Duo Mahasiswi Kita Penakluk Puncak Dunia

Nggak ada yang nggak mungkin, asal berusaha untuk mencapainya. Berbekal latihan keras, Fransiska dan Mathilda berhasil mencetak record sebagai duo perempuan pertama Indonesia yang berhasil mencapai sejumlah puncak tertinggi dunia.

Duo Mahasiswi Kita Penakluk Puncak Dunia
Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari Pendaki Seven Summits. (Dok. WISSEMU 2017/Viva.co.id)

Inibaru.id - Bisa mendaki tujuh puncak dunia? Tentu itu prestasi yang nggak semua orang bisa melakukannya, apalagi jika yang melakukannya . Mustahil? Tentunya nggak dong karena Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari hampir bisa membuktikannya. Kedua mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, tersebut berhasil mencapai enam dari tujuh puncak tertinggi dunia. Terakhir mereka berhasil menaklukkan puncak Denali, tepatnya pada Sabtu, 1 Juli 2017 pukul 19.40 waktu setempat atau Ahad, 2 Juli pukul 22.40 WIB.

Mengutip Tempo.co (15/8/2017), pendakian menuju puncak Gunung Denali bagi Fransiska menjadi yang paling berat dibandingkan pendakian sebelumnya. Itu karena nggak adanya porter sehingga mereka harus membawa logistik sendiri selama 22 hari. Selain itu, mereka juga sempat beberapa kali terkena whiteout, yakni kondisi cuaca hujan salju yang menyebabkan jarak pandang menjadi kabur sehingga mengaburkan horizon. Berkat tekad kuat, keduanya berhasil mengibarkan Sang Merah Putih dan menjadi dua perempuan Indonesia pertama yang menginjakkan kaki di puncak Denali yang memiliki ketinggian 6.190 meter di atas permukaan laut itu.

Tapi jangan salah ya, keberhasilan yang telah mereka raih itu merupakan hasil dari proses yang berat dan nggak sebentar, lo. Saat perempuan sebaya mereka banyak yang hobi hangout, lebih asyik bermain gadget (gawai), Mathilda dan Fransiska lebih memilih untuk berlatih keras untuk membanggakan nama Indonesia di kancah dunia.

Demi misi menaklukkan Seven Summits, kedua perempuan yang tercatat sebagai mahasiswa jurusan Hubungan Internasional itu sibuk latihan angkat atau tarik beban kiloan meter, sit-up, push-up, rutin berlari di perbukitan dan perkebunan teh, lari ditarget waktu hingga memanjat tebing. Apalagi mereka pada awalnya hanya mahasiswi biasa dan baru mulai aktif mendaki gunung setelah bergabung dengan Mahitala, organisasi mahasiswa pencinta alam Unpar. Itupun selama bergabung di Mahitala, pengalaman mendaki gunung keduanya bisa dihitung jari.

Alhasil, saat terpilih untuk mengikuti ekspedisi Seven Summits, mereka mengawali ekspedisi dengan susah payah untuk meraih puncak Carstensz Pyramid di Papua. Mereka sempat mengalami AMS (acute mountain sickness) karena waktu aklimatisasi (adaptasi ketinggian) yang kurang. Barulah sepulang dari Papua, keduanya melakukan latihan fisik yang keras supaya bisa melanjutkan misi menaklukkan tujuh puncak dunia.

Nggak hanya itu saja, selain berbekal latihan fisik yang keras, Fransiska dan Mathilda juga menjadikan pengalaman mendaki gunung di Indonesia sebagai bekal untuk sukses dalam ekspedisi yang berada di bawah bendera The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Unpar (WISSEMU). Kerap mendaki gunung di Indonesia sebagai latihan, menurut Fransiska pegunungan Indonesia punya tantangan tersendiri dan nggak lebih mudah buat di daki. Tanahnya lebih sulit dipijak dibandingkan dengan lapisan es. Belum lagi jika hujan, selain dingin pakaian basah membuat pendakian lebih berat.

Oya, sebelum menapaki Gunung Denali, kedua mahasiswa Unpar yang bermental baja ini telah sukses mencapai puncak lima gunung lainnya dalam seven summit track, empat di antaranya bersama Dian Indah Carolina. Kelima puncak itu adalah Gunung Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) pada 13 Agustus 2014, Gunung Elbrus (5.642 mdpl) 15 Mei 2015, Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl) pada 24 Mei 2015, serta Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) pada 1 Februari 2016. Sayang banget, saat pendakian ke Gunung Vinson Massif pada 4 Januari 2017, Dian Indah Carolina nggak berhasil sampai puncak dan harus turun karena mengalami gangguan kesehatan.

Kini, keduanya sedang mempersiapkan diri untuk pendakian ke puncak terakhir Seven Summits, yaitu Mount Everest. Jika keduanya berhasil mencapai puncak pada ekspedisi yang rencananya akan dijalankan pada April 2018, maka keduanya akan menjadi perempuan pertama di Asia Tenggara yang mampu mencapai tujuh puncak di tujuh benua.

Wah, apa yang sudah mereka lakukan tentu saja menjadi pencapaian yang luar biasa, bukan? Hebat dan inspiratif. Kedua kata itulah yang tepat menggambarkan sosok perempuan tangguh seperti Fransiska dan Mathilda. (ALE/SA)