Dunia Filantropi, RHI, dan Valencia Mieke

Dunia Filantropi, RHI, dan Valencia Mieke
Valencia Mieke Randa, pendiri Rumah Harapan Indonesia pada Lantern Party ke-2 RHI Semarang. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Masih banyak orang berhati mulia di dunia ini. Valencia Mieke Randa bisa dikatakan termasuk dalam golongan itu. Berikut kisahnya.

Inibaru.id – Enam tahun lalu, di Jakarta, seorang perempuan paruh baya berkeliling rumah sakit untuk menyuplai kantung-kantung darah bagi mereka yang membutuhkan. Di sana, dia melihat banyak pasien kurang mampu yang datang dari luar kota tidur begitu saja di jalanan bahkan emperan toko. Melihat hal itu, hatinya tergerak untuk memberikan tempat bernaung bagi mereka.

Begitulah kisah Valencia Mieke Randa mendirikan Rumah Harapan Indonesia (RHI). Rumah singgah tersebut diperuntukkan bagi para keluarga kurang mampu yang berobat di luar kota. Jarak yang cukup jauh serta durasi pengobatan yang nggak hanya hitungan jam membuat mereka mesti bermalam di kota tempat rumah sakit berada.

Nggak hanya tempat bernaung, Valencia dan para sukarelawannya juga sebisa mungkin menyediakan semua kebutuhan yang diperlukan anak dampingan, begitu mereka menyebut. Mulai dari perlengkapan sehari-hari, makan, sampai alat kesehatan sekalipun, RHI siap membantu.

“Saya berpikir kalau misalnya bisa, saya pengin banget buat rumah singgah buat mereka, tempat bernaung dari panas, dinginnya malam. Angin malam itu kan bahaya banget karena anak sakit itu butuh tempat yang nyaman. Gimana mau sembuh kalau mereka tidurnya di emperan toko, di depan atm. Itu saya sering banget ketemu sama mereka,” ungkapnya.

Valencia bersama anak dampingan RHI Semarang dalam acara Lantern Party ke-2 RHI Semarang. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Setelah mempertimbangkan satu dan lain hal serta jiwa sosialnya yang tinggi, Valencia bertekad menyewa rumah untuk dijadikan rumah singgah. Lagi-lagi perjuangan yang dia lalui nggak mudah. Meski sebelumnya perempuan 41 tahun itu sudah punya gerakan sosial Blood for Life, jalan yang dia tempuh untuk memulai RHI sangat berliku.

Dia memulai tekadnya pada 2013. Namun, tahun ini belum ada yang sevisi dengannya. Hingga akhirnya pada 2014, Valencia yang saat itu hanya punya uang Rp 1 juta memberanikan diri menyewa rumah di bilangan Tebet, Jakarta yang berharga Rp 100 juta.

“Saya ngomong sama orang yang nyewain kalau saya punya uang Rp 1 juta dan niat baik nolongin anak-anak, akhirnya dibolehin. Terus saya berpikir, gila kalau saya bisanya ngembaliin Rp 30 juta gimana nanti anak-anak, sisanya nggak balik,” imbuh ibu dua anak ini.

Kala itu, Valencia juga memutuskan keluar dari pekerjaannya di salah satu perusahaan logistik. Hal itu dilakukan semata-mata demi mengurus dan membesarkan RHI. Berkat kelihaian dan ketulusannya membangun RHI, donatur pun satu per satu berdatangan.

Di tahun pertama, Valencia bisa melunasi uang sewa rumah sewa di Tebet. Tahun-tahun selanjutnya, dia bahkan dapat membuka cabang di daerah lain. Kini sudah ada lima cabang RHI yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Tadinya ada 6 itu di Jakarta, Bandung, Makassar, Aceh, Bali, Semarang. Nah, Aceh ini karena terlalu jauh saya tanya deh, ‘kalian mau mandiri nggak?’ karena kami lihat semangatnya luar biasa. Mereka akhirnya mau buka sendiri,” ujarnya.

Percaya Pertolongan Tuhan

Finansial RHI tak ayal mengalami pasang surut. Saat pasang, mereka bisa menyimpan uang untuk pembiayaan beberapa bulan ke depan. Namun, saat surut, mereka mesti memutar otak agar anak dampingan dan keluarganya tetap tercukupi dan nyaman.

“Pernah satu ketika ada pasien dari Papua meninggal. Biaya pemulangan jenazahya Rp 30 juta. Pada saaat yang sama,  empat rumah sekaligus jatuh tempo yang harus dibayar, totalnya Rp 450 juta. Ini duit dari mana dalam waktu 2 bulan harus nyari duit segitu. Terus saya mikir, Tuhan kita sangat kaya. Bagi Tuhan yang kita punya, (urusan) kaya gitu mah nggak seberapa,” ucapnya sambil berkaca-kaca.

Valencia bersama anak-anak dampingan RHI Semarang sesaat sebelum meniup lilin pada acara ulang tahun ke-2 RHI Semarang. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Dia kemudian memutuskan untuk memulangkan jenazah terlebih dahulu. Benar saja, Valen bercerita, Tuhan mengganti uang pengeluaran itu berlipat ganda.

Itu hanya satu dari beberapa “keajaiban” yang Valencia ceritakan. Memang terkesan magis, tapi dalam kasus yang dialami Valencia, hal itu nyata terjadi.

Saat ini, selain mengurus rumah singgahnya, Valencia aktif sebagai orang berpengaruh di media sosial. Dari situlah dia dapat hidup dan menghidupi yayasannya yang dinamai Valencia Care.

Duh, inspiratif banget ya! Tetap semangat menjadi filantropis, Kak Valen!

Bagi kamu yang pengin berdonasi ke RHI, ikuti media sosialnya di @rumahharapanindonesia. Di sana sudah tertera nomor rekening resmi dari RHI. Kalau pengin memberikan sumbangan berupa barang, kamu bisa memaketkannya atau mengirimkannya langsung ke cabang-cabang RHI yang ada.

Sobat Millens yang membutuhkan bantuan dan pengin jadi anak dampingan, bisa langsung mendaftar ke cabag-cabang RHI terdekat. Namun, kamu perlu menghiraukan syarat-syarat berikut. Pertama, penyakit yang diderita nggak menular. Kedua, berumur 0-17 tahun dan terakhir termasuk dalam pasien BPJS kelas 3 atau berasal dari keluarga kurang mampu.

Kalau kamu termasuk dalam kategori tersebut dan kini sedang menjalani pengobatan di luar kota, langsung saja ke RHI, ya. (Ida Fitriyah/E05)