Hoegeng Dalam Kenangan: Si Jujur Versi Gus Dur yang Nggak Mau Dimakamkan di TMP Kalibata

Hoegeng Dalam Kenangan: Si Jujur Versi Gus Dur yang Nggak Mau Dimakamkan di TMP Kalibata
Jenderal Polisi (purn) Hoegeng Imam Santoso. (Kompas.id)

Pernah menjadi kepala polisi dan pejabat publik di pemerintahan, nama Hoegeng tetap harum versi Gus Dur, bahkan jadi simbol kejujuran di Indonesia. 14 Juli 2004 lalu, dia yang berwasiat untuk nggak semakam dengan pelaku korupsi di Pertamina, Haji Thahir, akhirnya dimakamkan di permakaman umum di Giri Tama, Kabupaten Bogor

Inibaru.id – Kematian Jenderal Polisi (purn) Hoegeng Imam Santoso pada 14 Juli 2004 lalu tentu menjadi kehilangan yang besar bagi negeri ini. Dikenal sebagai polisi paling jujur di Indonesia, hingga tepat 16 tahun kematiannya hari ini, mungkin belum ada yang menggantikan posisinya.

Bahkan, dalam kematiannya, Hoegeng dikenal masih "lantang" lantaran enggan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, karena di sana ada H Ahmad Thahir, seorang koruptor yang telah terlanjur dikuburkan sebagai pahlawan.

Perlu kamu tahu, Thahir sebelumnya diduga menerima suap sebagai pemulus pembangunan PLTU dan sarana pelabuhan bongkar muat PT Krakatau Steel.

Seperti Mohammad Hatta yang pantang dimakamkan di Kalibata, sebelum meninggal Hoegeng pun berwasiat untuk dikubur di tempat lain. Wasiat itu pun dilaksanakan. Oleh keluarga, Hoegeng dikuburkan di permakaman biasa di Giri Tama, Kabupaten Bogor.

Si Jujur Versi Gus Dur

Gus Dur yang menyebut-nyebut Hoegeng sebagai Polisi jujur. (Detik.com)
Gus Dur yang menyebut-nyebut Hoegeng sebagai Polisi jujur. (Detik.com)

“Ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng,” kelakar Gus Dur yang baru-baru ini kembali populer. Yap, bagi Presiden ke-4 RI itu, Hoegeng memang setinggi itu.

Lelaki kelahiran Pekalongan, 14 Oktober 1921 itu merupakan sosok legendaris yang menjabat sebagai kapolri pada 1968-1971. Sosoknya dikenal sebagai polisi yang bersih, jujur, berintegritas, antikorupsi dan sederhana oleh kerabat-kerabatnya.

Meski tokoh kepolisian Orde Lama, dia adalah satu-satunya jenderal polisi yang kerap disanjung oleh Gus Dur sebagai polisi yang jujur.

Dalam buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan, Hoegeng dijelaskan sebagai sosok jenderal yang berdedikasi menjalankan tugasnya dengan menolak suap di institusi kepolisian maupun lembaga negara yang lain.

Ya, selain menjabat sebagai Kapolri ke-5, Hoegeng juga sempat mengemban tugas sebagai Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri Iuran Negara (1965), serta Menteri Sekretaris Kabinet (1966).

Tugas-tugasnya tersebut diembannya setelah selesai bertugas sebagai Kepala Dinas Keamanan Negara (DPKN) wilayah Jawa Timur serta Kepala Direktirat Reserse Kriminal Polda Sumatera Utara di Medan.

Di Medan, Hoegeng menghadapi tantangan berat. Dia menolak dengan halus rumah beserta kendaraan yang ditujukan untuk keluarganya. Selama hidup, Hoegeng memang dikenal sebagai sosok sederhana meskipun menempati jabatan-jabatan strategis.

Sejak berhenti sebagai Kapolri pada 1971 hingga 2001, uang pensiun Hoegeng hanya Rp 10 ribu per bulan dengan berbagai potongan. Bahkan, sebagai orang nomor satu di Korps Bhayangkara saat itu, Hoegeng nggak segan turun ke lapangan untuk megatur lalu lintas jika kebetulan terjadi kemacetan.

Kasus-Kasus Besar yang Ditangani Hoegeng

Masa tua Hoegeng. (Medcom)
Masa tua Hoegeng. (Medcom)

Keterlibatan Hoegeng dalam menangani kasus-kasus besar Keluarga Cendana dinilai turut berperan dalam berakhirnya karier Hoegeng sebagai Kapolri. Konon, dia juga sempat beberapa kali mendapat "masalah" selama Orde Baru.

Salah satu kasus populer yang ditangani Hoegeng saat menjabat sebagai Kapolri adalah penyelundupan 3.000 mobil. Kala itu, pada 1968, sedang marak-maraknya penyelundupan mobil mewah ke Indonesia tanpa membayar bea masuk.

Dari ratusan mobil yang berhasil diamankan, ribuan lainnya lolos akibat  keterlibatan oknum-oknum aparatur  yang juga terlibat dalam kasus Roby Tjahyadi.

Hoegeng akhirnya diberhentikan dari jabatannya sebagai Kapolri pada 2 Oktiber 1971 dan ditawari menjadi Duta Besar di Kerajaan Belgia yang kemudain ditolaknya. Banyak yang berspekulasi bahwa hal tersebut adalah taktik Soeharto untuk menempatkan Hoegeng di luar Indenesia. Kala itu Soeharto juga menegaskan sudah nggak ada jabatan untuk Hoegeng di Indonesia.

Serah terima jabatan Kapolri antara Jenderal Hoegeng Iman Santoso kepada penggantinya Moh Hassan oleh Presiden Soeharto pada 1971. (Kompas/Pat Hendranto)
Serah terima jabatan Kapolri antara Jenderal Hoegeng Iman Santoso kepada penggantinya Moh Hassan oleh Presiden Soeharto pada 1971. (Kompas/Pat Hendranto)

Setelah jabatannya berakhir, Hoegeng dikenal getol mendalami seni tarik suara dengan tampil di beberapa acara musik The Hawaiian Seniors di TVRI. Dia juga kerap menghabiskan waktunya untuk melukis. Hoegeng kemudian bergabung dengan kelompok "Petisi 50-an" pada 1980-an yang kerap mengkritisi rezim Soeharto.

Hoegeng akhirnya tutup usia pada 14 Juli 2004 setelah menderita stroke sekian lama. Keteladanan Hoegeng membuat namanya tak lekang oleh zaman. Meski Gus Dur juga sudah tiada, Hoegeng tak kehilangan penyanjungnya! (CNN/IB27/E03)