Homeschooling Sebagai Alternatif Sekolah Saat Pandemi? Nggak Semudah Itu Lo!

Homeschooling Sebagai Alternatif Sekolah Saat Pandemi? Nggak Semudah Itu Lo!
Ellen bersama anak pertamanya saat sesi akademik. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Selama school from home, orang tua harus terlibat dalam kesuksesan pendidikan anak. Mungkin karena merasa berat, beberapa orang tua berkeinginan untuk meng-homeschooling-kan anak sebagai jalur alternatif pendidikan saat pandemi. Namun benarkah semudah itu?

Inibaru.id - Kegiatan sekolah di rumah (school from home) akibat pandemi telah berjalan beberapa bulan belakangan ini. Selama itu pula, orang tua yang mengambil alih untuk memfasilitasi proses belajar anak sehingga nggak sedikit pula yang berwacana untuk beralih untuk homeschooling. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Persatuan Homeschooling Indonesia Ellen Nugroho.

Menurutnya, selama pandemi ini nggak jarang orang tua yang pengin mengganti jalur pendidikan anak menjadi homeschooling karena merasa sudah terlalu lama di rumah. Namun menurut Ellen, keputusan untuk memilih homeschooling nggak sesederhana memindahkan pendidikan anak dari sekolah ke rumah.

“Jangan berpikiran homeschooling hanya memindahkan pendidikan dari sekolah ke rumah, karena harus merombak pola pikir,” tutur ibu tiga anak ini.

Banyak orang berpikir bahwa homeschooling adalah metode belajar di rumah dengan bantuan lembaga pendidikan. Padahal menurut Ellen, orang tua yang memutuskan untuk homeschooling adalah mereka yang siap untuk mengatur dan mengevaluasi pendidikan anak secara mandiri, bukan oleh lembaga.

“Kalau pola pikirnya masih begitu, jangan homeschooling tapi cari lembaga yang sesuai kebutuhan dan tetaplah school from home,” saran Ellen.

Beberapa orang menganggap bahwa homeschooling merupakan layanan pendidikan yang disediakan lembaga pendidikan. Anggapan itu kurang tepat. Homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga yang disediakan dan dikelola oleh keluarga secara mandiri. Lembaga pendidikan berada pada jalur nonformal, sementara homeschooling informal.

“Homeschooling yang menjalankan keluarga dengan orang tua sebagai penanggung jawab. Jadi pendidikan berbasis keluarga, bukan lembaga.” Jelas Ellen.

Mengubah Paradigma

Seluruh kegiatan di rumah adalah proses pembelajaran. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Seluruh kegiatan di rumah adalah proses pembelajaran. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Sebelum memutuskan untuk homeschooling, orang tua harus mengubah paradigma pendidikan dan mengembalikan nilai pendidikan anak kepada hakikatnya. Menurutnya, sebagian besar keluarga homeschooler mengurus ijazah kesetaraan. Nggak ada yang salah sih. Tapi Ellen menekankan ijazah bukan menjadi tujuan utama pendidikan.

“Yang penting anak berkembang, bisa baca, tulis, dan hidup di dunia nyata,” ungkap penulis buku Cinta yang Berpikir ini tentang tujuan pendidikan di keluarganya.

Hal pokok yang harus dipegang ketika memutuskan untuk homeschooling, orang tua atau wali murid harus kompak. Ellen mengatakan bahwa kegagalan homeschooling biasanya karena ada salah satu pihak yang nggak sepakat menempuh jalur ini. Memang berat sih karena harus siap membuat kurikulum, mendampingi anak belajar, dan mengevaluasi hasil belajar.

Menurut perempuan praktisi metode Charlotte Mason pertama di Indonesia ini, bukan karena semua sekarang dilakukan dari rumah, orang tua bisa dengan mudah memutuskan untuk homeschooling. Nggak sedikit orang tua yang akhirnya mengurungkan niat untuk meng-homeschooling-kan anaknya karena nggak sanggup.

“Jika belum siap lebih baik jangan terjun homeschooling dulu. Mau homeschooling atau school from home sama baiknya,” tutup perempuan yang sudah 13 tahun menjalankan homeschooling ini.

Jadi bagi orang tua yang pengin homeschooling (hanya) untuk menghindari pandemi, yuk pahami homeshooling lebih dalam lagi! (Zulfa Anisah/E05)