Berusia 100 Tahun, Kakek Pemulung Ini Kuasai 5 Bahasa!

Seorang kakek yang bertambah usianya membuatnya menjadi semakin cerdas dan menikmati kehidupan.

Berusia 100 Tahun, Kakek Pemulung Ini Kuasai 5 Bahasa!
Bagaimana bisa seorang kakek berusia 100 bisa menguasai 5 bahasa? Penasaran? Simak artikel berikut.(Foto:Backchina.com)
1k
View
Komentar

Inibaru.id - Banyak orang  berpikir jika mereka yang sudah lanjut usia biasanya mengalami penurunan kemampuan berpikir ataupun daya ingat. Tak hanya membuat mereka kesulitan untuk beraktifitas, penurunan kemampuan otak ini juga memicu masalah pikun yang cukup parah.

Hanya saja, kondisi ini ternyata tidak berlaku bagi seorang kakek bernama Mbah Ujang. Bagi beliau, bertambahnya usia berarti bertambahnya pengalaman yang membuatnya menjadi semakin cerdas dan menikmati kehidupan.

Jika kita melihat sosok Mbah Ujang, kita tentu tidak akan menyangka jika usianya ternyata sudah  100 tahun.  Mengingat profesinya yang menjadi pemulung dari daerah Yogyakarta, kita juga tidak akan menyangka jika Mbah Ujang ternyata memiliki kemampuan menguasai 5 bahasa.

Tak tanggung-tanggung, selain Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa yang kerap ia gunakan dalam percakapan sehari-hari, sang kakek ternyata juga menguasai bahasa lain seperti bahasa Medan, dan bahasa asing, tepatnya bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Jepang.

Cukup banyak orang yang bertanya-tanya bagaimana bisa sang kakek menguasai bahasa sebanyak itu. Usut punya usut, kemampuan berbahasanya ini justru di dapatkan dari pengalamannya saat hidup di era kolonial. Mbah Ujang sendiri masih ingat kapan ia mulai belajar banyak bahasa, yakni tepatnya saat usianya 28 tahun. Di usia tersebut, ada orang Jepang yang mengajaknya merantau. Ia pun menyetujui ajakan itu dan akhirnya hidup sebagai juru masak, tukang cuci, hingga tukang jaga mobil.

Pengalaman Hidup

Bertahun-tahun merantau dan meninggalkan keluarganya di Jakarta, Mbah Ujang mengalami berbagai pengalaman hidup, termasuk saat-saat menyedihkan di masa penjajahan Jepang dan Belanda. Ia menganggap semua pengalaman buruk ini justru sebagai motivasi baginya untuk mengembangkan kemampuan berbahasanya.

Menurut mbah Ujang yang kini menggelandang di Yogyakarta sejak tahun 1971 ini, belajar bahasa itu mudah. Baginya, asalkan kita mendengarkan kata-kata dari bahasa asing berkali-kali, lama-lama juga akan mudah memahami artinya.

Jika orang lain yang menguasai banyak bahasa akan menggunakannya sebagai kelebihan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar, Mbah Ujang ternyata memilih untuk berprofesi sebagai pemulung karena berpikir jika profesi ini tidak membuatnya terikat dengan materi.

Pria  yang  kadang singgah di rumah kawan-kawannya untuk menginap ini tidak tertarik untuk mengumpulkan harta dan justru memilih untuk menikmati kehidupannya yang sederhana ini sebagai anugerah yang luar biasa. Baginya, hidup ini tentang sabar dan nerimo.

Pria yang ternyata berasal dari Brebes ini berpikir jika untuk urusan rezeki, ia percayakan padaTuhan yang mengaturnya. Ia pun hanya berusaha untuk bekerja sebaik mungkin dan tidak pernah takut sekali pun jika nantinya tidak bisa makan. Selama hidup menggelandang dan menjadi pemulung ini, ia selalu saja mendapatkan kardus, plastik, ember pecah, dan berbagai barang lainnya yang ia butuhkan. (AS/IB)