Eka Kurniawan, Pernah Ditolak di Novel Pertamanya

Bahasa yang lugas seperti tengah bertutur menjadi ciri-ciri novel ciptaannya. Ia menjadi novelis Indonesia pertama yang karyanya masuk dalam nominasi penghargaan literatur bergengsi Man Booker International Prize 2016. Novelnya yang berjudul Lelaki Harimau begitu dikenal di dunia internasional dengan nama Man Tiger. Ia adalah Eka Kurniawan.

Eka Kurniawan, Pernah Ditolak di Novel Pertamanya
Eka Kurniawan (Foto: detik.com)
2k
View
Komentar

Inibaru.id - Bahasa yang lugas seperti tengah bertutur menjadi ciri-ciri novel ciptaannya. Ia menjadi novelis Indonesia pertama yang karyanya masuk dalam nominasi penghargaan literatur bergengsi Man Booker International Prize 2016. Novelnya yang berjudul Lelaki Harimau begitu dikenal di dunia internasional dengan nama Man Tiger. Ia adalah Eka Kurniawan.

Man Booker bukanlah gelar sembarangan di dunia sastra. Tempatnya kira-kira hanya sedikit di bawa Nobel sastra. Diwawancara Heyder Affan untuk BBC Indonesia, Eka mengaku kaget saat diberitahu ia masuk nominasi. Pria kelahiran Tasikmalaya ini bingung harus berkomentar apa.

Sejauh ini, Eka telah menulis empat novel yaitu Cantik Itu Luka (2002), Lelaki Harimau (2004), Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), serta O (2016).

Sekitar tahun 2000-an Eka mengaku mulai menulis. Awalnya, ia menulis untuk beberapa teman sekitar. Biasanya karya itu difotokopi kemudian ia bagi-bagikan kepada teman-teman.

“Hingga kini saya menulis demgam memikirkan siapa teman saya yang akan membaca. Saya banyak membayangkan orang-orang dekat saja yang membaca,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari BBC Indonesia.

Eka menelurkan novel untuk kali pertama pada 2002 dengan judul Cantik Itu Luka. Pada awalnya, novel itu sempat ditolak penerbit. Novel setebal 500 halaman itu ditolak oleh sekitar empat penerbit dengan alasan yang berlainan.

Penolakan itu sempat membuatnya putus asa. Ia teringat novel seorang sastrawan Norwegia peraih Nobel Sastra 1920, Knut Hamsun, yang bertajuk Lapar. Dalam novel dikisahkan seorang penulis pemula pergi ke ibu kota Norwegia. Dia hidup dengan berjuang sebagai penulis, sampai dia kelaparan.

Hal itu menjadi ketakutan baginya, tapi sekaligus menumbuhkan keberanian, atau lebih tepatnya tantangan. Usia yang masih muda dan lajang membuatnya berani terus menulis.

“Kan belum ada tanggungan, jadi saya terus saja menulis sampai satu titik, terus saya gagal, kemudian gagal lagi, ya, baru saya coba memikirkan karir yang lain,” kelakarnya.

Dalam wawancara yang berlangsung setelah acara peluncuran novel terbarunya yang berjudul O, Sabtu (20/03) malam, Eka mengaku suka membaca beberapa karya dari penulis asing, tapi tak menolak para penulis lokal

“Saya masih membaca cerita-cerita silat dan cerita horor (karya penulis dalam negeri),” terangnya.

Ia mengaku lebih senang mencari buku-buku yang orang kebanyakan tidak membacanya. Sebab, terkadang dari buku-buku non-mainstream itu Eka mendapatkan sesuatu yang mengejutkan. Selain itu, ia juga suka membeli buku berbahasa Indonesia di toko buku daring, yang kebanyakan merupakan buku lama dan tidak diterbitkan lagi.

“Saya menikmati cerpen-cerpen karya Danarto, Budi Darma, bahkan novel hiburan tentang agen rahasia Indonesia yang sangat lucu. Itu saya baca dan sangat menghibur. Itu tidak banyak orang tahu. Itu seperti kita pergi ke hutan, terus kita menemukan suatu tempat di mana ada buah-buahan, di mana orang tidak tahu, sehingga saya memakannya sendiri,” tukasnya. (GIL/IB)