Hiruk Pikuk Sukarelawan di Pemkot Semarang Mengemas Bantuan

Hiruk Pikuk Sukarelawan di Pemkot Semarang Mengemas Bantuan
Salah seorang koordinator sedang mengomando para sukarelawan sebelum bekerja. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di balik kemasan bantuan sosial yang akan disalurkan di masing-masing daerah di Kota Semarang, ada orang-orang yang rela berpeluh untuk mengemasi dan memproses pengiriman bantuan tersebut.

Inibaru.id - Waktu menunjukkan pukul 14.00, puluhan orang mengenakan rompi hijau keluar ruangan Balai Kota Semarang yang pada masa pandemi ini dijadikan lokasi pengemasan bantuan sosial. Di antara tumpukan kardus yang dengan tempelan stiker Wali Kota Semarang beserta wakilnya, Angga Jati, selaku koordinator mengapresiasi rekan-rekannya yang hendak pulang.

“Terima kasih ya. Kerja bagus. Tetap semangat,” kata Angga seraya menepuki pundak rekan-rekannya pada Kamis (16/4).

Para sukarelawan berjalan di antara tumpukan beras. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Para sukarelawan berjalan di antara tumpukan beras. (Inibaru.id/ Audrian F)

Saat itu adalah waktu di mana para sukarelawan sedang berganti shift. Pada masa pandemi seperti ini, mereka bertugas mengemasi sembako sebelum disalurkan ke Kota Semarang. Mayoritas berasal dari satuan karya pramuka. Dari tingkat instansi, hingga kota. Segelintir kecil, dari beberapa komunitas dan orang umum.

Mereka saling bahu-membahu. Angga Jati membeberkan setiap hari mereka bisa mengemas 4000 kardus. Meskipun banyak diisi oleh para pelajar SMA, nggak sedikit juga orang dewasa bahkan ada yang berusia 60 tahun.

“Kalau pramuka masa usianya bisa panjang,” tutur Angga yang kebetulan juga bagian dari bidang pengabdian masyarakat di Pramuka Kota Semarang.

Ribuan paket sembako yang akan diedarkan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Ribuan paket sembako yang akan diedarkan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di antara tumpukan kardus ada Isa, dia merupakan pelajar di SMA 16. Kata Isa, ketimbang nggak ada kerjaan di rumah dia mending ikut membantu teman-temannya mengemasi sembako di Balai Kota.

“Nggak ada kerjaan di rumah. Tugas-tugas juga sudah dikerjakan,” ujarnya.

Sementara Putri, perempuan yang sedang menimba ilmu di Jurusan Akuntansi Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut lebih prihatin dengan kondisi yang ada. Dia sadar pada masa seperti ini pasti semua orang sedang serba bingung.

“Lebih ke panggilan hati saja sih,” ujar perempuan asli Semarang ini.

Seorang sukarelawan setengah baya sedang membungkus bantuan. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)<br>
Seorang sukarelawan setengah baya sedang membungkus bantuan. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Kemudian Rahman, mungkin tergolong angkatan paling senior di antara rekan-rekan pramukanya. Dia untuk tahun ini sudah menginjak usia 60 tahun. Namun semangatnya nggak kalah dengan yang lebih muda.

“Namanya saja 'sukarelawan' ya, jadi harus suka dan rela,” pungkasnya dengan diiringi gelak tawa meskipun peluh sudah membasahi punggungnya.

Mereka adalah orang-orang di balik layar yang rela dan tulus bekerja demi meringankan beban banyak orang. Yuk apresiasi para sukarelawan dengan tetap di rumah, Millens! (Audrian F/E05)