bersubsidi merupakan solusi tepat. Eits meski disubsidi pemerintah, para pejuang cicilan KPR ini juga harus berhati-hati dalam mengatur keuangan. Tanpa perhitungan matang, mereka bisa menunggak bayar cicilan. Yang terburuk, rumah mereka harus ditarik kembali. Amit-amit kan?

Lucky Setyawan mengaku sudah setahun terakhir merelakan gajinya terpotong Rp 1.3 juta tiap bulan untuk membayar cicilan KPR rumahnya di sebuah kawasan perumahan daerah Ungaran, Kabupaten Semarang. Untuk memiliki rumah bertipe 36/60 ini secara penuh, karyawan di salah satu perusahaan berita pemerintah di Semarang ini harus bersabar selama dua belas tahun ke depan. Sebelumnya, Lucky telah memberi DP sebesar Rp 14.5 juta, Millens.   

“Kalau saya sih, tujuannya biar gaji tidak muspro saja. Namanya anak muda kalau pegang uang dikit, langsung gatel beli ini itu. Nah saya mau gaji saya ada wujudnya. Entah nanti rumah itu saya tempati sendiri, entah nanti saya jual lagi. Pokoknya gaji saya harus saya selamatkan,” terang pria lajang 28 tahun itu.

Selama mencicil, Lucky mengatakan nggak ada kendala berarti sebab dia telah menghitung dengan cermat sebelum memutuskan kredit rumah. Selain membayar cicilan, dia mengaku masih bisa membiayai kebutuhannya dan menabung untuk hal nggak terduga. Dia merasa hidupnya sudah aman. Right on the track gitu istilahnya.

Rumah subsidi menjadi pilihan kalangan milenial yang ingin memiliki tempat tinggal sendiri. (inibaru.id/ Issahani)

Kisah lain datang dari Sani Widiarto, pemuda 25 tahun asal Kota Semarang. Dia harus membayar Rp 850 ribu per bulan untuk mendapatkan rumah. Mahasiswa yang juga pekerja pabrik ini masih harus mencicil selama 20 tahun ke depan demi satu unit rumah di kawasan perumahan subsidi Kaliwungu, Kendal itu. 

Tekad Sani memang patut diacungi jempol, Millens. Memiliki sebuah rumah atas nama sendiri merupakan impiannya sejak lama. Sudah dua tahun dia berjuang dan berkorban. Untuk menambal kebutuhan lainnya seperti kuliah dan lain-lain, Sani juga nyambi berjualan pulsa.

“Yang penting yakin kalau saya sih. Sudah nggak mikir hura-hura soalnya yang dipikirin gimana caranya bayar rumah aman, bayar semesteran juga aman,” ujarnya.

 

Nggak hanya sebagai tempat huni, para milenial juga memperhitungkan kepemilikan rumah sebagai investasi di masa depan. (inibaru.id/ Issahani)

Berbeda dengan Lucky dan Sani, Widi Astari, ibu rumah tangga yang juga pekerja di sebuah radio swasta di Semarang ini memilih KPR nonsubsidi untuk pembiayaan rumahnya di daerah Pucanggading, Kota Semarang. Perempuan 28 tahun asal Grobogan ini telah lama mengincar rumah dengan harga jual Rp 215 juta itu.

Sayangnya bank meng-ACC plafon pembiayaan hanya sebesar Rp 145 juta. Widi lantas menutup kekurangan dengan menguras habis isi tabungan dan meminjam di koperasi tempat suami bekerja sebagai sekuriti. Setiap bulan Widi mesti membayar dua tanggungan cicilan sekaligus. Yaitu Rp 1.3 juta per bulan kepada bank dan Rp 1.2 juta per bulan kepada koperasi.

Sadar kewajibannya nggak kecil, Widi mengatur sistem keuangannya dengan cara yang cukup ketat. Gaji suaminya langsung masuk ke dua pos cicilan rumah. Sementara gaji Widi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sisa gaji keduanya, meski sedikit, diamankan ke tabungan.

“Kuncinya cermat. Kalau sudah memutuskan ambil KPR apalagi nonsubsidi harus siap untuk tidak boros. Kurangi kebutuhan-kebutuhan yang tidak penting,” terang Widi.

Untuk Millens yang ingin memiliki rumah lewat KPR namun masih ragu, Widi memberi beberapa saran. Pertama, pilih cicilan flat. Meski sedikit lebih mahal, namun besarnya cicilan nggak akan bertambah. Kedua, pilih cicilan yang juga di-cover asuransi kebakaran dan jiwa. Kalkulasikan dengan cermat bersama pasangan. Jangan sampai bisa bayar cicilan, namun makan malah jadi sekali sehari.

Bagaimana, Millens? Tertarik jadi pejuang KPR juga? (Issahani/E05)