Hari Bhayangkara, Jenderal Hoegeng, dan Kepolisian Tanah Air, Sudah Sejalan?

Hari Bhayangkara, Jenderal Hoegeng, dan Kepolisian Tanah Air, Sudah Sejalan?
Masa tua Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso. (Media Indonesia)

Pada Peringatan Hari Bhayangkara ke-74 pada 1 Juli 2020, nama Jenderal Hoegeng kembali disebut. Menilik kepolisian Tanah Air saat ini, apakah sudah sejalan dengan pesan yang ditinggalkan sang jenderal jujur tersebut?

Inibaru.id – “Hanya ada tiga polisi jujur yang ada di Indonesia, yakni patung polisi, polisi tidur, dan juga Hoegeng.”

Satu kalimat terkenal ini diucapkan Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid. Mendiang presiden yang kerap disapa Gus Dur itu dalam kelakarnya dengan tegas menyebut nama Hoegeng atau Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso sebagai polisi jujur.

Yap, di tengah Peringatan Hari Bhayangkara ke-74 pada 1 Juli 2020 ini, lelaki yang pernah dinobatkan sebagai The Man of the Year 1970 ini juga turut disebut-sebut di media daring. Hal tersebut tentu nggak berlebihan. Kapolri ke-5 periode 1966-1977 itu memang polisi jempolan.

Pensiun tanpa memiliki rumah, kendaraan, maupun barang mewah, konon Jenderal Hoegeng suatu waktu pernah nggak tahu lagi apa yang bisa dimakan oleh keluarga karena sudah kehabisan beras. Sang istri, Merry Roeslani, pernah berkisah, “Bahkan, anak-anak tak berani untuk meminta sebuah sepeda."

Di tengah karut-marut dan mungkin kekurangpercayaan sebagian orang terhadap kepolisian negeri ini, sosok legendaris dari dunia kepolisian Tanah Air ini tentu cukup heroik. Dalam Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan, selama aktif di kepolisian, Hoegeng disebut sangat jujur dan anti-suap.

Istri Jenderal Hoegeng, Merry Roeslani (kanan), dan sang anak. (Media Indonesia) 
Istri Jenderal Hoegeng, Merry Roeslani (kanan), dan sang anak. (Media Indonesia) 

Buku bikinan wartawan Kompas Suhartono itu mengatakan, kendati berpangkat jenderal, Hoegeng nggak segan turun ke jalan jika kondisi lalu lintas sedang semrawut. Dia bahkan pernah kedapatan melemparkan barang-barang hadiah dari penjudi dari luar rumahnya.

Lelaki kelahiran Pekalongan, 14 Oktober 1921 ini juga konon mengembalikan semua fasilitas yang dipakainya setelah jabatan kapolrinya berakhir.

Jenderal Hoegeng memilih pensiun dini sebelum berusia 50 tahun dan mendapat uang pensiun Rp 10 ribu per bulan dan berlangsung hingga 2001. Untuk hidup, pada masa-masa sulit dia memilih menjual semua lukisannya demi menghidupi keluarganya.

Jasa dan keteladanan Jenderal Hoegeng semasa hidup pun membuatnya dianugerahi rekor polisi paling jujur sedunia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 9 Maret 2015. Bertempat di Jakarta, penganugerahan diterima sang istri.

Hingga akhir hayatnya, Hoegeng diketahui nggak punya rumah atau kendaraan pribadi, terlebih barang-barang mewah. Ah, Selamat Hari Bhayangkara! (IB04/E03)