Dari Sampah, Komunitas Seangle Semarang Belajar dan Berkarya

Dari Sampah, Komunitas Seangle Semarang Belajar dan Berkarya
Falasifah, Presiden Komunitas Seangle Semarang. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Meskipun nama komunitas ini berbau laut, tapi Seangle Semarang nggak hanya fokus ke sampah laut saja. Mereka memiliki tiga kegiatan utama yang menyasar masyarakat di hulu dan hilir dalam mengatasi sampah. Penasaran?

Inibaru-id – Visi misi Seangle Indonesia menarik perhatian Falasifah, Mahasiswi tingkat akhir Jurusan Kimia, Universitas Diponegoro Semarang. Kegiatan yang tadinya hanya berpusat di Palu, dia adaptasi dan terapkan di Semarang dengan mendirikan Komunitas Seangle Semarang. Jadi, komunitas Seangle Semarang merupakan turunan dari Komunitas Seangle Indonesia.

Nama Seangle terbentuk dari dua kata yaitu sea atau laut dan angle atau sudut pandang ini membawa visi Indonesia yang ramah lingkungan dan bebas sampah dengan masyarakat yang berwawasan lingkungan. Dengan prinsip sosial, inovatif, dan eksperimental, Seangle Semarang berusaha mengajak masyarakat untuk lebih peduli dengan permasalahan sampah di Indonesia.

Meskipun komunitas ini baru berusia 1 tahun, komunitas ini sudah memiliki desa binaan. Setelah melakukan berbagai survei, Desa Mangkang Kulon menjadi desa binaan komunitas ini. Bahkan desa ini kini menjadi desa percontohan pilah sampah di Semarang. Keren kan?

Rupiah(RumahPendidikanSampah)

Kegiatan Rupiah (Rumah Pendidikan Sampah), salah satu kegiatan Komunitas Seangle. (Dok. Komunitas Seangle)

Kegiatan utama Seangle Semarang yaitu Seaschool, Rupiah (Rumah Pendidikan Sampah), dan Up-cycling. Seaschool diadakan di beberapa sekolah dasar di Semarang. Kegiatan ini memberikan edukasi kepada anak-anak tentang pemilahan sampah yang benar.

“Sebenarnya permasalahan persampahan di Indonesia itu adalah pemilahan sampah. Ketika orang Indonesia itu sudah bisa memilah sampah dengan benar, permasalahan sampah di Indonesia sebenarnya udah selesai,” ungkap Falasifah, Presiden Seangle Semarang.

Tapi nggak hanya berhenti di penyuluhan saja, nih, Millens. Sifa, panggilan akrab Falasifah dan kawan-kawan juga memantau sekolah-sekolah yang telah mendapatkan peyuluhan. Indikator keberhasilan program ini tentu saja dilihat dari perilaku anak-anak setelah mendapatkan penyuluhan.

Program yang kedua yaitu Rupiah (Rumah Pendidikan Sampah). Program ini juga menyasar anak-anak. Bedanya dengan program seaschool, program ini mewajibkan anak-anak untuk membawa sampah dari rumah. Sampah-sampah itu kemudian diubah menjadi ekobrik.

pembuatanekobrik

Pelatihan pemanfaatan sampah plastik menjadi ekobrik. (Dok. Komunitas Seangle)

Berbeda dengan dua program di atas, program up-cycling fokus ke masyarakat dewasa terutama ibu-ibu. Program ini berusaha mengajak dan mengajarkan kepada ibu-ibu untuk memanfaatkan sampah menjadi barang yang bernilai jual. Barang-barang yang sudah diproduksi masyarakat Mangkang Kulon berupa batik mangrove, kaligrafi dari bungkus rokok, dan tas dari plastik.

Selain tiga kegiatan utama tersebut, Seangle Semarang juga terbuka pada berbagai komunitas yang memiliki visi yang sama. Kolaborasi forum rumah hijau. Kolaborasi dengan komunitas lain.

Kini Seangle Semarang sedang mengkaji dan merumuskan untuk membuat program berupa social intrepeneur. Program ini nantinya diharapkan menjadi wadah masyarakat untuk menjual barang buatannya.

Nah, Millens bisa juga lo bergabung menjadi zerois ranger di Seangle Semarang. Yuk kurangi penggunaan plastik demi lingkungan! (Dyana Ulfach/E05)