Share Cup, Ide Startup Advertising yang Eye-Catching

Ide berbentuk start up milik tiga mahasiswa Indonesia ini menjuarai ajang internasional lo. Mereka membuat inovasi baru dalam bidang periklanan dengan memanfaatkan gelas kertas. Mau tahu cerita lengkapnya?

Share Cup, Ide Startup Advertising yang Eye-Catching
Share Cup saat dinobatkan menjadi juara pertama dalam ajang Socio Digi Leaders 2017 (digination.id)

Inibaru.id – Berawal dari sebuah start up, Share Cup memberikan inovasi baru bagi pengiklan. Share Cup merupakan gagasan di bidang periklanan dan pemasaran untuk meningkatkan daya pikat iklan di mata konsumen.

Steven Aditya, Eunike Regina Febby, dan Yosua Nathanael sebagai pemilik ide Share Cup menawarkan konsep gelas berbahan kertas yang bisa dijadikan media iklan. Dengan gelas kertas itu, seorang produsen dapat memasang iklan dengan harga jauh lebih terjangkau.

Steven selaku CEO Share Cup menerangkan pada youngster.id (29/9/17) bahwa selama ini tanpa kita sadari seseorang bisa menghabiskan waktu sekitar 15 menit untuk menghabiskan minuman dalam gelas. Karena itu, sebuah iklan yang dipasang pada gelas minuman bisa lebih efektif dan efisien dibanding beriklan pada media lain seperti televisi atau radio yang hanya sepintas lalu.

Selain itu, bahan baku gelas yang dibuat Share Cup dari kertas lebih ramah lingkungan sebab mudah terurai. Kalau seorang pebisnis minuman beriklan dengan Share Cup, maka dia nggak perlu mengeluarkan biaya produksi untuk gelas lagi. Yap, biaya produksi otomatis diperoleh dari pengiklan. Lebih ekonomis kan?

Oya, jika stok gelas habis maka klien Share Cup hanya perlu memesan kembali melalui aplikasi khusus. Tahu nggak, ide Steven dkk itu menjuarai ajang Socio Digi Leaders (SDL) 2017 lo. Ajang yang diselenggarakan oleh PT Telkom Indonesia itu bertujuan menjaring talenta muda berbakat yang punya kepekaan sosial untuk mengimplementasikan ide dan gagasannya.

Dengan menjuarai SDL, Share Cup berhasil menyisihkan peserta lain yang berasal dari berbagai negara seperti Singapura, Australia, India, Inggris, Belanda, dan Jerman. Keren kan? Sst, sebagai juara Steven dkk berhak mendapatkan uang sebesar Rp 60 juta, beasiswa, dan kunjungan ke perusahaan di Eropa lo.

Belajar Otodidak

Steven, Eunike, dan Yosua sebenarnya nggak punya latar belakang teknologi informasi komputer (TIK), Millens. Mereka merupakan mahasiwa Indonesia yang berkuliah di Nanyang Technological University, Singapura. Steven mengambil jurusan teknik mesin, Eunike pada teknik kimia, dan Yosua pada teknik elektro.

Mereka belajar membuat start up seperti coding dan desain dari internet. Semua itu demi memberikan dampak sosial bagi Indonesia lo.

“Penting sekali bagi sebuah start up untuk mempertimbangkan dampak sosial. Kalau hanya mengambil sumber daya tanpa memberi pengaruh positif, Indonesia bisa hancur,” terang Steven seperti ditulis youngster.id (29/9/17).

Yap, bener banget Millens. Nggak cuma memberdayakan sumber daya manusia saja, kita juga harus bisa memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitar. Dengan begitu, kita benar-benar bisa jadi inspirasi bagi Indonesia bahkan dunia. Siapa yang nggak mau hayo? (IB10/E05)