Bertemu Mbah Syamsuri, Generasi Terakhir Penabuh Kentrung Demak

Bertemu Mbah Syamsuri, Generasi Terakhir Penabuh Kentrung Demak
Mbah Syamsuri sedang memainkan Kentrung Demak di Panggung Kahanan 5. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Mbah Syamsuri bukan sekadar seniman Kentrung Demak. Dia adalah generasi terakhir seniman Kentrung dan sudah menekuni ini selama 50 tahun.

Inibaru.id – Setelah menyaksikan langsung kesenian Kentrung di Panggung Kahanan edisi kelima pada Rabu (13/5), saya berkesempatan berbincang dengan Mbah Syamsuri. Dia adalah generasi terakhir yang masih aktif menjadi seniman Kentrung.

Ketika kami bertemu, Mbah Syamsuri masih terlihat segar dan bersemangat. Ketika berbicara pun Mbah Syamsuri masih lancar dan suaranya jelas terdengar. Padahal, Mbah Syamsuri ini sudah berumur 70 tahun, lo, Millens.

“Saya main seni Kentrung ini sejak tahun ’69. Saya masih sekolah SR zaman dulu,” ucap Mbah Syamsuri. Mbah Syamsuri mempelajari seni bertutur ini dari bapaknya. Setelah ayahnya mulai nggak memainkan Kentrung, Mbah Syamsuri mulai mempelajari seni bertutur ini.

Terhitung sudah 50 tahun Mbah Syamsuri menjalani hidup sebagai seniman Kentrung yang juga disebut sebagai “penerbang” karena bermain Kentrung sering disebut sebagai “terbang”.

Pada awalnya, Mbah Syamsuri nggak menguasai banyak cerita untuk dipentaskan. Hal ini menyebabkan durasi bermainnya tidak terlalu lama. Seiring berjalannya waktu, dia mulai menguasai lebih banyak cerita dan bisa membawakan cerita selama tiga jam non-stop, lo, Millens.

“Terus lama-lama, bisa setengah malam. Dari jam 9 sampai jam 12 malam,” ucap Mbah Syamsuri.

Mbah Syamsuri yang sudah berusia 70 tahun masih terus menekuni kesenian Kentrung Demak. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Mbah Syamsuri yang sudah berusia 70 tahun masih terus menekuni kesenian Kentrung Demak. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Setelah Mbah Syamsuri, nggak ada lagi yang menekuni kesenian Kentrung ini. Menurut pengakuan Mbah Syamsuri, hal ini bukan karena nggak ada lagi yang memelajari Kentrung. Mbah Syamsuri mengatakan bahwa banyak anak muda yang mempelajari Kentrung di Demak.

Namun, mereka nggak melanjutkan menjadi seniman Kentrung. Hal itu menyebabkan trah Kentrung berhenti di Mbah Syamsuri. Menurut Mbah Syamsuri, mereka nggak melanjutkan menjadi seniman Kentrung karena kurang percaya diri. Hal ini karena penanggap (sebutan penonton Kentrung) nggak hanya orang dari desa.

Mbah Syamsuri mengaku pernah diajak untuk tampil di depan mahasiswa kesenian dan orang-orang baru yang nggak dia kenal. Untuk menemui orang baru, apalagi yang berlatar belakang akademis bisa membuat gugup, ya, Millens.

Mbah Syamsuri sangat berharap bahwa seni Kentrung bisa terus dilestarikan oleh generasi muda. Hal ini karena seni Kentrung nggak memiliki lembaga pendidikan resminya. Karena ini juga Mbah Syamsuri nggak bisa lagi melanjutkan menjadi penerbang, orang-orang bingung akan belajar ke siapa.

“Jangan sampai punah, kalau punah itu eman-eman, karena regenerasinya belum ada,” ucap Mbah Syamsuri. “Pokoknya saya masih seger, ya terus jalankan terus,” pungkas Mbah Syamsuri.

Bagaimana, kamu tertarik untuk melestarikan kesenian tradisional Indonesia ini, Millens? (Gregorius Manurung/E05)