Cara Olly Oxen Menjadi Band Muda Produktif

Cara Olly Oxen Menjadi Band Muda Produktif
Personel Olly Oxen. (Supermusic.id)

Sebagai band muda, Olly Oxen bisa dihitung produktif dalam merilis karya. Apa yang menjadi cara mereka untuk terus produktif?

Inibaru.id – Kalau kamu orang Semarang dan pencinta musik rock, pasti nama Olly Oxen sudah nggak asing, kan, Millens? Band yang berdiri sejak 2016 ini bisa dihitung produktif dalam berkarya. Terhitung mereka sudah memiliki tiga rilisan karya, yaitu album pendek (EP) Bad Mantra (2017), Single "To be Honest I’m a Liar" (2018), dan yang teranyar adalah album penuh pertama mereka Mahiwal ‘o Ndes yang dirilis pada Maret 2020 lalu.

Selama empat tahun karier mereka, sudah 13 lagu ditambah satu lagu versi akustik yang mereka rilis. Lalu apa yang menjadi cara mereka untuk bisa terus produktif? Apalagi, keempat personel Olly Oxen bukanlah musikus penuh-waktu dan memiliki projek musik lain di luar Olly Oxen. Mereka memiliki kesibukan selain bermusik.

Untuk membagi waktu antara bermusik dan bekerja, mereka mengaku memilih pekerjaan yang lebih fleksibel dan nggak terikat. Hal ini dibutuhkan untuk membantu mengatur waktu agar tetap bisa berkarya.

“Dari awal emang kita nyari pekerjaan yang tidak mengganggu kita dalam berkarya,” ucap Olly Oxen dalam pesan singkat, Senin (28/4).

Para personel juga memiliki selera musik yang berbeda-beda. Hal ini menurut mereka malah menjadi hal yang mengasyikkan karena mereka memiliki referensi yang banyak dalam menciptakan karya. Hal ini terlihat di lagu-lagu mereka yang bernuansa rock, grunge, sedikit groove, dan terasa gaya hip-hop di beberapa lagunya, seperti “Mr. Dunnowattudu” dan “To Be Honest I’m a Liar”.

Lagu
Lagu "Mr. Dunnowatudu" dan lagu-lagu lainnya dapat kamu nikmati di kanal youtube OllyOxenOfficia. (Grid.id)

“Proses kreatif mengalir begitu saja, memaksimalkan proses kapasitas SDM kita masing-masing dalam berproses,” tulis Olly Oxen ketika ditanya perihal proses kreatif. “Kita berusaha sebisa mungkin konsisten untuk terus berkarya, cuman tidak ditargetkan. Kita jalan apa adanya,” tambah mereka.

Berusaha sekuat tenaga dengan potensi yang dimiliki akhirnya memang terlihat dari jumlah karya yang mereka rilis. Dengan semangat seperti itu juga  mereka nggak memedulikan adagium “Semarang kuburan seni” yang biasanya membuat anak muda patah arang untuk terus berkarya. Bagi mereka Semarang memiliki potensi yang luar biasa di bidang kesenian, hanya saja memang kurang mendapatkan sorotan.

Hal lain yang mereka sayangkan adalah perlakuan pihak penyelenggara kegiatan seni atas para pekerja seni yang dirasa kurang baik, terutama untuk urusan upah. “Mungkin itu yang salah satu problem yang menghambat para pekerja seni untuk tetap bertahan dalam berkarya,” tulis mereka.

Ketika ditanya perihal agenda yang akan mereka lakukan setelah wabah Covid-19 selesai, mereka menjawab “Kali ini kami jawab surprise. Tunggu aja kelanjutan dari kami hehe.”

Hm, kira-kira apa lagi yang akan mereka lakukan, ya, Millens? (Gregorius Manurung/E05)