Nggak Sekadar Tempat Makan, Bayu Juga Jadikan Bocor Alus sebagai Galeri Barang Antik

Berawal dari hobi mengumpulkan barang antik, Bayu Arya Setiawan menggabungkan konsep kafe dengan toko barang antik. Hasilnya, pengunjung bisa nongkrong sekaligus membeli barang antik di sana.

Nggak Sekadar Tempat Makan, Bayu Juga Jadikan Bocor Alus sebagai Galeri Barang Antik
Bayu Arya Setiawan, pemilik Kafe Bocor Alus. (Instagram/Bocor Alus)

Inibaru.id – Mendirikan usaha kuliner bisa dibilang gampang-gampang susah. Kalau nggak nekat dan berani bereksperimen, sangat sulit menjadi tentu usaha kuliner tersebut akan sulit bertahan. Itulah yang didengungkan Bayu Arya Setiawan, kolektor barang antik sekaligus pemilik Kafe Bocor Alus.

Sebelum menjadi pebisnis kuliner seperti sekarang, Bayu menekuni profesi sebagai kolektor sekaligus penjual barang antik. Hobi tersebut dilakoninya sejak 1999. Dia biasa berburu barang antik ke berbagai kota di Jawa.

Waktu berlalu. Keinginan menjangkau konsumen yang lebih luas mendorong lelaki kelahiran 19 April 1977 tersebut untuk mencoba mendirikan usaha kuliner sekaligus memajang barang antik kepunyaannya. Nah, dari situlah Kafe Bocor Alus berdiri pada 2017. 

Berbeda dari kebanyakan kafe yang mengusung konsep kekinian, Bocor Alus justru sukses merebut hati konsumen dengan konsep 1980-an. Di kafe tersebut, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan benda-benda lawas. Nggak hanya dipandang, pengunjung juga bisa membeli barang itu.

“Saya pengin menarik konsumen dengan cara yang berbeda. Kalau di tempat lain mereka hanya bisa melihat-lihat, di sini mereka bisa makan sekaligus berfoto dan membeli barang antik tersebut,” ujar Bayu kepada Inibaru.id.

Tanpa Wi-fi

Bayu mengaku nggak ingin latah mengikuti strategi bisnis kebanyakan kafe kekinian yang menjamur saat ini. Dia enggan menambah fasilitas modern seperti wifi. Menurutnya, konsep tersebut nggak memberi penyegaran bagi generasi millenial.

Ketimbang menuruti selera pasar, dirinya bersikukuh konsumenlah yang mengikuti seleranya.

“Saya lahir sebagai generasi 80-an, jadi tempat ini menjadi representasi diri saya. Pada tahun tersebut, belum ada media sosial dan komunikasi langsung bisa mengakrabkan orang-orang. Selain itu, orang senang bernostalgia, jadi itu juga yang mendorong saya membuat kafe dengan konsep ini,” tegasnya.

Bayu juga sengaja memilih lokasi kafe yang cukup jauh dari perkotaan. Ini dilakukannya untuk memberdayakan anak muda setempat agar mereka memiliki penghasilan. Wah!

Menjalani bisnis kuliner lebih dari setahun, Bocor Alus kini telah memiliki sekitar 20 karyawan. Bayu berpesan, agar bisnis kuliner tetap eksis, tempat itu harus memiliki karakter yang unik.

“Bikin yang unik dan nggak biasa. Kalau bisa berbeda, kenapa harus sama?” pungkasnya.

Hm, benar juga ya. Sobat Millens ada yang pengin meniru strategi bisnis ini? (Artika Sari/E03)